Lalat

Lalat

Lalat

Penulis @zein_lich | Editor Rizaldi Dolly

Seperti kebanyakan orang-orang miskin rajin begadang seperti saya ini, ketika sudah menginjak dini hari, seisi perut pastinya suka mengadakan pesta dangdutan tanpa lebih dulu mengurus surat izin keramaian dengan saya: yang berkuasa atas tubuh saya sendiri. Sebuah pesta yang tentunya memantik alam bawah sadar saya untuk berkata, “Woy, miskin, makan ngapa!”

Seperti yang saya alami malam ini juga, di jam tersebut saya memutuskan untuk pergi ke dapur dan berharap menjadi chef dadakan. Membuka kulkas: kosong. Merogoh-rogoh rak bumbu dapur: hanya ada lengkuas basi dan kunyit dan ketumbar yang kering kerontang. Sampai pencarian itu berhenti di sebuah lemari kaca yang menempel gemas di dinding, berisi segala macam alat-alat makan.

Sekilas saya melihat beberapa butir telur terbungkus rapi di dalam plastik transparan, di sekat antara barisan piring dan rak kecil sendok. Dan benar saja, itu betulan telur. Telur ayam. Saya sih berharap telurnya Hulk, biar kenyang. Tapi tidak mungkin dong, Rudolfo!

Tanpa ba-bi-bu saya meraup dan membuka plastik tersebut dengan sangat terburu-buru—sebabnya, para juri yang sedang berjoget dan nyawer biduan di dalam perut ini hanya memberi waktu 10 menit untuk saya menyelesaikan masakan. Dan tiba-tiba saja kandung kemih jiwa misqueen saya terasa hangat seperti ingin dibuahi, karena ternyata, 3 butir telur itu busuk dan sedang dipeluk rindu oleh para belatung.

Seketika itu juga para belatung berkata pada saya, “Anda belum beruntung, Saudara!”

Cih! Saudara kau bilang?

“Cepat katakan di mana ibumu yang tidak bertanggung jawab itu?!” Kata saya kepada belatung.

Padahal saya lagi emosi, tapi belatung-belatung kecil itu malah loncat-loncat kegirangan. Karena mereka tak kunjung menjawab, saya dabuk saja ginjalnya dengan sangat kuat. Peduli apa saya tentang hak asasi belatung!

Setelah membersihkan dan memastikan tak ada lagi sebangsa larva menjijikkan di lemari kaca tadi, saya bergegas masuk ke dalam kamar untuk mengambil raket nyamuk lalu mulai berkeliling ke seluruh ruangan yang ada di rumah ini. Meskipun mencari lalat di malam hari sama halnya dengan mencari calon istri yang salihah di tempat prostitusi, tapi saya beruntung punya mata seperti istrinya Naruto: Hinata, yaitu mata byakugan.

Biasanya mata byakugan saya akan aktif dengan sendirinya ketika saya lagi emosi, dan malam ini hal itu kejadian. Lima detik, saya berhasil menemukan si lalat pendosa, hinggap di handuk yang tergantung di kamar mandi. Saya lantas menghampirinya dan terkejut dengan, ucapannya.

“Eh, eh, tunggu dulu, Saudara! Saya bisa menjelaskannya!” Katanya, menghentikan niat saya untuk mendabuk tubuhnya dengan raket nyamuk.

“Apa, hm? Apa!”

“Tenang dulu, Saudara, mari kita bicara di tempat yang nyaman.” Si lalat itu lalu menuntun saya ke ruang tamu. Dan hinggap di sofa empuk favorit saya.

Sialan, permainan macam apa ini? Apa perlu saya buatkan teh hangat untuknya, gitu? Menganggapnya tamu terhormat, gitu?

Saya menarik kursi plastik dan duduk menghadapnya. Ketika saya ingin memulai percakapan, lalat itu mengangkat—entah tangan atau kaki, dan ditempelkan ke mulutnya. “Sstt…!” Katanya.

“Saya sudah lama bercita-cita ingin diwawancari oleh manusia, Saudara!”

“Terus?” Alis saya mengernyit.

“Bisakah Saudara mewawancarai saya sekarang?”

Seketika itu waktu berhenti, suara pikiran saya berebut dan bergantian berucap pada saya; “Sikat sudah, mumpung dia lengah!”, “Jangan dulu, ikutin aja maunya, siapa tau bisa jadi bahan tulisan.”, “Iya, cok, kirim ke Thexandria.com!”, “Jangan cok, nanti kamu disangka gila, ngehalu!”, “Lha, kan penulis emang hobinya ngehalu, cok!”, “Lho, emangnga kamu penulis?”, “Kamu penulis?”, “Penulis?”, “PENULIS?”

Merasa tidak mendapat pencerahan dari suara pikiran. Saya berniat mengambil tawaran itu. Jadi beginilah hasil wawancara saya bersama si lalat, sebelum tubuhnya terburai di raket nyamuk.

Siapa namamu?

“Lalat.”

Pintar. Di mana rumahmu?

Homeless, Saudara.”

Sip. Apa tujuanmu kemari?

“Saya suka bau-bau busuk di rumahmu, Saudara.”

Bau busuk? Coba jelaskan lebih spesifik?

“Kami suka aroma-aroma busuk, Saudara, karena di sana kami bisa menjilat sari dari makanan-makanan bernutrisi. Selain itu, kami juga bisa membuang anak-anak kami di sana.”

Jadi itu alasanmu menelantarkan anak-anakmu di telur busuk milik saya?

“Benar, Saudara.”

Kamu tidak merasa berdosa sudah membuang-buang anak pemberian Tuhan, gitu?

“…”

“…”

….

“Saudara?”

Ya? Hm, sory, ketiduran. Yang terakhir, apa yang kamu rasakan jika tahu anak-anakmu sudah didabuk mati oleh manusia?

“…”

Plakkk…

Tamat.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.