Lengkara

Lengkara-Hilma Anggita

Lengkara

Oleh Hilma M. A.

Cita-cita

Kau elok.

Adiwarnamu petaka

yang merusak

mengoyak dan porak,

lamun kau dicinta

dipuja dan derana,

kala diucap;

itu mantra Tuhan

tanda perlu syukur

dan akan makmur.

Aku mau jadi Tuhan.

Mengirimmu pada

gerempang yang pergi

menoreh duri dan

tak peduli yang terpatri.

Lalu ia akan mencintaimu,

mensyukuri petakamu,

mendesah pada cabikanmu,

memuja koyakanmu,

mengharap pora-porandamu,

meminta kamu, kamu, terus kamu

lalu mengucap:

ini balasan Tuhan

tanda salah melacur

dan tak bisa kabur.

Terima Kasih

Kemarin aku mati

dan dimakamkan

di rebah ampas kopi.

Langit sebegitu aneh

karena ada Bulan

sekaligus Matahari.

Bincang mereka ialah doa

yang merusak mata,

membakar telinga,

dan membunuh tawa;

sekaligus penyembuh dari

duka dan rasa iba,

juga kemelut yang dirasa.

Tapi kemarin aku mati

dan direbahkan pada makam yang sunyi,

aku diberi kopi dan

kepercayaan diri.

“Untukmu berdebat,

semoga menang dari Tuhan.”

Sumber foto: Alfikrie

Baca Juga: Cerita ‘Surga’ yang Terkonfrontasi

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.