Leo Tolstoy: Pergolakan, Akhir Hayat Sunyi

Leo Tolstoy Pergolakan, Akhir Hayat Sunyi

Leo Tolstoy: Pergolakan, Akhir Hayat Sunyi

Penulis Adi Perdiana | Editor Rizaldi Dolly

Terimakasih, Kau telah melakukannya dengat sangat baik

Thexandria.com – Leo Tolstoy adalah seorang penulis besar Rusia yang berhasil menarik perhatian di kalangan barat dengan karyanya yang fenomenal dan mendunia. Namun Tolstoy bukan sekadar penulis, dia adalah seorang filsuf, pengkhotbah, guru, sastrawan, pembaharu sosial, dan orang tua bijak aneh yang suka berjalan tanpa alas kaki di musim panas dan musim dingin. Perjalanan hidup Tolstoy adalah sebuah karya seni yang unik, kisah hidupnya dapat menjadi sebuah plot cerita yang sama peliknya dengan novel-novel yang telah ia tulis.

Nama lengkapnya adalah Lev Nikolayevich Tolstoy, pria asal Yasnaya Polyana, wilayah Tula, Rusia yang lahir pada tanggal 28 Agustus 1828 dari sebuah keluarga bangsawan. Leo Tolstoy memiliki ketertarikan yang sangat besar pada sastra dan etika, ia gemar membaca karya-karya sastra besar asal inggris seperti Laurence Serne dan Charles Dickens, ia begitu menyukai tulisan Jean Jacques Rosseau bahkan memakai liontin bergambar Rosseau di lehernya.

Dilahirkan di rumah milik keluarga yang terletak 200 km dari Moskow. Sejak masih kanak-kanak orang tuanya meninggal dunia sehingga Tolstoy dan keempat saudara kandungnya dibesarkan dalam asuhan bibinya di Toinette, Kazan, bagian barat Rusia. Ia hidup pada masa dimana sedang terjadi tekanan revolusi sosial, dimana orang kaya dari kelompok bangsawan hidup dalam kemewahan dan pesta pora. Sementara kaum petani dan lainnya yang miskin hidup dalam kesengsaraan. Meskipun berasal dari keluarga kaya, ia tidak menjadi angkuh dan ingin dihormati, justru sebaliknya ia dikenal sebagai filsuf moral dan pembaharu sosial.

Tolstoy muda yang tertarik dengan moral dan etika juga tenggelam dalam kebiasaan buruk seperti judi dan berbagai tindakan illegal (tindakan sosial yang tidak patut). Pada suatu waktu Tolstoy menaiki kuda tua yang bernama Raven untuk berjalan jalan. Namun karena itu kuda tua yang lemah dan tidak bisa bergerak maka Tolstoy marah dan mencambuk Raven hingga kondisinya sangat menyedihkan. Seorang pelayan yang melihat kejadian itu sangat takut namun memberanikan diri untuk memohon pada tuannya “Kasihanilah Raven ia sudah tua dan lemah jadi ia tidak akan bisa berlari”. Seketika Tolstoy tertegun dan menyesali perbuatannya, ia memeluk dan menepuk-nepuk Raven dengan lembut.

Pada umur 16 tahun Tolstoy kuliah di Universitas Kazan untuk belajar bahasa, kemudian ia berpindah jurusan dan belajar hukum, pada 1847 Tolstoy memutuskan keluar dari universitas tanpa mendapatkan gelar.

Baca Juga Misteri Anak Gimbal Dieng Di Tanah Dewa Dewi Bersemayam

Meski demikian, latar belakang pendidikan hukum membuat Tolstoy mengerti praktek- praktek kehidupan yang menyimpang. Kaum ningrat, bangsawan kaya yang hidup dalam kemewahan, ternyata tidak selamanya memperoleh semua kekayaan itu dengan cara yang benar. Setelah keluar dari universitas ia pergi ke Yasnaya Polyana untuk mendidik dirinya sendiri dan mengelola tanahnya, ia juga memperbaiki kondisi para pekerja yang mengabdi di tanah pertaniannya. Sejak saat itu ia juga memulai kebiasaan menulis buku harian yang terus berlanjut sepanjang hidupnya.

Masa kanak-kanak Leo Tolstoy dijelaskan olehnya dengan bahasa yang sederhana dalam karya pertamanya yang berjudul “Detstvo” pada 1852 yang memiliki arti masa kanak-kanak. “Otrochestvo” Masa Kecil 1854, dan “Yunost” Masa Remaja 1856.

Pada 1851 Leo Tolstoy pindah ke Kaspia untuk menjadi tentara, ia bergabung dengan kakaknya Nikolai yang merupakan seorang perwira angkatan darat. Tolstoy turut andil dalam kampanye melawan suku-suku asli Kaukasia (sekarang penduduk asli negara Georgia). Ia mengikuti berbagai macam peperangan dan ia juga terlibat dalam perang krimea 1853-1856. Setelah perang Krimea berakhir Tolstoy mengundurkan diri dari dinas ketentaraan.

Kemudian Tolstoy mengembangkan kemampuannya di bidang sastra di St. Petersburg. Melalui minat dan bakatnya yang besar dalam penulisan, Leo Tolstoy memulai aksi heroiknya dengan menyampaikan keluhan-keluhan kaum tertindas dalam karya-karyanya yang luar biasa sehingga ia dipuji puji. Namun ia menolak semua tawaran untuk bergabung dengan kubu intelektualitas manapun, karena ingin sepenuhnya bebas dalam menjalani hidup. Dan sikap ini membuatnya tidak disukai oleh intelek besar. Ia memilih melepas karir kesusasteraannya yang sedang berkembang dan kembali ke lahan pertaniannya.

Setelah ia kembali ke Rusia, Leo Tolstoy  memutuskan bekerja sebagai guru, dia kemudian membuka sekolah di tanah miliknya untuk mengajari anak-anak petani di sana. Hal ini merupakan sebuah bentuk pencarian intelektual yang menyibukkan. Ia bahkan berangkat ke Eropa Barat untuk belajar teori-teori dan pedagogi, lalu mengeluarkan 12 edisi jurnal Yasnaya Polyana 1862-1863 yang berisi tulisan-tulisan seperti ‘Perkembangan dan Definisi Pendidikan’, ‘Siapa yang Harus Belajar Menulis dan Mengenai Apa – Anak-anak Pedesaan Milik Kita dan Kita Anak-anak Pedesaan’ yang telah memutar balikkan jawaban-jawaban umum mengenai hal tersebut.

Dalam ladang pertaniannya yang luas tersebut kelompok orang-orang ini hidup bersama dengan cara swadaya. Keturunan bangsawan ini rela hidup di tengah kaum petani itu bahkan ia juga membebaskan para budak yang bisa ia jadikan sapi perah demi kasihnya pada semua orang. Namun para budak yang ia bebaskan itu justru tetap tinggal dengan tuannya yang baik hati ini. 

Para petani dan bawahannya menyukai Tolstoy, meski mereka menganggap tuan tanah mereka itu gila. “Ketika Anda mendatangi tuan tanah untuk meminta perintah, yang Anda lihat adalah si tuan tanah sedang bergantung terbalik pada sebuah tiang dengan lututnya yang ditekuk, berayun-ayun. Rambutnya terjuntai dan wajahnya memerah. Anda tidak tahu apakah Anda harus terheran-heran atau harus mendengarkan kata-katanya.” Begitulah konon Tolstoy biasa melatih dirinya.

Masa Pernikahan Leo Tolstoy

Leo Tolstoy dan Sofia Bers
Tolstoy dan Sofia

Leo Tolstoy menikah dengan Sofia Andreyevna Bers, seorang gadis muda terpelajar dan memberinya 13 anak. Namun pernikahan tersebut hanya bahagia pada awalnya karena kemudian banyak terjadi pertentangan, Sofia juga menulis buku harian. Kritik dan pendapat mengenaki perilaku satu sama lain mereka tercatat dalam buku hariannya masing-masing. Selama masa awal perkawinan ini ia menulis The Cossacks dan mahakaryanya War and Peace (1862-69) yaitu sebuah novel sejarah dengan tebal lebih dari 1500 halaman, mencakup 580 karakter, baik nyata atau fiksi yang menggambarkan kejadian pada masa pendudukan Napoleon dan kekaisaran Russia pada tahun 1812. Novel itu sekaligus membuktikan bahwa Tolstoy adalah juga seorang ahli sejarah hebat yang dapat melihat sisi-sisi dari sejarah yang tidak disadari orang lain. Tentu semua itu dipengaruhi oleh Tolstoy yang telah menyaksikan betapa mengerikannya pembunuhan dalam peperangan.

Sementara pada tahun 1867 ia menulis Anna Karenina, novelnya yang menjadi karyanya yang paling mendunia, bercerita tentang tragedi kehidupan cinta seorang wanita yg terjebak antara kondisi masyarakat yang miskin dan filosofi kebangsawanannya, mirip dengan kisah Tolstoy sendiri. Meski War and Peace sering disebut sebagai novel hebat, Tolstoy hanya menganggap Anna Kareninalah yang benar-benar novel, karena sebagai sastrawan realis, ia menganggap bahwa sebuah novel harus dapat berfungsi sebagai potret refleksi kenyataan yang terjadi pada kehidupan sosial dan politik masyarakat secara luas, bukan hanya satu golongan saja.

Pada usia 50 tahun Leo Tolstoy yang sejak muda banyak bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan seputar hidup dan masyarakat sekitarnya, ditambah dengan krisis paruh baya dan depresi yang dialaminya akhirnya menemukan jawaban dalam kekristenan. Setelah menjadi Kristen, karya-karya Tolstoy lebih banyak bernuansa religius seperti Confession (1879) yg berisi pengalaman pertobatannya. Selain juga A Short Exposition of the Gospels (1881), What I Believe In (1882), What Then Must We Do? (1886), The Law of Love and the Law of Violence (1908), novel Hadji Murad (1896-1904), novella The Death of Ivan Ilyich (1884), Resurrection (1899-1900), drama The Living Corpse (terbit 1911), selain juga essay What is Art yg menulis tentang tanggung jawab seorang seniman untuk membuat karyanya dapat dipahami oleh banyak orang, yang sehingga seorang seniman juga harus membaur dan tidak hidup di menara gading yang eksklusif dan angkuh. Tolstoy juga banyak berkhotbah, isi khotbahnya banyak berkisar tentang ajaran anti kekerasan dan kesederhanaan hidup.

Meski demikian, Tolstoy sendiri tidak melepaskan kekayaannya dan tidak meninggalkan tanah perkebunannya. Ia terus merasakan kontradiksi dalam kehidupannya dan sangat menderita. Tolstoy mengalami krisis hebat baik secara moral maupun intelektual. Tolstoy juga merasa amat sangat kecewa terhadap sastra, peradaban, dan umat manusia. Ia tidak lagi dapat menahan kekecewaannya sampai ia berpikir untuk bunuh diri. Keharmonisan tidak hadir di dalam dunia yang penuh derita. Yang kuat menginjak yang lemah. Orang berfoya-foya dalam kesia-siaan gaya hidupnya. Ia melihat sekitarnya dengan hati yang berat.

Leo Tolstoy memang dikenal memiliki pandangan tersendiri mengenai kekristenan. Ia mengatakan bahwa banyak teori-teori telah mengacaukan arti pesan Kristen yang sesungguhnya terutama yang terdapat dalam Sermon mengenai gunung. Ia juga dikenal sebagai seorang anarkis dalam hal ketidak setujuannya pada sistem yang otoritarian / pemaksaan kehendak, termasuk jika praktek tersebut terjadi di negara maupun gereja. Dia juga menganggap aristokrasi atau kebangsawanan adalah beban bagi rakyat miskin dan menentang adanya kepemilikan pribadi. Ide-idenya tersebut telah sering membawa konflik antara dirinya dengan pihak pemerintah dan gereja ortodoks di Rusia. Sehingga ia dimusuhi oleh gereja Rusia.

Kemudian lahir gerakan yang disebut “tolstoyisme” dimana seseorang harus melepaskan harta, merangkul orang lain, merasakan kemelaratan, dan menghindari kenikmatan dunia. Sofia istrinya tidak menyukai kehadiran murid-murid Tolstoy di Yesnaya Polyana, akibatnya pernikahan mereka menjadi pernikahan yang mungkin paling menyengsarakan dalam sejarah dunia sastra.

Setelah revolusi 1905, Rusia diliputi ketakutan. Ribuan orang yang memegang teguh keyakinan mereka berbaris masuk penjara, diasingkan, dan dipaksa bekerja keras. Tetapi Tolstoy tetap kebal terhadap penindasan. Ia menulis surat kepada para menteri Kaisar dengan mengaku sebagai penjahat yang sebenarnya dan bertanggung jawab atas mereka yang terpengaruh oleh tulisan-tulisannya yang dilarang. Tolstoy ingin merasakan penderitaan. Keamanan diri mengusik pikirannya. “Tak ada yang bisa membuatku puas dan senang, selain dimasukkan ke penjara. Sebuah penjara sungguhan, kotor, dingin, dan kelaparan. Hal itu akan mengisi masa tuaku dengan kegembiraan dan kepuasan sejati,” tulis Tolstoy. Namun akhirnya ia tetap aman.

Baca Juga Sudah Saatnya Kita Meninggalkan Jokes “Abang Tukang Bakso, Bawa Walkie Talkie”

Ia menganggap keluarganya gila, begitu pula sebaliknya. Sofia istrinya sangat mencintai Tolstoy namun tidak dapat memahami sikapnya. Mengapa seseorang ingin melepaskan uang, tanah, dan hak cipta kesusastraannya? Ketika berupaya pergi dari rumah, Istrinya mengancam akan bunuh diri. Sofia pernah hampir melompat ke bawah kereta api seperti Anna Karenina. Untungnya, ia berhasil dibujuk untuk tidak melakukan itu. Seluruh keluarga Tolstoy menjauh dan memusuhi semua kepercayaan dan ajarannya, kecuali anak perempuannya yang bernama Alexandra yang dijadikan sebagai pewarisnya.

Pada tahun 1910 di tengah malam saat musim dingin, ia berjalan pergi dari keluarganya, meninggalkan surat untuk istrinya dan menjelaskan ia tidak lagi sanggup hidup mewah dan tidak menginginkan apapun selain menghabiskan hari-hari terakhirnya dalam kesunyian dan kesenyapan. Ia mengalami demam dalam perjalanan naik kereta. Di Stasiun Astapovo, ia merasa semakin buruk dan terpaksa turun. Tolstoy menghabiskan jam-jam terakhirnya dengan memikirkan persoalan moral. “Lalu bagaimana dengan petani, bagaimana mereka menemui kematian. Lalu mengapa jika aku pun mati berlumuran dosa…”. Beberapa saat sebelum kematiannya, sembari melihat lurus ke depan, Tolstoy berkata, “Aku tidak melihat jalanku!” Dan kata-kata terakhirnya adalah, “Ada jutaan orang di dunia. Kenapa kau sangat khawatir terhadapku?”

Kematiannya terjadi hanya beberapa hari setelah ia mengumpulkan keberanian untuk meninggalkan keluarganya dan melepas semua kekayaannya dan mengambil sikap hidup sebagai seorang pertapa keliling—suatu pilihan yang telah menjadi keinginannya selama berpuluh tahun hidup. Leo Tolstoy menutup usia pada umur 82 tahun, pada waktu pemakamannya beribu-ribu petani memadati kedua sisi jalan untuk mengantarkan kepergiannya.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.