Kepulangan Habib Rizieq Sebabkan Turbulensi Politik

Kepulangan Habib Rizieq

Kepulangan Habib Rizieq Sebabkan Turbulensi Politik

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Sebuah revolusi. Revolusi tanpa kekerasan, yaitu, revolusi akhlak.

Thexandria.com – Pemimpin politik sayap kanan Indonesia, Habib Rizieq Shihab baru saja pulang dari Arab Saudi dengan disambut oleh para pendukungnya yang berjubel di bandara Soekarno Hatta, setelah sebelumnya, kepulangannya terus menuai polemik di dalam negeri, seperti misalnya narasi tentang over stay, tuduhan pemerintah Indonesia menghalangi, hingga bantahan dari pemerintah sendiri atas semua tuduhan tersebut.

Meski Habib Rizieq sendiri dikenal sejak lama sebagai tokoh agama konservatif dan pimpinan ormas Front Pembela Islam. Nyatanya, ia kini menjelma sebagai entitas kekuatan politik diluar pemerintah yang nyata, terlepas dari segi kuantitas—-yang nampaknya, terus menuai simpatik dari beberapa kelompok islam.

Habib Rizieq dipandang sebagai simbol perlawanan terhadap pemerintah yang dirasa oleh beberapa kelompok islamis memusuhi mereka. Sedangkan di disi lain, ia dinilai sebagai “pengganggu” stabilitas politik.

Baca Juga Kamala Harris, Wakil Presiden Perempuan Kulit Hitam Pertama Amerika Serikat

Hal ini bisa berarti benar atau salah, tergantung dari perspektif yang mana kita melihat.

Yang jelas, kepulangan Habib Rizieq telah memantik turbulensi politik yang cukup kuat. Meski halnya, pemerintah berdalih bahwa tak ada yang special dari kepulangan Habib Rizieq dan pemerintah sama sekali tak khawatir soal itu.

Kasus penindakan terhadap seorang prajurit TNI yang dalam sebuah video viral beredar, yang dimana anggota TNI tersebut mengeluarkan kalimat simpatik saat kepulangan Habib Rizieq, menjadi sorotan serta interpretasi dari berbagai pihak.

Yang lebih mengejutkan, tentu adalah kehadiran Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto dalam sebuah konfrensi pers dengan dikawal oleh para komandan satuan tempur TNI; Pangkostrad, Danjen Kopassus, Dankorps Marinir, Dankorps Paskhas, hingga Komandaan Koopsus.

Marsekal Hadi Tjahjanto mewanti-wanti semua pihak yang mencoba mengganggu persatuan dan kesatuan Indonesia. Dia menekankan TNI akan menindak apa saja yang bisa mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa. 

“Ingat, siapa saja yang mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa, akan berhadapan dengan TNI,” kata Hadi dikutip dari keterangan pers, Minggu (15/11).

Lebih lanjut, Hadi juga mengingatkan pentingnya menjaga kesatuan dan persatuan bangsa sehingga tak mudah terhasut dan terprovokasi hal yang bisa memecah belah bangsa.

“Saya ingin menyampaikan kembali, pentingnya persatuan dan kesatuan dalam menjaga stabilitas nasional,” kata Hadi. 

Menurut dia, persatuan dan kesatuan serta prajurit TNI yang kuat bisa menghalau berbagai upaya perusakan nasional yang berujung pada stabilitas nasional. 

Hal ini juga berkaitan dengan gangguan berupa provokasi dari pihak-pihak tertentu yang bisa mengaburkan kesatuan dan persatuan melalui provokasi dan ambisi yang dibungkus oleh berbagai identitas.

Dalam kesempatan itu, Hadi juga meminta agar seluruh jajaran TNI selalu siap mengawal dan menjaga kesatuan bangsa. Tak hanya itu, TNI menurut dia harus lebih kuat demi menjadi alat utama pertahanan negara. 

“Seluruh prajurit TNI adalah alat utama pertahanan negara untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia,” kata dia.

Revolusi Akhlak

Habib Rizieq dan Khomeini
Sumber gambar Kompasiana.com

Kini Habib Rizieq datang dengan sebuah gagasan yang ia tujukan kepada kelompoknya. Sebuah revolusi. Revolusi tanpa kekerasan, yaitu, revolusi akhlak.

Bila kita mengingat-ingat kembali. Jauh sebelumnya, telah ada seorang ulama yang saat pulang dari “pengasingan”, ia kemudian memimpin terjadinya revolusi. Ya, ia adalah Khomeini.

Ada yang mengatakan, bahwa fenomena pulangnya Habib Rizieq bisa memicu terjadinya revolusi, sama halnya, dengan Iran waktu itu.

Perbedaan Rizieq dan Khomeini hanyalah Sunni dan Syiah. Benarkah demikian?

Melansir dari historia.id, nama Khomeini telah dikenal luas di kalangan kaum agamawan Iran sejak naiknya Reza Pahlevi sebagai penguasa pada 1940-an. Dari kaum agamawan, Khomeini turun membangun jaringan dengan masyarakat luas. Dia percaya sebelum membangkitkan peran ulama, hubungan spiritual ulama dan masyarakat harus kuat.

Selain itu, Khomeini mulai rajin menulis buku dan artikel untuk membangun jiwa masyarakat. Beberapa buku dan artikelnya juga berisi kritik dan tinjauan atas Dinasti Pahlevi. Karena kritiknya, dia ditangkap dan ditahan rezim Reza Pahlevi selama delapan bulan pada 1964.

Selepasnya dari tahanan, kritik Khomeini pada rezim Reza Pahlevi makin keras. Rezim menangkapnya lagi dan membuangnya ke Turki dan Irak.

Selama masa pembuangan ini, Khomeini memberikan dukungan berupa uang dan pikirannya untuk orang-orang Palestina. Dari Irak pula, Khomeini tetap mengamati perkembangan di Iran.

Kritik-kritik Khomeini terungkap dalam kaset-kaset ceramahnya. Kaset-kaset itu tersebar luas di Iran dan mendapat tempat di kelompok opisisi, di luar kalangan Islam seperti anggota partai komunis Iran dan orang-orang nasionalis sekuler. Seluruh kelompok oposisi berbagai aliran berada di belakang Khomeini.

Karena sepak terjangnya, nyawa Khomeini di Irak terancam. Tentara Irak mengepung rumahnya di Irak. Tapi dia berhasil lolos dan tinggal di sebuah wilayah pinggiran Paris, Prancis, sejak 14 Mei 1978. Pemerintah Prancis meminta Khomeini menghentikan segala aktivitas politik. Tapi Khomeini tetap melancarkan ceramah-ceramahnya.

Pada 1 Februari 1979, Khomeini menjejakkan kakinya kembali di Iran. Dia disambut luas oleh gerakan perlawanan yang digalang sejak lama dan melibatkan berbagai kelompok. Nasir Tamara, wartawan Indonesia satu-satunya yang menyaksikan langsung peristiwa itu, sampai susah mengungkapkannya, “Penyambutannya sulit digambarkan dengan kata-kata… Betapa populernya Khomeini dan bahwa tak mungkin bagi orang lain untuk memerintah Iran tanpa persetujuannya.”

Sementara itu, masih dalam artikel historia.id yang berjudul, “Antara Habib Rizieq Shihab dan Ayatullah Khomeini”, sepak terjang HRS muncul justru setelah jatuhnya rezim diktator Soeharto. Dia mendirikan Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta, pada 17 Agustus 1998. FPI bergerak sebagai “hakim jalanan” dengan mengubrak-abrik tempat hiburan malam yang dianggap sarang maksiat.

“FPI muncul sebagai kekuatan baru di jalanan, dengan citra berjuang bukan demi uang, wilayah kekuasaan, atau patronase politik, melainkan membela Islam,” sebut Ian Wilson dalam Politik Jatah Preman.

Sebagai ketua umum, nama HRS mulai kesohor. Tapi dia baru mendapatkan momen politiknya sejak kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama pada 2016. HRS juga belum banyak membuat buku. Selain itu, tak semua kelompok oposisi di Indonesia berada di belakangnya.      

Dari sini, orang bisa melihat perbedaan besar antara sepak terjang HRS dan gerakan perlawanan Khomeini. Begitu pula dengan gambaran penyambutan keduanya.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.