Kok Bisa Ya Tujuan Orang-orang Bersepeda untuk Kebutuhan Konten Doang?

thexandria kok bisa ya orang bersepeda konten doang

Kok Bisa Ya Tujuan Orang-orang Bersepeda untuk Kebutuhan Konten Doang?

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

“Kring kring ada sepeda, sepeda ku roda tiga, ku dapat dari ayah, karena rajin membaca.”

Thexandria.com – Sebuah penggalan lirik dari lagu anak 90-an yang begitu familiar di telinga masyarakat. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Pak Kasur selaku pencipta lagu tersebut, saya sengaja memodifikasi liriknya terutama di bagian akhir—pemakaian diksi “bekerja” dalam lagu tersebut terlalu eksploitatif untuk sebuah lagu anak. Lagu tersebut menggambarkan betapa apresiatifnya orang tua terhadap pencapaian yang telah dilakukan oleh sang anak. Dan, sebagai seorang anak-anak pada saat itu tentunya sangat gembira. Kemudian sepeda tersebut digunakan untuk bermain dengan teman sebaya di kampung.

Pemberian sepeda sebagai reward atas usaha yang telah dilakukan juga diadopsi oleh Presiden Joko Widodo. Terpantau dalam lawatan kunjungan beliau ke beberapa daerah. Meskipun tak mewah, pemberian sepeda patut disyukuri karena kebermanfaatan barang tersebut. Selain bisa didaya-gunakan sebagai transportasi jarak dekat, manfaat kesehatan pun dapat dirasakan dari setiap kayuhannya.

Selain itu, siswa-siswi jadi faham nama-nama menteri dan juga nama-nama ikan.

Ikan lele, ikan teri, ikan paus, ikan kakap, ikan kon…sensus parlemen yang tak jelas.

Dewasa ini, animo publik untuk bersepeda kembali ‘menggelora’. Terpantau di sekitar kita, banyak tetangga dan kolega yang mendadak rajin gowes selama masa pandemi. Bahkan di arus sosial media acapkali menjadi pembahasan warganet menyoal sikap dari para pengendara sepeda yang mengganggu kenyamanan umum.

Mulai dari pesepeda yang membawa masuk sepedanya ke dalam rumah makan, pesepeda yang memakan jalan utama kendaraan bermotor hingga rombongan pesepeda yang menerobos lampu merah lalu lintas.

Pada sisi lain, bahasan tentang para pesepeda mulai dibuka hingga dimensi yang sangat sepele. Beberapa orang menilai bahwa milenial yang mendadak bersepeda akhir-akhir ini hanya sekadar menjadikan bersepeda sebagai komoditas konten di sosial media. Manfaat kesehatan malah menjadi olok-olok bagi mereka yang mengorientasikan eksistensi di Instagram-story.

Tak heran jika ada sebuah sarkas yang muncul ketika lahir perdebatan dengan para bikers dadakan tersebut: “Opini yang bagus pemuda sok sehat, sekarang kembali bikin insta story!”

Ramainya tren bersepeda ini yang sempat memunculkan wacana bahwa sepeda akan dikenai retribusi pajak oleh pemerintah. Untuk meredam isu liar tersebut, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) secara tanggap meluruskan isu tersebut. Juru bicara Kemenhub, Adita Irawati menjelaskan bahwa benar Kemenhub tengah meramu regulasi tentang per-sepeda-an, namun yang menjadi substansi ialah pemberian aspek keamanan kepada para pesepeda bukan pemberian pajak.

Dikutip dari Kompas, pemberian pajak di Indonesia sendiri sudah ada sejak zaman Belanda dan semakin ketat selama pendudukan Jepang. Pada saat itu, setiap sepeda yang telah membayar pajak akan diberikan tanda bukti berupa plambir atau semacam plat nomor yang ditempel di sepeda.

Hingga pada rentang medio 1980-1990, beberapa daerah masih memberlakukan wajib pajak untuk sepeda, di antaranya Yogyakarta, Kudus, Kediri, Banyuwangi, dan Bandung. Seiring dengan majunya peradaban, maraknya peralihan ke kendaraan bermotor menjadikan peraturan wajib pajak sepeda mulai tak berlaku lagi.

Pajak Sepeda Jaman DUlu
Gambar hanya ilustrasi

Kembali lagi ke ramainya fenomena bersepeda yang dinilai bisa menjadikan ‘keren’ para pengendaranya. Sebenarnya, bersepeda sendiri sudah ada sejak dulu kala, dan esensi dari bersepeda dulunya adalah murni sebagai alat transportasi.

Bahkan saat duduk di bangku SD pun, saya pulang-pergi sekolah mengendarai sepeda dalam jarak yang cukup jauh dari rumah. Jadi, saya hanya tersenyum kecil saat melihat postingan sosial media kawan-kawan yang mendramatisasi kegiatan bersepedanya hingga menjadi sesuatu yang sangat prestise—padahal biasa saja, ini serius, oiya ini juga bukan lagi nyinyir, loh.

Baca Juga RUU Haluan Ideologi Pancasila yang Tak Lebih Urgen dari Membalik Tempe di Penggorengan

Sebenarnya tren bersepeda yang begitu massif ini akan bermanfaat bagi banyak pihak jika dilandasi dengan semangat utilitas sepeda yang sesungguhnya. Dalam situasi pandemi saat ini apabila kegunaannya benar-benar dimaknai sebagai transportasi, maka akan menjadi salah satu skema yang tepat dalam new normal.

Hal itu menimbang kegiatan berkerumun di dalam transportasi umum yang justru menambah potensi penyebaran yang lebih besar. Selain menyehatkan pengendaranya, bersepeda juga secara langsung bermanfaat kepada lingkungan. Pemakaian sepeda akan turut mereduksi polusi dari asap kendaraan bermotor, dan yang terpenting sepeda tak menggunakan bahan bakar yang merupakan produk hasil dari kegiatan eksploitasi alam.

Ya, nampaknya ‘kelatahan’ terhadap sesuatu yang sedang naik daun sudah mendarah daging di masyarakat kita. Merangkai konklusi dari paragraf-paragraf sebelumnya; Tak ada yang salah dengan kegiatan bersepeda, benar ketika tujuannya untuk berolahraga. Kurang tepat jika tujuan bersepeda hanya untuk ‘gaya-gaya-an’, dan mutlak salah jika bersepeda malah mengganggu kenyamanan publik.

Gimana? Ntar sore kita jogging aja atau tetap gowes? Kan intinya sama-sama nyari sehat, hehe..

Share Artikel:

One thought on “Kok Bisa Ya Tujuan Orang-orang Bersepeda untuk Kebutuhan Konten Doang?

Leave a Reply

Your email address will not be published.