Kilasan 2018 Tentang Dia

Kilasan 2018 Tentang Dia

Kilasan 2018 Tentang Dia

Penulis Adi Perdiana | Editor Rizaldi Dolly

Kilasan Ketiga

Bagaimanapun selalu ada kemungkinan tambahan, pada hal ini bayangkan saja kau memilih untuk memeluk dunia meskipun kau telah paham akan segala resiko beserta hiruk pikuknya.

Lalu akhirnya kau benar-benar memilih dunia. Merasakan segala kemabukan yang ada di sana hingga akhirnya mengalami kecanduan. Perihal dunia itu telah menjadi kebutuhan utama bagimu. Dan suatu saat kau tak lagi mampu memenuhi hasrat candu itu.

Kau berteriak menggila, marah, meminta kepada apa saja namun tak menghasilkan apa-apa. Kau kehilangan segalanya. Dan yang utama adalah kau kehilangan pikiran, menjadikan seorang bodoh yang benar-benar buta akan arah kehidupan.

Kilasan Kedua

Sementara kau memutuskan untuk sendirian. Mengarungi luasnya lautan kehidupan menuju sisi paling redup dari keberadaan, dan berakhir mendapati kau hilang arah dalam kesendirian. Tentang sesuatu yang paling pahit dari kehidupan, kau kehilangan perasaan.

Perasaan, di dalamnya ada tangis sedih, tawa bahagia dan segala yang membuatmu merasa hidup. Bahkan sang penyair tak akan pernah menggoreskan kata dengan penanya tanpa diiringi perasaan.

Karena kesendirian membuatmu tenggelam terlalu dalam hingga kehilangan akan perasaan. Memang kesendirian dan perasaan bukanlah persamaan. Tetapi percaya saja bahwa tanpa perasaan, hidup dan mati bukanlah perbedaan.

Kilasan Pertama

Ingatlah pesanku kali ini, karena ini merupakan sebuah goresan takdir bagi sepasang manusia yang selalu terjadi dimana saja. Dan mungkin saja  kau akan mengalaminya jika sampai waktumu telah menghantar wajah nan muda dan tubuh perkasa itu menjadi tua renta dan tak bertenaga.

Dan di dalam sepasang tubuh tua renta yang pernah pada masanya saling mencinta, mereka pernah terbakar dalam api asmara yang begitu panasnya. Memancarkan kilauan cahaya cinta yang begitu luar biasa menyilaukan.

Namun perlahan orang di sekitar akan menutup hidungnya karena mencium bau abu yang sangit sebab bara cinta perlahan memadam karena waktu terus menghantar mereka.

Di dalam tubuh yang renta, api asmara mereka telah padam. Cahaya cinta tak lagi memancar. Sudahlah habis masanya. Indahnya cinta tak akan lagi terasa. Ia telah menjelma abu yang beterbangan hilang ditiup angin.

Maka sisa hubungan sepasang renta hanyalah menyisa ikatan janji kosong di masa muda. Dan atas nama pernikahan hubungan masih ada karna dibaliknya tersembunyi harga diri dan gengsi untuk dijaga.

Hah… Tolong sudahi saja hayalan-hayalan tak berarah itu. Aku harus tidur sekarang, besok pagi aku harus melanjutkan…

Hai Destvo, semoga kabarmu baik-baik saja. Kamu mau lanjut ngapain sih besok pagi?

Tulisan ini terlalu aneh kayaknya. Aku jelasin dulu deh. Jadi begini ceritanya, karena wacana social distance ini aku sudah beberapa hari terakhir merubah keseharian dalam bersikap. Jadi lebih banyak dirumah dan keluar hanya untuk keperluan secukupnya saja. Kalau untuk masalah kerjaan untung saja pak bos dengan sigap bikin kebijakan work from home untuk seluruh staff redaksi thexandria.com bahkan sejak awal terbentuk.

Singkat cerita mulai muncul perasaan bosan meskipun sudah ngelakuin apa saja, meskipun aku seorang jack of al trades begini ternyata masih bosanan juga rupanya kalau terlalu lama di rumah. Lalu bongkar-bongkar note yang ada di hp dan akhirnya nemuin sesuatu yang terlupakan cukup lama.

Sebuah plot cerita dan beberapa narasi serta tokoh yang ditulis sembarangan. Nah  tulisan absurd itu rencananya akan dikembangkan menjadi sebuah novel kalau selesai.

Mulanya rencana penulisan novel itu dimulai sekitar awal tahun 2018, tetapi terhenti karena banyaknya urusan yang entah apa semasa kuliah dulu.

Jadi anggap saja karakter ini bernama Destvo, itu adalah nama panggilanku untuk dia, dia adalah karakter yang muncul di dalam pikiranku untuk ditakdirkan sebagai pemeran utama di dalam novel itu.

Aku belum bisa cerita banyak tentang karakter maupun perawakannya, tetapi yang jelas cerita di awal artikel ini adalah kejadian-kejadian yang dekat dengan keseharian Destvo. Tentang dia yang mulai merasa bingung dan bertanya sejuta pertanyaan pada diirinya sendiri. Namun dia tak pernah mampu menjawab, malah pertanyaan-pertanyaan itu semakin sering muncul dan menjadi hutan belantara di dalam pikirannya sendiri. Lalu ada masa dimana pertanyaan-pertanyaan itu mulai terjawab ketika ia bertemu seseorang.

Absurd deh pokoknya, tetapi bersama terbitnya artikel ini aku ingin bilang bahwa penulisan itu akan aku lanjutkan lagi. Gatau nanti jadinya kurang baik atau terlalu buruk, EGP dulu deh. Semoga saja ada yang berkenan untuk membacanya.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.