Kilasan Sejarah Oeang Republik Indonesia: ORI Mata Uang Pertama Milik Negeri

Kilasan Sejarah Oeang Republik Indonesia: ORI Mata Uang Pertama Milik Negeri

Penulis Adi Perdiana | Editor Rizaldi Dolly

Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah

Thexandria.com – “Jasmerah” seringkali menjadi ucapan yang mengingatkan kita untuk jangan pernah melupakan sejarah terutama negeri ini. Proses perjuangan panjang merebut kemerdekaan penuh kisah patriotik yang kaya akan keberanian. Keberanian untuk bebas dan mandiri melahirkan tekat yang bulat untuk mewujudkan mimpi-mimpi.

Uang tidak hanya berlaku sebagai alat tukar namun juga sebagai simbol kedaulatan negara. Pada masa awal kemerdekaan 1945 pasca proklamasi di Indonesia tidak ada kesatuan mata uang.

Ada empat mata uang yang berlaku; Pertama, sisa zaman kolonial Belanda yaitu uang kertas De Javasche Bank. Kedua, uang kertas dan logam pemerintah Hindia Belanda gulden. Ketiga, uang kertas pendudukan Jepang yang menggunakan Bahasa Indonesia yaitu Dai Nippon emisi 1943 dengan pecahan bernilai Rp100. Keempat, Dai Nippon Teikoku Seibu, emisi 1943 bergambar Wayang Orang Satria Gatot Kaca bernilai Rp10 dan gambar Rumah Gadang Minang bernilai Rp5.

Baca Juga Mengenal Sisi Lain Sigmund Freud melalui Serial Netflix

Peredaran empat mata uang itu merugikan Indonesia yang baru saja merdeka. Menyebabkan situasi moneter menjadi ruwet dan membingungkan.

Sjafruddin Prawiranegara, anggota Badan Pengurus Komite Nasional Indonesia Pusat, sejenis badan legislatif sementara RI membawa usulan pemuda Bandung kepada Hatta pada pertemuannya oktober 1945 bahwa Indonesia perlu mengeluarkan uang baru sebagai salah satu atribut negara merdeka dan berdaulat. 

Sebelumnya Hatta pernah mendengar usulan ini namun sementara terpaksa tidak bisa dilakukan karena keterbatasan sarana dan dana serta tenaga ahli dalam bidang tersebut. Meski demikian akhirnya Sjafruddin berhasil meyakinkan Hatta dan kemudian pemerintah berkeputusan bulat untuk mencetak uang sendiri meskipun di tengah mempertahankan kedaulatan yang masih sangat terancam.

Menteri Keuangan A.A. Maramis menindaklanjuti keputusan itu. Dia bergerak cepat. Sebab, tentara Sekutu sudah datang ke Indonesia sejak akhir September 1945.

Segala kemungkinan bisa terjadi. Tentara Sekutu bisa saja mengambil-alih keadaan. Maka dia menginstruksikan tim Sarikat Buruh Percetakan G. Kolff Jakarta bergerak ke beberapa tempat di Jakarta, Malang, Solo, dan Yogyakarta untuk mencari percetakan.
 
Di Jakarta, percetakan G. Kolff berpengalaman dalam urusan mencetak uang sejak zaman Hindia Belanda. Ada pula percetakan De Unie. Sementara Di Malang ada Nederlands Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF). Tapi semua percetakan itu kesulitan memperoleh alat-alat untuk mencetak uang seperti kertas, tinta, pelat seng, mesin aduk, dan bahan kimia. 

Tim bentukan Maramis menghadapi tantangan yang tak kalah sulit. Pertempuran antara pejuang Republik dan Sekutu meletus di beberapa daerah. Jalan-jalan ditutup dan dikuasai tentara Sekutu. Untuk menerobos blokade itu, sejumlah buruh percetakan menyelundupkan alat-alat dan bahan pencetak uang. 

Dengan segala perjuangan, terbentuklah panitia penyelenggara pencetakan uang kertas republik Indonesia pada 7 november 1945. Litografie dibuat di percetakan De Unie, kerja tim yang baik berhasil mencetak uang kertas dengan cepat namun belum sempat diberi seri nomor seri, situasi keamanan di Jakarta memburuk. Pemerintahan terpaksa harus dipindah ke yogjakarta pada 14 januari 1946 sehingga pekerjaan mencetak uang berhenti.

Pencetakan diambil alih NIMEF yang berada di Malang, serta Yogyakarta, Solo, dan Ponorogo yang relatif aman. Pemerintah perlahan mulai menarik mata uang Hindia Belanda dan Jepang. Namun NICA menjegal upaya penerbitan mata uang, mereka menyerang republik dengan menerbitkan mata uang NICA pada y maret 1946, banyak orang menyebutnya “uang merah” karena dominasi warnanya.

Nederlandsch Indië Civiele Administratie atau Netherlands-Indies Civiele Administration disingkat NICA adalah “Pemerintahan Sipil Hindia Belanda”) yang merupakan organisasi semi militer yang dibentuk pada 3 April 1944 yang bertugas mengembalikan pemerintahan sipil dan hukum pemerintah kolonial Hindia Belanda selepas kapitulasi pasukan pendudukan Jepang di wilayah Hindia Belanda (sekarang Indonesia) seusai Perang Dunia II (1939 – 1945).

Peredaran uang NICA menyebabkan inflasi dan melanggar kedaulatan. Perdana meteri Sutan Sjahrir menyebutnya “Pelanggaran hak kedaulatan RI dan mengingkari perjanjian untuk tidak mengeluarkan mata uang baru selama situasi belum stabil.”

Uang NICA sempat berlaku di Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya, dan Semarang. Namun uang NICA tidak laku, para pedagang dan petani enggan memakainya. Mereka lebih memilih menggunakan uang Jepang mengikuti seruan pemerintah Indonesia. Akibatnya peredaran uang NiCA terdesak.

Uang NICA terus merosot, dimasa ini Pemerintah Indonesia secara resmi mengedarkan mata uang sendiri pada 30 Oktober 1946. Ditopang oleh UU No. 7 tahun 1946 dan UU No. 10 tahun 1946.

Malam sebelum terbitnya mata uang tersebut, Hatta selaku wakil Presiden RI memberikan pidato yang membakar semangat kedaulatam bangsa. Pidato itu disampaikan melalui Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta pada 29 Oktober 1946.

“Sejak mulai besok kita akan berbelanja dengan uang kita sendiri, uang yang dikeluarkan oleh Republik kita.”

Sang proklamator menambahkan uang lainnya yakni uang Jepang Javasche Bank otomatis tidak berlaku.

“Dengan ini, tutuplah suatu masa dalam sejarah keuangan Republik Indonesia. Masa yang penuh dengan penderitaan dan kesukaran bagi rakyat kita. Uang sendiri itu adalah tanda kemerdekaan Negara,” ujar Bung Hatta.

Maka 30 Oktober 1946 resmi beredar mata uang asli Indonesia atau dikenal dengan nama “Oeang Republik Indonesia” disingkat ORI. ORI disambut baik oleh rakyat, mereka juga menyebutnya “uang putih”, tercatat nama Abdul Salam dan Soerono sebagai pelukis pertama ORI.

Sejarah panjang ORI yang tak hanya sebagai alat bayar melainkan simbol perjuangan dan kedaulatan NKRI, bahkan semasa mempertahankan kemerdekaan pemilik ORI bisa saja ditangkap oleh tentara Belanda. Inilah Oeang Republik Indonesia yang menjadi cikal bakal mata uang Rupiah yang kita gunakan hingga saat ini.

Tanggal 30 Oktober kemudian ditetapkan sebagai Hari Oeang Republik Indonesia.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.