Ketika Megawati Bertanya: Apa Sumbangsih Klean Anak Muda?!

Megawati Bertanya Sumbangsih Anak Muda

Ketika Megawati Bertanya: Apa Sumbangsih Klean Anak Muda?!

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Sumbangsih dalam pemahaman Megawati, perlu lebih diperjelas.

Thexandria.com – Kemarin banget, pemuda Indonesia baru saja merayakan kenangan kebangsaan. Mengingat kembali, bahwa pemuda, pada era perjuangan dulu—sebelum Indonesia lahir, pernah melakukan sebuah gerakan sakral. Bukan pernyataan bersama, manifesto, pidato, atau yang lain. Melainkan, bersumpah.

Ya, sumpah pemuda. Pemuda generasi perjuangan dulu, begitu heroik dengan menanggalkan jubah ego kedaerahan, serta mendorong adanya persatuan. Berbangsa, bertanah air, dan berbahasa satu: Indonesia.

Setelah pemuda era kini, larut dalam resapan-resapan masa lampau yang begitu menggugah. Sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan dari mantan Presiden Megawati, menggemparkan jagad pemuda sekarang; baik itu kaum rebahan, kaum akademisi, kaum tongkrongan yang agak apatis sama pemerintah, kaum senja dan kopi, terlebih, kaum pergerakan.

Baca Juga Satu Tahun Pemerintahan Jokowi: Sebuah Mozaik

Ibu Megawati, bertanya apa sumbangsih anak muda sekarang.

Megawati membuat pernyataan dengan meminta Jokowi untuk tak memanjakan generasi milenial sambil mempertanyakan sumbangsih kelompok tersebut bagi bangsa.

“Saya bilang ke presiden, jangan dimanja, dibilang generasi kita adalah generasi milenial, saya mau tanya hari ini, apa sumbangsihnya generasi milenial yang sudah tahu teknologi seperti kita bisa viral tanpa bertatap langsung, apa sumbangsih kalian untuk bangsa dan negara ini?” kata Megawati, dalam acara peresmian kantor DPP PDIP secara virtual, Rabu (28/10).

Megawati juga menyinggung aksi demo yang justru berujung pada perusakan sejumlah fasilitas umum.

Padahal, perusakan fasilitas umum, seperti di Jakarta kemarin, telah dibongkar dalam sebuah investigasi jurnalistik oleh tim Narasi Najwa Shihab. Yang dimana, diketahui bahwa perusak fasilitas umum, kemungkinan besar, bukanlah bagian dari mahasiswa itu sendiri.

Dear Bu Mega

Megawati Bertanya Sumbangsih Anak Muda
sumber gambar detik.com

Apa yang dipertanyakan oleh Megawati, memang terdengar seperti pertanyaan yang tendensius. Karena itulah, respon yang diberikan warganet, juga tak kalah menohok.

Sumbangsih dalam pemahaman Megawati, perlu lebih diperjelas. Saya teringat bunyi tweet sahabat saya sekaligus tim Thexandria.

“sumbangsih di mata bu mega adalah yg sifatnya major: millenials harus mampu melunasi hutang negara, harus bisa menemukan mesin waktu, sampai jadi capres di pilpres amerika serikat”

Terlebih di bagian Megawati yang menyoroti mahasiswa demo, “Yang mau demo-demo, ngapain sih kamu demo-demo? Kalau enggak cocok pergi ke DPR, di sana ada yang namanya rapat dengar pendapat, itu untuk terbuka bagi aspirasi kalian,” kata Megawati.

Pasti anak-anak muda yang membaca pertanyaan ini, istighfar sambil ngelus-ngelus dada. Sabar, ya, klean, seruput dulu, yuk, kopinya… Jangan lupa, sebats-nya~

Marilah kita berasumsi, bahwa, BARANGKALI, Ibu Megawati Soekarnoputri tidak bermaksud demikian. Melainkan hanya lupa yang disertai khilaf.

Therefore, mari kita ingatkan kembali. Jika, berdasarkan historis kebangsaan Indonesia. Pemuda Indonesia—yang kata Megawati, “ngapain, sih, demo-demo?”—-turut andil besar dalam menentukan arah perubahan Indonesia.

Era peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru. Pemuda kala itu, turun ke jalan, berdemonstrasi menuntut PKI dibubarkan dan mendesak Presiden Soekarno menyelesaikan prahara politik yang terjadi. Di medio tersebut, sosok pemuda tangguh seperti halnya, Soe Hok Gie, menjadi mercusuar perjuangan serta kesadaran akan Indonesia yang lebih baik.

Di era reformasi, tahun 1997-1998, meski memiliki banyak variabel, people power yang digaungkan mahasiswa kala itu, cukup kuat serta mampu “memaksa” Presiden Soeharto lengser keprabon. Dan jangan lupa, di era awal reformasi tersebut, Megawati dapat menjadi Wapres, juga karena gelombang demonstrasi mahasiswa.

Bertanya Balik

Demo Tolak UU CIpta Kerja di Balikpapan
sumber gambar thexandria.com

Bagaimana jika, biar fair, giliran anak-anak muda yang bertanya balik. Apa sumbangsih pemerintah?

Tentu banyak. UU KPK dan UU Omnibus Law, contohnya. Luar binasa, eh, luar biasa sekali sumbangsihnya. Mereka yang kontra, hanyalah karena termakan hoax—-hussst! Diam! Kalau pemerintah bilang hoax, ya, hoax!—-saya menirukan pernyataan Menkominfo hehe~

Karenanya, lebih baik, anak-anak muda bertanya pada hal-hal mendasar saja. Enggak perlu jauh-jauh. Apa kabar Revolusi Mental? Sudahkah, kalian merasakan dampaknya? Sudahkah mental kalian mengalami revolusi? Hingga tercipta nation character building yang begitu nasionalistik?

Tantangan yang dihadapi generasi millenial, tentu kini, memiliki dimensi yang berbeda pula.

Tak sedikit, yang tetap berani untuk mengkritik kebijakan Pemerintah melalui dunia digital, meski dibayangi jerat pasal karet UU ITE. Dan keberanian untuk speak up, itulah, yang harus dilihat sebagai kesadaran moral pemuda di era ini.

Sosok-sosok seperti Najwa Shihab maupun Bintang Emon, adalah representasi sumbangsih anak-anak muda Indonesia. Kritis, objektif, dan berani. Diluar itu, masih juga banyak anak-anak muda yang mengharumkan nama bangsa. Namun pertanyaanya, sejauh mana apresiasi pemerintah terhadap mereka?

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.