Kristen Gray Dideportasi, Waktunya Kita Makin Paham Tren Digital Nomad

Kristen Gray Dideportasi, Digital Nomad Bali.jpg

Kristen Gray Dideportasi, Waktunya Kita Makin Paham Tren Digital Nomad

Penulis Adi Perdiana | Editor Rizaldi Dolly

Eksistensi Digital nomad tidak bisa dihindari.

Thexandria.com – Wisatawan asal Amerika Serikat Kristen Gray membuat cuitan tentang bagaimana dirinya putus asa tinggal di Los Angeles dengan biaya hidup tinggi, dan kesulitan mencari kerja lalu memutuskan pindah ke Bali. Ia menceritakan banyak benefit yang dirasakan selama tinggal di Bali, seperti biaya hidup yang murah, gaya hidup mewah, ramah terhadap queer (identitas seksual minoritas), dan adanya komunitas kulit hitam.

Pada Maret 2020, saat pandemi COVID-19 melanda, rencana Kristen Gray tinggal di Bali hanya 6 bulan gagal. Mereka memutuskan menetap untuk menunggu kondisi membaik, sehingga tetap di Bali sejak saat itu.

Di Bali, Kristen Gray mengembangkan bisnis melalui digital alias online. Ia menjalanani bisnis desain grafis dan menjual e-book seharga 30 dollar AS dan menawarkan diri sebagai konsultan bagi WNA dengan tarif 50 dolar yang ingin hijrah ke Bali di masa Pandemi. Bahkan menyertakan tautan langsung ke agen perjalanan yang bisa mengurus visa perjalanan WNA dan cara masuk ke Indonesia selama pandemi.

Baca Juga Kemampuan Heuristik Kita Bisa Menyebabkan Bias Kognitif

Padahal saat ini Indonesia sedang melakukan pembatasan masuknya WNA sebab kasus pasien positif covid-19 yang tak kunjung turun.

Banyak netizen Indonesia tak terima menganggap Kristen Gray melanggar aturan. Topik ini pun menjadi perbincangan hangat di media sosial. Kemudian menanggapi kasus ini, pihak Imigrasi memanggil Kristen Gray untuk dimintai keterangan, terkait cuitan mengajak WNA pindah ke Bali di masa pandemi yang viral.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, Kristen Grey dijerat dengan tindakan Administratif Keimigrasian berupa pendeportasian (pengusiran) karena diduga melanggar pasal 75 ayat 1 Undang-undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian. Baik Kristen Grey dan kekasihnya dijatuhi sanksi berupa pendeportasian karena menggunakan visa kunjungan untuk keperluan berbisnis atau bekerja di Bali.

Ia juga dideportasi karena cuitan yang mengajak WNA untuk pindah ke Bali saat pandemi bertentangan dengan Surat Edaran Kepala Satgas Penanganan covid-19 Nomor 2 Tahun 2021 Tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional Dalam Masa Pandemi Covid-19. Serta Surat Edaran Direktur Jenderal Imigrasi Nomor: IMI-0103.GR.01.01 Tahun 2021 tentang Pembatasan Sementara Masuknya Orang Asing ke Wilayah Indonesia Dalam Masa Pandemi Covid-19.

Tren Digital Nomad

Kristen Gray Dideportasi, Digital Nomad Bali.jpg
digital nomad – gambar ilustrasi

Digital nomad adalah sebuah istilah di mana seseorang memutuskan untuk bekerja dan menjalani hidup secara lepas dan memanfaatkan teknologi sehingga tidak terikat oleh waktu dan tempat atau secara nomaden. Mereka bekerja di manapun yang mereka inginkan bahkan sembari travelling keseluruh penjuru dunia.

Asia Tenggara merupakan tujuan populer bagi mereka terutama pulau-pulau di Indonesia. Kehadiran Digital nomad membawa dampak ekonomi pada makanan, travel, dan pariwisata selama mereka tinggal dan berwisata di Indonesia. Meski kehadiran mereka sudah lumrah dan menguntungkan, mereka tidak memiliki status hukum untuk bekerja secara digital dan seringkali menghadapi ambiguitas.

Menjadi Digital nomad memang problematis, tentu menyenangkan berpindah-pindah dari satu wilayah ke wilayah lain untuk berlibur, tetapi tetap kerja remote secara online. Dibilang kerja tapi sambil liburan, lha dibilang liburan tapi menghasilkan cuan. Namun di Indonesia, aktivitas seperti ini memang terkesan ilegal sebab tidak ada visa perjalanan jenis ini.

Semakin pesatnya perkembangan digital serta arus mobilitas yang tak terbendung adalah penyebab mengapa Digital nomad ada di dunia ini. Bahkan sangat besar kemungkin kalau tren ini akan meningkat pesat di Indonesia pasca pandemi, karena banyak orang sudah mulai terbiasa dengan work from home.

Ditambah opsi menggiurkan berupa meninggalkan cara kerja kantor yang monoton, gak ketemu bos yang rese, aturan ketat, dan segala macam formalitas lainnya. Oleh karena itu eksistensi digital nomad tidak bisa dihindari. Maka Pemerintah sudah seharusnya membuat aturan khusus untuk para Digital Nomad di Indonesia.

Terkhusus di Indonesia, Bali merupakan surga bagi para Digital Nomad, mereka banyak tinggal di Canggu dan Ubud. Mereka beredar di banyak co-working spaces dengan bermodal sebuah laptop dan internet lalu mengerjakan bisnis dan proyek di luar negeri.

Salah satu bentuk pekerjaan yang populer adalah dropshipping. Menggunakan e-commerce seperti AliExpress untuk mencari barang, menawarkan lewat Shopify, mengincar konsumen di Eropa dan Amerika lewat Facebook atau Instagram kemudian cuan bercucuran hingga miliaran.

Apakah pemerintah sudah atau belum bisa menjaring mereka dalam sisi pajak? Mengingat ada sebuah kontroversi umum dimana seorang Digital nomad bisa menggunakan status mereka sebagai pelancong abadi bermodal visa turis untuk menghindari kewajiban pajak di negara asal mereka tanpa bermigrasi ke sistem pajak negara lain tempat ia tinggal sekarang.

Bisa jadi apa yang dilakukan Gray telah menggambarkan para Digital nomad yang ada di Bali, atau Indonesia, atau di seluruh belahan dunia manapun selama ini, secara teknis ilegal karena bekerja di suatu negara dengan visa yang tidak semestinya. Namun profesi mereka belum tentu ada aturan bakunya, termasuk kewajiban pajak.

Semoga saja kekosongan aturan bukanlah sebuah ajang main kongkalikong kucing-kucingan antara yang berwenang dengan para Digital nomad.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.