Litani

Puisi litani hilma anggita

Litani

Oleh Hilma M.A.

Pertemuan; Kepergian

Kita adalah sepasang kekhawatiran Tuhan

yang dipertemukan untuk menjadi

penawar kegelisahan.

Kita dimantra untuk percaya bahwa

sebuah kebetulan bukanlah permainan,

lalu kita percaya.

Kita menjadi bidak yang saling menyangkal

sesama budak, terlena pada igauan rasa

yang berteriak:

            Kita abadi!

            Kita abadi!

            Kita apapun yang adalah api!

Lalu kita mati!

dan pada pilihan antara kembali dan berlari,

kita mengerti:

            tentang raut sedihNya

            tentang dunia dan amarahNya

            tentang pinta dan luka menganga

            tentang jemari dan tarian jari kaki

            tentang reot kasur dan teriakan kabur

            tentang maaf dan harga pelukan

            tentang cara kerja sebuah pertemuan

Kita mengerti kamu

dan aku yang hidup

pada jeda hurufnya.

Dan ini yang terbaik,

katamu.

Dan ini yang terjadi,

kataku.

Tanda biru, kelaku.

Kita berlalu

melewati tanda seru,

abai pada rambu-rambu.

Asumsiku, kamu sandingan:

bercerita tanpa titik,

bersambung pada koma.

Asumsimu, aku sandungan:

dipadatkan dengan titik koma,

diberhentikan pada tada tanya.

Dan, kita berlalu,

lewat rambu-rambu

yang berseru:

lihat tanda biru itu,

ia mencabik harga dirimu! 

Baca Juga: Perjamuan Makan Malam

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.