KPK, di Antara Senjakala dan Kami yang Berduka

UU KPK

KPK, di Antara Senjakala dan Kami yang Berduka

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Thexandria.com – Beberapa hari terakhir ini rakyat Indonesia dibuat gerah oleh wakil mereka sendiri, padahal wakil-wakil mereka tersebut sangat menikmati dinginnya pendingin ruangan di gedung Senayan.

Bagaimana tidak gerah, setelah membuat DPR begitu superior dengan hak imunitasnya dalam Undang-Undang tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD ( UU MD3), mereka kembali memperkuat diri lewat Revisi UU KPK. Dalam Revisi UU KPK yang telah disahkan, memuat poin yang pada intinya membuat otoritas KPK lemah dalam penegakkan tindak pidana korupsi terhadap para pejabat pemerintahan.

Bagaimana bisa kegiatan pencurian uang rakyat sangat dilindungi di sini?

Banyak penolakan terhadap hal tersebut, berbagai gerakan dimulai untuk membuat dukungan bagi KPK, baik di lini masa maupun aksi massa. Namun gedung DPR seolah “menutup telinga” dari segala aspirasi terkait penentangan UU KPK, pada akhirnya segala kebenaran yang sudah diperjuangkan nihil.

Mengadu kepada presiden pun juga menuai harapan palsu, sebuah tren yang sudah biasa dikonsumsi oleh masyarakat kita. Lalu siapa yang biasa diharapkan? “Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa”, dari Efek Rumah Kaca, saya kira tepat merepresentasikan arah jejak yang bangsa ini sedang tapaki.

Masyarakat sangat bersyukur dengan adanya KPK, karena penegakkan hukum aspek korupsi di negeri ini telah berjalan baik lewat tangannya. Pengungkapan tindak pidana korupsi di lini pemerintahan pun berhasil satu persatu mencuat ke publik.

Jangkauan pemberantasannya bahkan telah merambah sampai ke pemerintahan daerah, tidak hanya di pemerintahan pusat. Hal itu membuktikan keseriusan KPK dalam menghilangkan budaya kotor yaitu mengambil yang bukan hak kita, sebuah pembelajaran berharga secara langsung atau tidak langsung bagi anak cucu kita kelak.

Dalam upaya pemberantasan korupsi, KPK juga melakukan kerjasama dengan Kementrian Dalam Negeri, Kemenristekdikti, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementrian agama untuk mengimplementasikan pendidikan antikorupsi dalam kurikulum pendidikan pada jenjang pendidikan dasar, menengah dan tinggi.

KPK Adalah Rumah!

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Laode M. Syarif mengungkapkan bahwa pengesahan Revisi UU KPK oleh DPR membuat pegawainya sedih. Sebagian besar menangis.

Menurut Laode, KPK sudah menjadi “rumah” bagi para pegawainya. Ketika rumah itu direnovasi dengan segala perubahan aturan yang dibuat tanpa melibatkan KPK, pegawai jadi emosional.

“Pada saat yang sama, karyawan KPK agak gloomy dan terus terang banyak yang menangis karena tiba-tiba rumahnya berubah secara fundamental tanpa menanyakan kepada kami yang di sini,” jelas dia.

Hal ini merupakan suatu kewajaran, karna para pegawai KPK sudah mendedikasikan seluruh tenaga dan pikiranya untuk mengabdi sebagai “dokter yang berusaha mati-matian menyembuhkan kanker yang menggeroti Indonesia”.

Pun dalam pengabdian dan perjuanganya, petugas KPK terus menerus digempur dan diteror baik secara mental bahkan fisik. Kita tentu belum lupa, bagaimana penyidik senior Novel Baswedan menerima bertubi-tubi serangan dan kriminalisasi.

Kejadian emosional dan menyakiti seluruh elemen yang mendukung semangat pemberantasan korupsi itu telah dikenang sebagai, “Cicak VS Buaya” jilid satu dan dua. Puncaknya, Novel Baswedan disiram air keras yang mengakibatkan sebelah matanya harus dioperasi dan kehilangan kesempurnaan penglihatanya.

Yang menjadi ironi adalah, pelakunya belum tertangkap sampai detik tulisan ini ditulis.

TGPF yang telah disodorkan kepada Presiden pun ditolak, lalu Polri membentuk TGPF “versi” Kapolri. Dengan narasi awal, Polri masih mampu menyelidiki kasus tersebut.

Tim gabungan bentukan Kapolri itu mengklaim bahwa proses penyelidikan terus berjalan, serta dalam prosesnya, menggunakan pendekatan scientific investigation. Secara teknis, tim lebih banyak mengandalkan pendekatan investigasi dan dibantu oleh jajaran dari Mabes Polri maupun Polda Metro Jaya.

Tim bentukan Kapolri itu berdiri berdasarkan surat Nomor: Sgas/3/I/Huk.6.6./2019 bertanggal 8 Januari 2019. Tim itu beranggotakan 65 orang. 52 di antaranya anggota Polri, 6 orang dari perwakilan KPK, dan 7 pakar dari luar kepolisian. Tim mengaku memiliki temuan-temuan baru di dalam investigasi, menyimpulkan serta merekomendasikan kepada Kapolri.

Namun hingga kini, pengungkapan kasus Novel masih sebatas utopia.

Kemudian yang menarik dan patut dicurigai, Undang-Undang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang disahkan DPR pada Selasa 17 September 2019 mewajibkan penyidik sehat jasmani dan rohani.

Aturan soal penyidik wajib sehat jasmani dan rohani tertuang dalam Pasal 45A ayat 1.

(1) Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. Berpendidikan paling rendah S1 atau yang setara

b. Mengikuti dan lulus pendidikan di bidang penyidikan

c. Sehat jasmani dan rohani yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter

d. Memiliki kemampuan dan integritas moral yang tinggi.

Tak heran, bila sebagian kalangan menilai, UU KPK juga lagi-lagi menyasar Penyidik senior Novel Baswedan, pasalnya, dampak operasi pemulihan matanya, dapat ditabrakan dengan pasal tersebut.

Baca Juga: Perusakan Buku Merah; Rapor Merah Kredibilitas

Negeri ini sudah sakit, duka yang tak kunjung reda, ditambah dengan pelemahan KPK, seperti telah mencabut sisa-sisa nafas terakhir. Aksi Pemakaman KPK yang dilakukan oleh pegawai dan para aktivis seakan telah menyiratkan kematian satu titik nadir putih bagi bangsa ini.

Asal tau saja, “kematian” KPK, juga merupakan “kematian” bagi separuh jiwa rakyat kecil, yang tak tau lagi dimana para wakilnya. Namun satu hal yang pasti, orang-orang yang masih memiliki nurani, tak kan lelah menemani KPK di senja kalanya.

Meski tertatih, masih banyak rakyat yang lebih memilih ikut “mati” dalam pertempuran. Pun sisanya, menyisakan dan menghidupkan secercah pengharapan Kemurahan Tuhan, agar memberi lagi, “nyawa” bagi KPK.

Maafkan kami, KPK, wakil kami, “membunuhmu”.

Sumber Foto: Zain Sinjay

Share Artikel:

4 thoughts on “KPK, di Antara Senjakala dan Kami yang Berduka

Leave a Reply

Your email address will not be published.