Konfigurasi Kepemimpinan; Negeri Tanpa Nahkoda

Konfigurasi Kepemimpinan; Negeri Tanpa Nahkoda

Konfigurasi Kepemimpinan; Negeri Tanpa Nahkoda

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Bukannya waspada, negeri yang satu ini malah sempat berseloroh seolah kebal, hebat, jagoan!

Thexandria.com – Alkisah di sebuah negeri hiduplah seorang Presiden yang awalnya sangat digandrungi rakyatnya, sebab ia sederhana, kebijakannya beberapa populis, dan yang terpenting, ia begitu merakyat. Dengan framing media yang begitu ciamik, ratusan juta mata terkesima dengan pola kerjanya yang acapkali bersentuhan dengan rakyat secara langsung, turun kejalan membuka dialog dengan rakyat kecil. Bukan main, jelata mana yang tak luluh hatinya?

Pekerjaannya yang memang tak mudah, mesti mengurusi gugusan pulau yang terbentang dari ujung timur sampai ujung barat, rakyat yang mbuandelnya minta ampun, dan conflict of interest yang begitu kentara diantara para elite politik. Mungkin sekali, sang Presiden di negeri tersebut seringkali kurang tidur, dan malah banyak menghabiskan waktu di depan meja kerja, sampai larut dan tertidur pulas—juga diatas meja kerjanya.

Tapi itulah sulitnya menjadi pemimpin, disamping disumpah atas nama Tuhan yang Maha Esa untuk amanah dalam tanggung jawabnya, pemimpin juga harus bisa tegas dalam mengayomi dan menjalankan lokomotifnya.

Sebagaimana Kerajaan, Raja dibantu oleh para patih. Begitupula sang Presiden, ia dibantu oleh para menterinya seperti yang termaktub dalam konstitusinya.

Lima tahun pertama diawal kepemimpinannya, waktu serasa seperti daun yang dihembus angin. Sadar atau tidak, berjalan begitu cepat. Time flies.

Di periode kedua, sang Presiden mengatakan bahwa waktu yang telah berlalu belum cukup untuk menuntaskan cita-cita luhur bagi bangsanya. Oleh sebab itu, ia minta periode selanjutnya!

Karena juga memang, program kerja yang ia tawarkan concern terhadap isu pembangunan. Maka dihampir pelosok negeri, proyek-proyek strategis seperti jalan tol, bandara, pelabuhan, dan lain-lain yang empiris, tercipta untuk membangun mobilitas dan konektivitas perekonomian. Mari kawan-kawan, kita beri dulu tepuk tangan. Meskipun sang Presiden pasti melalukan itu semua tanpa pamrih, tanpa mengemis ucapan, ‘anda hebat’.

Namun… seorang pemimpin ternyata dibuktikan kecakapan dan kepiawannya bukan dalam keadaan yang flat atau berbahagia. Sebaliknya, seorang pemimpin diuji leadership-nya ketika menghadapi masalah. Dan disini, permasalahannya bukan hanya tentang sebuah negeri, namun dunia!

Dunia dilanda kepanikan dan ketakutan. Musababnya, ialah menyebarnya virus yang berevolusi dari menjangkit binatang, kini dapat menular ke manusia. Virus tersebut menghantam dengan cepat ke berbagai penjuru negeri yang lain.

Bukannya waspada, negeri yang satu ini malah sempat berseloroh seolah kebal, hebat, jagoan!

Maka benarlah prediksi para ahli kesehatan dunia, virus tersebut ditetapkan sebagai pandemi, wabah yang melanda seluruh dunia, tak terkecuali, negeri yang dituliskan disini.

Entah siapa yang tahu bagaimana wajah para petinggi negeri tadi—yang sempat melontarkan jenaka yang tak lucu soal virus ini. Merah padamkah wajah mereka? Dan semoga, semoga saja masih tersisa malu di segenap sanubari mereka. Sembari bermuhasabah, sembari intropeksi, sembari menata kembali selera humor.

Kemudian beragam kebijakan yang terkesan ‘terlambat’ bergulir ke seluruh negeri. Mungkin pemimpin di negeri itu kini menyadari pepatah lama yang mengatakan, “lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”.

Biasanya, sebuah sistem yang sudah terbentuk, terlebih sebuah negeri, pasti memiliki sitem hierarki dari atas sampai kebawah. Kita ulangi, dari ATAS sampai keBAWAH. Artinya, dari pemimpin tertinggi, sampai ke tingkat RT. Siapakah pemimpin tertinggi di negeri ini? Ya, Presiden yang diawal kami katakan ‘merakyat’ itu.

Namun dari gawai rakyat, televisi di ruang keluarga, tulisan para jurnalis yang lurus. Ditemukan sebuah ‘keburaman’ hierarki sebagaimana seharusnya—dipatuhi oleh segenap penyelanggara dan pembantu Presiden.

Satu kebijakan dari Presiden dibuat, yang lain mengambil inisiatif sendiri. Satu kebijakan dari Presiden dibuat, yang lain menyusun retorika klarifikasi seolah ‘tafsir’ mereka tentang kebijakan Presiden, pada hakikatnya ‘patuh’.

Baca Juga: Bikin Parno; Data 15 Juta Akun Pengguna Tokopedia Dikabarkan Bocor

Jangan salahkan kemudian, rakyat di negeri tersebut jadi bingung. Mereka kini jadi menerka-nerka, siapa nahkoda dikapal besar ini? Kemana nahkodanya? Sedang badai besar sudah didepan mata.

Gelombang protes pun tak kalah hebat dari gelombang badai yang datang. Rakyat sibuk bertanya, clingak-clinguk mencari nahkodanya, mencari pemimpinya, mencari P-R-E-S-I-D-E-N nya. Yang ditemukan malah menteri-menteri buat aturan sendiri.

Tapi kami percaya, dibalik keriuhan dan tuntutan selama masa berkabungnya bumi ‘di tulisan ini’. Sang Presiden atau sang nahkoda—bagaimanapun pasti memikirkan yang terbaik untuk tidak hanya para penumpangnya, namun juga kapalnya.

Segeralah beranjak dari renunganmu wahai pemimpin! Pergilah kembali ke ruang nahkodamu, kendalikan kembali kapal besarmu! Suruh para pembantumu diam dan mengikuti satu-satunya suara, yaitu suaramu sendiri!

Begitu suara dari langit mengatakan kepada negeri tersebut.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.