Laron Terbang Dengan Sebuah Kisah

Laron Terbang Dengan Sebuah Kisah

Laron Terbang Dengan Sebuah Kisah

Penulis Adi Perdiana | Editor Rizaldi Dolly

Pernahkan kamu bertanya darimana datangnya segerombolan laron, yang terbang berputar-putar mengitari lampu rumahmu di malam hari. Mungkin saya adalah orang yang pertama kali mengangkat tangan jika diberikan pertanyaan tersebut oleh Ibu guru di ruang kelas.

Tak hanya itu saya juga penasaran sebenarnya darimanakah asal mereka. Mengapa tak pernah kelihatan sarangnya. Padahal jumlah laron sangatlah banyak ketika mereka yang secara tiba-tiba datang dan mengerumuni lampu rumah.

Kemunculannya sering kali mengganggu dan membuat risih karena saking banyaknya jumlah laron yang beterbangan dan kerap menghinggapi anggota tubuh. Serta sayap mereka yang berguguran akan berhambur begitu saja mengotori lantai rumah.

Berdasarkan pengalamann pribadi saya yang penah dibuat sangat jengkel ketika sedang bersantai di balkon rumah namun tiba-tiba di kerumuni oleh segerombolah laron yang entah apa tujuannya.

Mereka terbang mengitari layar laptop, handphone dan lampu rumah yang membuat saya terpaksa harus mengungsi ke dalam kamar.

Namun ternyata dibalik ketidak jelasan tujuan hidup laron yang menggangu saya itu, mereka memiliki kisah perjuangan hidup yang luar biasa loh.

Laron merupakan bentuk metamorphosis tidak sempurna dari rayap. Dalam koloni meraka, rayap tidak memiliki sayap. Namun, beberapa rayap dapat mencapai bentuk bersayap, bentuk ini dikenal sebagai laron atau anai-anai.

Mereka akan keluar dari sarangnya secara berbondong-bondong pada awal musim penghujan. Laron akan muncul ketika senja hingga malam hari dan beterbangan mendekati cahaya.

Lebih lengkapnya siklus hidup rayap dimulai dari telur yang selanjutnya akan berkembang menjadi larva. Larva kemudian akan tumbuh menjadi rayap muda yang disebut Nimfa (nymph). Ketika beranjak dewasa, rayap muda ini akan memilih peran mereka dalam koloni.

Menjadi rayap pekerja, menjadi rayap prajurit, menjadi rayap reproduksi (Alates), nah rayap reproduksi inilah yang akan memiliki sayap dan kita sebut sebagai laron. Namun sayap mereka sangat rapuh, dan akan segera rontok begitu mereka telah menemukan tempat untuk membangun koloni baru.

Jika terpilih menjadi ratu, tubuh laron betina tidak akan ramping lagi dan akan mengalami obesitas, karena tujuan hidupnya hingga ajal adalah bertelur untuk koloni.

Dan hal yang unik adalah ternyata ratu rayap ini bisa hidup hingga 50 tahun pada kondisi idealnya.

Berikut adalah pertanyaan paling sering muncul di pikiran kita semua tentang laron.

Mengapa mendekati cahaya?

Pada saat musim hujan tiba maka sarang rayap akan menjadi basah dan dingin, maka rayap yang telah dewasa dan memiliki sayap akan keluar dan terbang mencari kehangatan. Dan tentunya untuk menemukan pasangan.

Sedihnya laron hanya hidup dalam satu malam. Jika tidak menemukan pasangannya malam itu juga, maka mereka akan mati saat fajar tiba. Sedangkan yang berhasil menemukan pasangan akan mencari sarang baru dan membentuk koloni baru.

Cinta satu malam oh indahnya, gak dapet cinta? Kelar hidup lo.

Setelah telur-telur mereka menetas dan memiliki banyak anak, maka terbentuklah koloni baru. Sepasang laron dewasa tersebut akan menjadi raja dan ratu dari koloni yang baru terbentuk.

Dimana Sarangnya?

Rayap sangat menyukai tempat yang gelap dan lembab namun tetap memiliki suhu yang hangat, sehingga tidak heran lagi jika rayap kerap tinggal di dalam kayu atau mendekati permukaan tanah.

Rayap pekerja akan membuat sarang dengan menggunakan kombinasi antara lain tanah atau lumpur, kunyahan kayu, air liur dan kotoran rayap sendiri.

Sarang rayap berada di dalam tanah hingga kedalaman tertentu dan sering kali bertumpuk-tumpuk meninggi bahkan sampai muncul ke permukaan tanah, bahkan ada pula yang akhirnya membentuk gundukan besar.
That’s why, jarang keliatan ternyata sarangnya ada di dalam tanah.

Apa sih manfaatnya?

Di Indonesia, yang merupakan daerah tropis memiliki hutan terluas didunia, serangga rayap berperan penting sebagai pengurai di hutan tropis tersebut, mereka bersarang dalam tanah terutama dekat pada bahan organik yang mengandung selulosa seperti kayu, tumpukan daun, dan humus.

Meskipun terlihat sederhana. Namun coba kita bayangkan apa jadinya hutan tanpa rayap, maka hutan akan dipenuhi dengan tumpukan daun (serasah) dan akibatnya bisa saja membuat mati penguhuninya yaitu satwa besar lainya karena tidak bisa beraktivitas.

Inilah salah satu peran serangga memberikan keuntungan ekosistem di hutan, bahkan pohon pohon dapat hidup karena daun dibawahnya telah terurai dengan baik.

Baca Juga: Lalat

Namun ketika hutan terdegradasi dan berubah fungsi maka binatang terkecil pun seperti spesies rayap menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dulu yang mereka makan daun mati dan kayu pohon telah berganti pola makan, mereka akan memakan beton, kayu bangunan hingga perabotan rumah tangga bahkan rayap menyerang lahan pertanian dengan merusak tanah pertanian.

Dua rayap yang berbeda jenis kelamin akan menumbuhkan sayap mereka. Mereka harus merangkak keluar sarang, mereka harus terbang, dan mereka harus rela kehilangan sayapnya. Dan setelah itu lembaran baru kehidupan mereka dimulai.

Bagaimanapun, terbang adalah salah satu cara mereka untuk berembang biak, jika langkah ini tidak ada, maka keberadaan mereka akan musnah.

Laron yang terbang berhilr mudik dan dianggap menggangu, dibaliknya terdapat kisah perjuangan hidup yang luar bisa. Tentang cinta dan menemukan pasangan lalu melahirkan keluarga baru, atau mati dan berguguran begitu saja.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.