Main ‘Monarki-monarki-an’ bareng Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire, Romantisme Sejarah yang Salah Arah

Main 'Monarki-monarki-an' bareng Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire, Romantisme Sejarah yang Salah Arah

Main ‘Monarki-monarki-an’ bareng Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire, Romantisme Sejarah yang Salah Arah

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Baru-baru ini, dunia dikejutkan dengan pemberitaan terkait mundurnya Pangeran Harry, Duke of Sussex, dari kerajaan Inggris dengan alasan ingin mandiri secara finansial dan memulai hidup yang baru dengan sang istri.

Tak mau kalah, Indonesia juga dihebohkan dengan pemberitaan mengenai kerajaan. Bukan Kesultanan Jogja atau Surakarta, melainkan Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire.

Keraton Agung Sejagat dipimpin oleh seorang Raja yang bernama Toto Santoso Hadiningrat dan sang permaisuri Kanjeng Ratu Dyah Gitarja alias Fanni ini, membuat selera humor masyarakat Indonesia tak pernah padam.

Pasalnya, Keraton Agung Sejagat hanyalah kerajaan fiktif dan dibuat-buat sendiri, atau main kerajaan-kerajaan. Dan yang paling menggelikan dari semua ini tak lain dan tak bukan adalah pelemahan KPK telah terealisasi ketika gagal menggeledah kantor DPP PDIP titah sang raja.

Toto Santoso mengatakan dalam sebuah deklarasi di keratonnya yang belum selesai dibangun, bahwa Keraton Agung Sejagat merupakan suksesi Majapahit yang muncul setelah 500 tahun akibat berakhirnya sebuah perjanjian antara Majapahit dengan dunia barat.

Toto Santoso menegaskan bahwa kekuasaan kerajaannya mencakup seluruh dunia. Tak tanggung-tanggung, ia berseloroh bahwa markas besar Departemen Pertahanan AS, Pentagon, adalah miliknya, bukan milik Amerika. Dan juga bahwasanya PBB beserta organisasi dibawahnya merupakan kelengkapan kerajaan.

See? Orang waras mana yang gak ketawa, ha?!

Belum diketahui apa motif dari Toto Santoso menciptakan kerajaannya, saat ini, ia bersama permaisurinya tengah menjalani pemeriksaan oleh pihak kepolisian.

Belum lepas publik dibuat terpingkal-pingkal, kita kembali dibuat menggaruk-garuk rambut yang tidak gatal.

Muasalnya adalah ada lagi nih, yang main kerajaan-kerajaan. Di kota Bandung, terdapat Sunda Empire-Earth Empire, yang dipimpin oleh seorang Grand Prime Minister. Wedaaannnn!

Sunda Empire mengklaim dengan gagahnya bahwa mereka mengendalikan dunia dari titik 0.0 sebagai mercusuar dunia, yang tak lain berada di Bandung.

Dan anehnya pula, meski berbeda lokasi, namun ada satu pola kemiripan antara Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire, keduanya sama-sama berkeyakinan bahwa masa pemerintahan dunia telah berakhir 2020, dan merekalah yang berhak mengatur dunia dalam payungan kerajaanya.

Untuk Sunda Empire sendiri, bentuk ‘pemerintahanya’ seperti semi monarki, dimana yang menimpin adalah seorang Grand Prime Minister, dan untuk wilayah Indonesia, dipimpin oleh seorang gubernur jendral.

Romantisme dan Nostalgia Salah Arah

Sebagai warga Indonesia yang baik nan santuy, saya akan mengedepankan ‘asas praduga ah sudahlah’ menyikapi fenomena kerajaan-kerajaan ini.

Melihat dari latar belakangnya, keduanya sama-sama berdalih bahwa mereka adalah suksesi dari kerajaan-kerajaan besar di Nusantara.

Keraton Agung Sejagat lewat jalur Majapahit, sementara Sunda Empire melalui kerajaan Sunda kuno.

Saya menduga kuat, kedua pemimpin kelompok ini merupakan penikmat sejarah yang tidak utuh, jauh dari nilai-nilai historis secara akademis, dan lebih banyak meyakini mitos-mitos nan klenik yang turut menghiasi perlegendaan kisah-kisah kerajaan-kerajaan Nusantara. Para penganut mitologi yang kuat.

Sebuah nilai-nilai historis sebenarnya akan dengan mudah luntur, manakala tak bisa memilah antara realitas dan ambiguitas, dan ini terlihat dari kemunculan dua kerajaan fiktif.

Sebenarnya tak ada yang salah dengan merefleksikan nilai-nilai leluhur dalam kehidupan. Hanya saja, pengartian sejarah yang begitu harfiah akan berbenturan dengan perkembangan jaman yang juga kontemporer.

Baca Juga: Sebuah Paranoia; Eskalasi AS-Iran yang Meninggi, Berpotensi Perang Dunia ke-3? Perang Dunia Ndasmu!

Mereka lupa atau mungkin tak memahami, bahwa kebangkitan atau suksesi dari kerajaan-kerajaan Nusantara telah terjadi pada tahun 1945 silam, tepatnya ketika pagi hari, pada tanggal 17 Agustus, Soekarno Hatta memproklamirkan kelahiran suatu bangsa di wilayah Nusantara, yaitu Indonesia.

Telah terjadi konsesus, ketika kerajaan-kerajaan yang ketika itu–bahkan sampai saat ini masih eksis, untuk ikut bergabung dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ini artinya, latar belakang dari berdirinya dua kerajaan fiktif tersebut, telah diimplementasikan dengan baik. Baik dalam artian mampu membagi perspektif terhadap dinamika dan kenyataan global.

Tapi satu hal yang bagi saya tetaplah terasa lucu. Entah bagaimana caranya, mereka sama-sama menganggap berhak membawahi dunia dengan alasan kedigdayaan kerajaan-kerajaan lampau. Yang dimana, kerajaan-kerajaan Nusantara dahulu, tak ada yang menguasai seluruh bumi. Masih ada Imperium Britania Raya, Kesultanan Ottoman, dan Kekaisaran Mongol yang sempat tak mampu menginvasi Jawa kala itu.

Tapi, ah sudahlah~

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.