Kita Semua Pantas untuk Bahagia

Kita Semua Pantas untuk Bahagia

Kitalah yang menciptakan bahagia, bukan menghancurkannya sendiri.

Penulis Adi Perdiana | Editor Rizaldi Dolly

“Jangan takut menghadapi proses pendewasaan diri.”

Hai sobat pejuang!

Jika kamu sampai disini, berarti kita pernah atau bahkan mungkin sedang mengalami hal yang sama.

Hidup ini adalah sebuah petualangan dimana pada perjalanannya akan mengalami peristiwa yang menyenangkan dan menyedihkan.

Pasang surut kehidupan yang selalu bergulir, kerapkali menjebak kita kedalam kenangan buruk dimasa lalu, yang sialnya, berpotensi membayangi dan menghantui sehingga berimplikasi terhadap keseharian yang kita jalani di masa kini.

Untuk itu kita perlu menyikapinya dengan tepat, karena masa lalu yang menyedihkan bukanlah akhir dari segalanya, bukan garis akhir petualangan hidup.

Jangan pernah menyesali setiap hal yang telah terjadi padamu, sekecil apapun itu, menyakitkan, menyedihkan ataupun membahagiakanmu.

Kenapa kebahagiaan termasuk? Karena kemungkinan besar kebahagiaan adalah satu hal yang selalu dirindukan hingga akhirnya dikenang.

Maklumi bahwa semuanya adalah bagian dari proses pendewasaan yang telah ditakdirkan Tuhan padamu. Maka dari itu jalanilah terus kehidupanmu dengan rasa bersyukur, karena dibalik itu semua masih banyak orang lain dengan takdir ketidak beruntungannya sepertimu, kamu sudah sempurna saat ini dan itulah jalan terbaikmu. Sering-seringlah menunduk, karna mendongkak hanya akan memperlihatkan langit, dan diatas langit, selalu akan ada langit yang lain.

Marilah menata diri kita untuk menjalani kehidupan sekarang dan esok hari yang lebih baik.

Berikut adalah bagaimana sobat pejuang lakukan untuk berdamai dengan masa lalu.

Karena banyaknya hal di masa lalu yang telah membentuk pribadi kita seperti sekarang, yang terkadang adalah bentuk yang tidak kita inginkan. Sehingga muncul banyak sekali alasan bahwa masa lalu adalah sumber utama dari setiap kesedihan yang kita rasakan kini.

Tak pelak kita semua ingin melupakan masa lalu karena pengalaman buruk yang menyedihkan. Namun yang kadang menjengkelkan, semakin ingin dihilangkan ingatan itu semakin sering muncul dan sulit dilupakan dan mengakibatkan terganggunya produktivitas serta kualitas hidup seseorang.

Jangan biarkan hal seperti itu menjadi sebuah batu yang mengganjal di dalam dadamu dan semakin berlarut, apalagi sampai akhirnya menjadikanmu mengisolasi diri dari lingkungan sekitarmu.

Menerima

Sebuah cara yang bijak untuk berdamai dengan masa lalu bukanlah dengan melupakannya, melainkan dengan menerima apa yang dulu telah terjadi dan biarkan ia menjadi seberkas bagian dari diri kita.

Tak baik pula untuk menyalahkan diri kita atas segala sesuatu, harus diingat bahwa kita adalah manusia merdeka yang punya kendali atas hidup kita sendiri, kamu berhak berjuang demi kebahagiaanmu, namun tetap pahami bahwa batasannya adalah hak orang lain.

Dan juga untuk kamu yang nantinya ingin menjalin hubungan yang serius dengan si doi. Terimalah dirimu terlebih dahulu sebelum menerima orang lain menjadi bagian dari hidupmu.

Ekspresi Emosi

Tak satupun manusia yang ingin hidup dengan terus berlarut-larut dalam kesedihan. Suatu kesalahan yang sering dilakukan adalah mengabaikan emosi dan rasa sakit sehingga membiarkannya terpendam di hatimu, padahal merasakan emosi dan memahaminya bukanlah suatu hal yang buruk.

Luapkan emosi itu agar ia tidak lagi mengganjal dadamu, kamu boleh menangis tersedu-sedu, tak perlu malu.

Untuk laki-laki, tidak perlu terjebak dalam stereotype tentang “laki-laki harus kuat tidak boleh cengeng.”

Biarkan luapan emosi itu mengalir keluar dan lepas dari dirimu.

Baca Juga: Merangkul Kawan yang Terjatuh di Titik Jenuh

Memaafkan

Sejatinya berdamai dengan masa lalu berarti sebuah proses untuk menerima dan memaafkan, menerima setiap kegagalan, kesalahan, kekurangan, dan ketidaktahuan di masa lalu.

Serta memaafkan, memaafkan kesalahan orang lain yang telah “menyakitimu” pun memaafkan dirimu sendiri yang selalu bertikai dengan kepalamu sendiri.

“Pengampunan sejati adalah ketika kamu bisa mengatakan ‘Terima kasih atas pengalamannya'” -Oprah Winfrey

Rasanya tak perlu untuk menakar tingkat kebahagiaanmu dengan kebahagiaan orang lain.

Mereka juga memiliki kekurangan dan kelebihan, mereka juga pernah melakukan kesalahan. Lebih baik pelajari bagaimana cara mereka menyikapinya.

Kini setelah emosi itu terlepaskan, dan tak ada lagi dendam yang terpendam, biarkanlah dirimu untuk bergerak maju.

Cukup sudah mengekspresikan emosi dan kesedihan kita, yakinlah dan percayalah dalam hatimu bahwa masalah ini sudah selesai. Cobalah memberanikan untuk tenang dan kini biarkanlah pikiran-pikiran positif kembali datang padamu.

Kamu yang kini telah semakin mengenali dirimu bisa mencoba untuk melakukan hal-hal positif seperti hobby maupun kegiatan-kegiatan baik lainnya yang menjadi sumber kebahagiaanmu. Dan mulailah membangun hidup yang lebih damai, tentram, dan membahagiakan. Beranikan diri untuk menghadapi resiko-resiko dalam hidup.

So, sobat pejuang! Apa yang harus ditakutkan dengan masa lalu? Apa yang perlu di takutkan ketika bertemu dengan masalah atau orang yang terkait dengan kesedihan di masa lalu?

Ingat bila apapun masalah yang kamu temui, ingat satu hal ya sobat pejuang, ingat ini bahwa, “kamu pantas untuk bahagia.”

You deserve it!

Sumber Foto: Zain Sinjay

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.