Komodo (Nasibmu Kini)

Komodo-Thexandria.com

Komodo (Nasibmu Kini)

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Pembangunan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Super Prioritas bakal diberi nama “Jurassic Park”

Thexandria.com – Beberapa hari belakangan viral foto seekor komodo yang berpapasan dengan sebuah truk pengangkut muatan di kawasan pembangunan wisata Taman Nasional Komodo. Truk tersebut merupakan bagian dari proyek pembangunan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Super Prioritas yang bakal diberi nama “Jurassic Park”. Pulau tersebut nantinya akan disulap menjadi destinasi wisata premium dengan pendekatan konsep geopark di kawasan Loh Buaya, Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo.

Hal ini memantik perdebatan di linimasa terkait pembangunan yang diprediksi akan merusak ekosistem dari primata reptil terbesar di dunia ini. Contohnya akun @margieclemie yang berusaha menenangkan suasana dengan mengatakan bahwa sebenarnya kawasan tersebut sedari awal sudah diperuntukkan sebagai zona pemanfaatan wisata.
Lanjutnya, warganet diharapkan lebih tenang dan jangan khawatir karena pemanfaatan hanya seluas 22 Hektar yang hanya separuh dari SCBD (Kawasan Bisnis di Jakarta Selatan). Sebuah normalisasi yang kerap terjadi dari secuil kata “hanya” kemudian secara perlahan akan sangat berbahaya jika kuantitasnya meningkat dan kata tersebut kembali keluar.

tweet @margieclemie
tweet @margieclemie

Lagi-lagi Soal Ethics

Persoalan lingkungan hidup adalah masalah yang paling menyadarkan kita akan beberapa hal. Pertama, bahwa planet bumi apabila disorot dari segi fisik merupakan sebuah sistem yang tunggal. Kedua, bahwa kelangsungan hidup dan kesejahteraan umat manusia sangat bergantung pada kondisi fisik dari ‘sistem tunggal’ tersebut. Dan yang ketiga, manusia dengan teknologi mutakhir-nya dapat membuat perubahan-perubahan terhadap sistem tersebut. Setiap unsur, baik biotik maupun fisik berada dalam hubungan saling terintegrasi dan berdinamika dalam sebuah mekanisme yang disebut dengan ekosistem. Ekosistem yang terganggu tentu akan menciptakan ketidakseimbangan yang akan berakibat fatal. Hal ini yang mendasari bahwa manusia akan selalu memiliki cara pandang yang keliru terhadap sumberdaya (frontier mentality).

Dalam ilmu etika lingkungan, sangatlah perlu melakukan pendekatan sebelum melakukan pengelolaan maupun pembangunan. Salah satu tahap dalam pendekatan tersebut adalah pendekatan holisme. Holisme sendiri harus dipandang secara utuh dengan konsistensi prinsip bahwa keseluruhan komponen lingkungan saling terkait, saling mempengaruhi dan wajib dijamin hak-haknya. Dalam hal ini pemerintah maupun stakeholder wajib melakukan dialog dengan warga sekitar yang secara langsung akan terdampak. Bahkan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), Nur Hidayati sudah menentang keras adanya pembangunan proyek ini karena tidak berbasis keilmuan.

Dilansir dari CNN Indonesia, pemerintah bahkan belum memenuhi permintaan warga soal kesepakatan tertulis terkait pembangunan proyek “Jurassic Park” di Resort Loh Buaya, Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo. Salah satu warga sekitar Desa Pasir Panjang, Pulau Rinca bernama Sumardin (32) mengungkapkan bahwa hingga detik ini mereka belum disodorkan ‘hitam di atas putih’ sebagai prasayarat kesepakatan kedua belah pihak. Warga mengajukan beberapa poin penting saat sosialisasi yang dilakukan pemerintah, antara lain adalah pemerintah wajib menjamin terlindunginya ekosistem dari komodo dan satwa lainnya. Selain itu, mereka meminta pembangunan tidak merusak mata pencaharian yang umumnya adalah nelayan.

Dari foto komodo yang berhadapan langsung dengan truk saja kita sebenarnya sudah bisa membuat hipotesa bahwa hal tersebut adalah abnormal. Komodo merupakan hewan yang soliter (suka menyendiri dan tidak nyaman dengan keramaian), sehingga kehadiran alat berat dan keributan yang dihasilkan dari aktivitas pembangunan tentu sangat menganggu mereka.

Dalam artikel yang dirilis oleh Jurnal Ilmu Pertaninan Indonesia, analisis terhadap sebaran spasial menunjukkan komodo paling sering melintasi jalur Loh Buaya—kawasan yang saat ini sedang dibangun dan menjadi zona pemanfaatan wisata. Ancaman terhadap komodo akan sangat menghambat kemampuannya dalam proses reproduksi yang pada akhirnya menyebabkan populasi komodo menurun. Sebuah penelitian mengungkap probabilitas angka kematian komodo sebesar 4,23% pada setiap tetasan komodo yang semakin menambah cemas.

Salah satu faktor lain yang mempengaruhi populasi komodo adalah adanya pengumpanan (feeding). Komodo kerap menjadi primadona bagi wisatawan yang datang maupun media elektronik/stasiun televisi. Proses produksi film dokumenter bisa dilakukan dengan cara pengumpanan atau memberi makan menggunakan kambing hidup atau mati. Dengan penciumannya terhadap daging dan darah yang tajam, maka komodo akan datang ke tempat dimana kambing tersebut disediakan. Ketergantungan dengan adanya kegiatan feeding merupakan dampak jangka panjang terhadap perubahan perilaku dan genetik terhadap naluri berburu satwa komodo yang akan berimbas terhadap populasi mereka.

Baca Juga Plastik: ‘Penghuni Baru’ di Lautan

Meskipun secara legalitas dipayungi oleh PP Nomor 36 tahun 2010 tanggal 12 Pebruari 2010 tentang Pengusahaan Pariwisata Alam di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam, dan Peraturan Menteri Kehutanan nomor P.48/Menhut-II/2010 tanggal 8 Desember 2010, suara warga dan kalkulasi ilmiah perihal komodo menjadi sebuah catatan darurat bagi pemerintah untuk segera ditindaklanjuti. Karena apabila tetap ‘ngotot’ melanjutkan, pembangunan tersebut akan sangat cacat prosedural—tak hanya melanggar etika lingkungan (environmental ethics) namun juga etika hak (ethics of right).

Rocky Gerung pernah berkata, “Negara ini buta soal yang berbau dengan etika (ethics).” Nah loh, kok bener?

Melansir jurnal Ecology and Evolution, Alice Jones selaku pimpinan peneliti dari Universitas Adelaide menuturkan simulasi memprediksi pengurangan luas kisaran habitat komodo sebesar 8 sampai 87 persen pada tahun 2050. Dengan perlakuan manusia yang agresif dan semena-mena, bukan tak mungkin komodo yang dulunya sempat dikhawatirkan akan punah akan benar-benar mengalami depopulasi di masa mendatang.

Oh, komodo. Nasibmu kini.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.