Lionel Messi adalah Kita, yang Juga Jengah dengan Buruknya Sebuah Sistem

Lionel Messi adalah Kita, yang Juga Jengah Terhadap Dampak Buruknya Sebuah Sistem

Lionel Messi adalah Kita, yang Juga Jengah dengan Buruknya Sebuah Sistem

Penulis Hans Satriyo | Editor Dyas BP

Kebobrokan bukan sebuah ‘barang baru’ dan nampaknya kita mulai bersahabat dengan dialek tersebut.

Thexandria.com – Dua bulan terakhir ini ‘hawa panas’ terus menyelimuti tubuh dari Barcelona FC. Hangat menjadi pembicaraan adalah keinginan mega bintang mereka, Lionel Messi yang menginginkan untuk angkat kaki dari Catalunya. Messi yang tercatat sudah 19 tahun bermarkas di Camp Nou menyatakan bahwa Barcelona semenjak 2015 tak lagi sama. Ditengarai puncaknya adalah saat Barcelona tersungkur dibantai Bayern Munich di babak perempat final Liga Champions dengan skor 2-8. Kekalahan ini bak tamparan keras dan terus menjadi bahan tertawaan para penggemar sepakbola. Kemudian, Barcelona menutup musim 2019-2020 tanpa satu pun piala mampir ke Camp Nou.

Kemunduran dalam hal prestasi ini adalah yang paling kentara. Di tahun ke delapan semenjak ditinggal Pep Guardiola, Barcelona tampak terseok-seok untuk setidaknya mendapatkan satu trophi per-musim. Tidak bisa disangkal bahwa masa saat dipegang Guardiola bagai ‘orgasme’ yang memuaskan para penggemar. Guardiola berhasil membawa pulang 14 piala untuk para Cules. Meskipun setelahnya dalam kurun waktu tujuh tahun mereka tetap mampu memenangkan 15 piala, situasi internal yang berantakan menjadi sebuah pembeda.

‘Dapur’ Barcelona yang Berantakan

Buruknya pengelolaan manajemen Barcelona saat ini yang dipimpin oleh sang presiden klub, Josep Maria Bartomeu merembet kemana-mana. Konflik di tubuh internal ini dikabarkan membuat mundur enam petinggi mereka karena perbedaan pendapat. Panasnya konflik internal ini sempat melibatkan Lionel Messi dengan Eric Abidal, direktur olahraga Barcelona. Abidal menyebut beberapa pemain dianggap tidak serius dalam berlatih dan saat pertandingan. Messi sebagai kapten tidak terima dan menepis pernyataan tersebut bahwa mereka sudah maksimal mencurahkan diri untuk klub.

Josep Maria Bartomeu
Presiden Klub Barcelona saat ini, Josep Maria Bartomeu

Masih terngiang di ingatan para fans betapa memalukannya mantan petinggi mereka, Sandro Rossel saat terlibat kasus pencucian uang, suap dan korupsi. Selain itu, ia juga terlibat dalam penyalahgunaan dana transfer Neymar Jr dari Santos pada saat itu. Kebijakan-kebijakan terkait transfer semasa Bartomeu menjabat dianggap adalah yang terburuk. Semenjak ditinggal Pep Guardiola, beberapa kebijakan transfer Barcelona dianggap ‘asal-asalan’ dan tak memiliki orientasi yang jelas.

Jumlah keseluruhan mencatat ada 33 pemain dibeli dengan mudah tanpa pertimbangan panjang dan beberapa pemain datang dengan status bebas transfer. Yang menjadi persoalan adalah dari sekian banyaknya pemain yang datang, hanya 10 pemain yang dianggap layak bertahan dan kualitasnya optimal.

Baca Juga: Teriak-teriak Soal Feminisme Biar Keliatan Edgy: Sebuah Logical Fallacy

Kebijakan yang serampangan dan terkesan menghambur-hamburkan uang ini juga menyebabkan aspek pembinaan pemain akademi terhambat. Kabarnya Messi meminta manajemen untuk memprioritaskan pemain-pemain akademi ketimbang membeli banyak pemain ‘instan’ untuk memberi kontribusi. Namun, manajemen menolak dan tetap kekeuh menghamburkan dana besar untuk belanja pemain. Perselisihan panas antara pemain dengan sang presiden sempat terjadi karena kebijakan pemotongan gaji sebanyak 70 persen saat masa pandemi. Para pemain dianggap tak senang dengan cara petinggi klub menyampaikan kebijakan pemotongan gaji.

Kasus i3 Ventures juga sempat membuat para pemain geram. Pada saat itu manajemen membayar pihak ketiga untuk mengelola enam akun sosial media resmi Barcelona. Tujuannya adalah memastikan citra dan reputasi klub di tengah pusaran masyarakat. Namun kenyataannya, hal tersebut digunakan sebagai alat propaganda sang presiden untuk melahirkan citra baik. Agenda lainnya adalah melawan pihak yang berseberangan dengan Bartomeu, baik lawan politik dan kritikus.

Rezim Josep Maria Bartomeu jika terus-terusan dibiarkan akan membawa Barcelona ke ambang kemunduran. Kemungkinan terburuk seperti kebangkrutan, nihil prestasi sampai ke pergeseran filosofi-moral klub mungkin saja terjadi. Hal ini yang menyebabkan para suporter turun mendatangi kantor manajemen untuk menunut transparansi kemudian revolusi dalam tubuh internal Barcelona FC.

Setali Tiga Uang Messi dengan Kita

Rumor kepindahan Messi muncul ke permukaan akibat toxic-nya kondisi Barcelona saat ini. Mulai dari Manchester City, Juventus, Inter Milan, PSG sampai Liverpool menjadi destinasi baru untuk karirnya. Kejengahan akan situasi yang semrawut ini setali tiga uang alias sama dengan sebagian besar dari kita—sebagai bangsa Indonesia.

Kebobrokan melalui para elite politik yang membuat kebijakan semena-mena, korupsi yang terorganisir, tidak didengarnya opini rakyat sebagai ‘pemain’ hingga pemakaian buzzer dalam menjaga stabilitas citra baik  kurang lebih sama dengan yang dilakukan Bartomeu.

Baca Juga: Seharusnya, Kita Bisa Banyak Belajar dari Mas Anji

Kebobrokan bukan sebuah ‘barang baru’ dan nampaknya kita mulai bersahabat dengan dialek tersebut. Ditandai dengan degradasi moral besar-besaran yang hal ini berasal dari dalam tubuh negeri kita sendiri. Suara rakyat yang menjadi proyeksi keadaan sesungguhnya cenderung terabaikan, sehingga rakyat mulai kehilangan kepercayaan terhadap para pemimpinnya. Inilah yang menyebabkan negeri kita tak lebih baik dari bobroknya manajemen Barcelona FC. Dan Messi yang kecewa adalah kita sebagai rakyat.

Lalu, apakah kita harus membangun niat untuk ‘pindah’ juga seperti Lionel Messi?

Mustahil sepertinya, kita ini siapa dan punya apa?

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.