Lucu-lucuan di Tengah Pandemi: Gerakan Anarko dan “Ketua”-nya yang Maling Helm

Lucu-lucuan Ditengah Pandemi Gerakan Anarko dan Ketua-nya yang Maling Helm

Lucu-lucuan Ditengah Pandemi: Gerakan Anarko dan “Ketua”-nya yang Maling Helm

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Kami sepertinya belum bosan memulai tulisan kami dengan sebuah ungkapan yang bagi kami relate dengan kejenuhan di tengah karantina diri. Katakanlah, “hiburan”, “lelucon”, ataupun, “pembodohan”.

Karena memang, di tengah pandemi seperti sekarang ini, kita memang disuguhkan oleh banyak “komedi” tanpa harus menonton film-film komedi itu sendiri.

Kita hanya cukup mengikuti perkembangan situasi yang terjadi, selain daripada covid-19 tentunya.

Kita bisa mengambil contoh soal, beredarnya sebuah video yang memperlihatkan seorang pemuda cungkring, bertelanjang dada, dan ber-tatoo-kan huruf A (red: bukan A-nya Avengers karena orang yang dimaksud jelas bukan Captain America ataupun Iron Man) Entah mengaku atau “dipaksa mengakui” sebagai seorang ketua dari gerakan Anarko Sindikalis dengan kode, “A1”, yang juga mengungkap tujuan kelompok mereka yaitu mengubah tatanan dunia baru tanpa pemerintahan.

Kami malah sempat berimajinasi bahwa apa yang diungkapkan “ketua” anarko tersebut dapat membuat para penganut teori konspirasi senang bukan kepalang. Bisa jadi nanti akan ada sebuah plot twist, bahwa dibelakang gerakan Anarko Sindikalis, adalah elite global. Karna premisnya sama, mewujudkan “tatanan dunia baru”.

“Ketua” Anarko Sindikalis yang ditangkap jajaran kepolisian, bernama Pius Laut Labungan, juga telah “berbaik hati” membocorkan skema organisasi para pentolannya, dimana ada Johan atau A2 yang bertugas mencari dana, A3 adalah Andreas Sagala sebagai koordinator lapangan, A4 adalah Siamanaloho yang bertugas (memberi doktrin), dan A1 adalah ia sendiri, sebagai “pimpinan”.

Kami bahkan sempat kehabisan kata-kata. Karna tak berselang beberapa lama, “tawa penonton” pecah memenuhi seisi timeline media sosial.

Memang ada punchline yang tak kalah lucu, yaitu sebuah keterangan yang diberikan oleh pihak kepolisian (belakangan) bahwa “sang ketua”, diakui merupakan maling helm.

Tapi, nih, ya. Yang paling lucu sebenarnya bukan itu. Tapi ya “sang ketua” itu sendiri. Ada sebuah alur cerita yang bobrok dikarenakan riset yang kurang untuk menyelami karakter “ketua Anarko”, dan “anarko sindikalis” itu sendiri. Ada yang tidak match disini. Ada alur yang bertabrakan.

Anarko yang merupakan gerakan anti hierarki, atau anti struktur top and down, bagaimana bisa memiliki “ketua” dan para “petinggi”-nya. Gimana? Apa mereka sudah merubah AD-ADRT nya? Waduh, boro-boro jadi gerakan dari paham anarkisme, malah jadi kayak ormas atau parpol. Nggateli, cuk!

Belum lagi ada kecurigaan dari netizen yang menganggap ini semua hanyalah skenario klise dari aparat. Walaupun kami lebih suka menganggapnya sebagai “lucu-lucuan” di tengah pandemi. Mau gimanapun suntuknya di dalam rumah, humor harus tetap terjaga. Itu sudah prinsipil.

Kenapa sampai ada kecurigaan dari netizen? Ya karena sehari setelah video “ketua” Anarko tersebut viral, muncul pernyataan dari AKBP Jerry Siagian dari Polda Metro Jaya bahwa Pius adalah tahanan mereka sejak 12 April 2020. Ia ditangkap polisi setelah mencuri helm seorang polantas di Semanggi, Jakarta Selatan. Ditambah dengan “kegoblokan” pengetahuan “sang ketua” sendiri soal gerakan Anarko Sindikalis.

Baca Juga: Di Negara Demokrasi, Sebuah Kritik Adalah Keniscayaan

Dan jika di antara kalian ada yang mengacungkan jari dan bertanya, “Thexandria! Saya mau bertanya, bagaimana cara netizen mengungkapkan kritik atau kecurigaan mereka?”, oh tentu, kami akan menjawab dengan arif dan bijaksana, sambil berdehem tentunya!

“Ehem! Dengan meme…”

Ya! Benar, kami melihat bagaimana meme berterbangan di lini media sosial, khususnya Twitter. Ada tulisan “A” atau “A1”, anarko. Ada kaos hitam, anarko. Ada yang bikin graviti, anarko. Ada yang maling helm, anarko. Semuanya serba anarko. Kenapa bukan “Masako”? Oke, itu joke yang cringe abis. Maaf.

Balik lagi ke persoalan Anarko Sindikalis. Jejak paham anarkisme di Indonesia memang terbilang cukup sedikit. Selain daripada terkuaknya gerakan Anarko di Indonesia pada saat mayday tahun lalu.

Sedangkan di kancah internasional, gerakan Anarko Sindikalis memang salah satu gerakan populer yang banyak diikuti oleh anak-anak muda. Di Inggris dan Hong Kong, gerakan Anarko Sindikalis bisa dikatakan adalah yang paling getol hadir ditengah-tengah kesenjangan sosial dan krisis politik.

Mereka memang terkenal sebagai cabang dari pemikiran anarkisme, yang kemudian terbentuk menjadi sebuah gerakan yang nyata. Yang dalam track record-nya, juga ditemukan jejak-jejak kerusuhan. Tapi apakah akan semerta-merta hitam dan putih? Tidak juga.

Di Inggris, kelompok Anarko Sindikalis kedapatan menduduki rumah mewah kosong, agar tunawisma tidak kedinginan di jalan. Di Salatiga, kelompok Anarko juga menggunakan gedung terbengkalai bagi para tunawisma, membentuk ruang diskusi, pasar gratis, dan kolektif pertanian organik, yang berbentuk asosiasi bebas.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.