Kubang Politik Elitisme dan Tongkronganisme di Balikpapan

Politik Balikpapan

Kubang Politik Elitisme dan Tongkronganisme di Balikpapan

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Yang buruk diingat sampai mati.

Thexandria.com – Di sebuah kota di teluk timur borneo, dimana ditengah-tengah pusat kotanya, kilang-kilang pengolahan minyak beserta kapal-kapal tanker hilir mudik merajut rupiah untuk negeri—sedang terjadi satu konsentrasi pikiran pada satu hal: politik.

Baliho-baliho bertebaran di tiap simpang jalan, gosip-gosip merambat di gedung, mall, caffee, angkringan, kamar, pantai, melawai.

Hajatan demokrasi, yang dituduhkan tak sepenuhnya demokratis, jadi tajuk dibalik bibir-bibir bau anggur murahan. Jika yang diharapkan adalah meja diskusi, maka kesalahan mutlak bagi para penerkanya. Nyatanya, di tongkrongan itu hanya ada narasi-narasi tunggal, perihal dunia yang hitam putih. Sementara yang lain mengaminkan dengan amarah beserta kecewa. Dipikirnya, keadilan dalam sebuah sistem kekuasaan sesederhana satu ditambah satu sama dengan dua.

Yang buruk di ingat sampai mati. Yang baik mendadak membuat semua amnesia.

Adakah validasi ke dua sisi menjadi landasan berfikir sebelum menentu yang mana haq dan yang bathil? Tentu tidak. Masa bodoh. Yang penting bisa tambah botol satu lagi. Yang muda yang berbahaya, filterisasi hilang entah kemana, yang tidak menenggak bersama dicap anti progresif.

Yang seperti ini, suatu hari akan sangat mungkin mencetak politisi-politisi malas membaca, gemar tertawa, dan bijak didepan kamera semata.

Rimbun-rimbun pepohonan mendadak syahdu bersama semilir angin, membuat siapa saja pasti kantuk dan malas. Tapi tidak untuk mereka yang berpolitik praktis. Mesin partai harus on the top level. Kuat, trengginas, dan solid.

Yel-yel barisan pendukung mungkin saja adalah suara paling gahar—yang mampu menggetarkan bumi, mencabut “gunung-gunung” di kota ini; gunung kawi, gunung guntur, gunung malang, gunung tembak, gunung belah, gunung dub.

Sekelompok pemuda oportunis menyesak diantaranya. Menjejaki hari yang penuh dengan keringat karena harus turun ke jalan, tak mengapalah, pikir mereka, demi sebuah kecerahan masa depan nantinya.

Di lain pihak, seirama dengan mereka yang melingkar menggilir gelas tadi. Secara berkelompok ada orang-orang menyebar agitasi propaganda. Demokrasi. Demokrasi. Demokrasi. Harus lebih dari satu. Jangan pilih jika hanya ada satu.

Gila.

Rasa prihatin harus dialamatkan pada mereka yang terbujuk dengan gaung-gaung keadilan. Oh, sungguh, atas nama masyarakat dan demokrasi itu sendiri. Masyarakat yang mana? Masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada tokoh-tokoh yang rajin telfon sana-sini, pun, ditelfon sana-sini. Demokrasi yang mana? Demokrasi versinya sendiri.

Gila.

Adakah yang sadar bahwa dunia—dalam skala berapapun—adalah tentang mengelabui dan dikelabui? Jangan pesimis. Mari kita realistis. Jawabannya, ada. Namun sedikit. Dan yang membuat ini semakin brengsek, sekelompok kecil orang-orang ini tidak didengar. Que sera-sera. Yang terjadi, terjadilah.

anak balikpapan nongkrong thexandria

Namun ingatlah selalu nasehat dari orang bijak. Jangan melihat dunia hitam putih. Lihatlah bahwa ada celah diantara kedua warna itu, yang bila dicampur, jadilah warna abu-abu!

Itulah warna yang menggambarkan political will sebagian besar dari kita. Finansial, relasi, pride, jabatan, ataupun sekedar honorarium. Abu-abu.

Kota ini secara geografis tidak besar, secara demografis tidak banyak-banyak amat, namun secara sadar, semua hal saling bertautan. Dinding-dinding punya kuping.

Maka bersyukurlah Thexandria memiliki rubrik absurd untuk membuat jejak-jejak menjadi buram. Membuat sebuah artikel jadi tidak ada artinya. Bukan bermaksud mendiskreditkan, hanya tak ingin menyulut ketersinggungan.

Saya jadi membayangkan, apakah yang terbesit di hati orang yang sedang menjadi epicentrum ini?

Risaukah? Takutkah? Marahkah? Atau malah, ikhlas menerima segala yang terjadi sebagai sebuah ketetapan?

Baca Juga Kamala Harris, Wakil Presiden Perempuan Kulit Hitam Pertama Amerika Serikat

Andai saya bisa duduk hanya berdua. Saya akan menanggalkan jubah-jubah kata kiasan. Menjadikannya informasi gamblang. Tapi bukankah kiasan juga adalah bagian dari keindahan?

“Gerbong bapak sudah terlalu sesak. Kasihan yang tak dapat tempat. Bukankah bapak adalah masinisnya?”

“Ada seorang penumpang setia bapak yang merasa memiliki kereta ini. Membuat penumpang baru jadi sulit untuk melihat senyum bapak, karena terhalang dengan pundak penumpang setia bapak tadi, banyak yang risih. Padahal bapak masinis hebat yang baik”

“Jangan tinggalkan mereka yang belum naik kereta ini, pak. Jangan juga kemudian mereka dipaksa masuk, dibuat berjejal. Buatkanlah gerbong-gerbong baru. Semua orang akan nyaman dengan gerbongnya sendiri-sendiri. Dan bapak bisa dengan tenang membawa kereta ini sampai ke tujuan”

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.