Kenapa, sih, Orang-orang Ngelakuin Ghosting?

Ghosting dan Kenapa Orang Melakukannya

Kenapa, sih, Orang-orang Ngelakuin Ghosting?

Penulis Suci Jayanti Tadjri | Editor Rizaldi Dolly

Hubungan yang sehat diliputi oleh kemampuan komunikasi yang sehat juga, kan?

Thexandria.com – Makin kesini makin banyak saja istilah di dalam hubungan antar manusia, salah satunya istilah ghosting—nah, kepo, nih, orang-orang yang mengunjungi tautan thexandria.com untuk membaca isi tulisan ini apakah pernah melakukan ghosting atau bahkan menjadi orang yang di-ghosting. Bukan hantu-hantuan, lho, ya. Sebenarnya, ghosting itu apa, sih?

Ghosting adalah sebutan tindakan ‘kekinian’ dimana seseorang meninggalkan begitu saja tanpa penjelasan apa-apa setelah sempat menjalin komunikasi yang cukup intens. Lebih banyak terjadi dalam hubungan percintaan, sih, biasanya.. seperti memutuskan hubungan dan komunikasi secara tiba-tiba dengan pasangan tanpa peringatan yang jelas. Melibatkan dua orang, biasanya—satu orang yang ingin segera keluar dari sebuah ‘hubungan’ dengan begitu saja lalu satu orang lagi diliputi perasaan bertanya-tanya, ada salah apa tidak, dan menerka-nerka.

Perlakuan atau istilah ghosting ini cukup umum terjadi di kalangan anak muda belakangan ini—sifat anak muda (tidak semua, sih) yang kebanyakan tidak ingin menjalin keseriusan terlalu cepat atau malah bingung harus bertindak bagaimana jika ingin keluar dari sebuah hubungan dengan dalih “Duh, gue enggak mau nyakitin dia, tapi gue bingung mau ngomong apa..” atau “Gue ilang rasa deh soalnya dia begini begono..” terus melipir begitu saja, hm.

Tindakan Ghosting bukan hanya terjadi di dalam hubungan percintaan saja, lho.. Namun juga terjadi di dalam ruang lingkup keluarga, lingkungan pekerjaan dan pertemanan. Contohnya seperti ketika kamu tidak muncul bahkan tidak ada kabar setelah obrolan mengenai pekerjaan terjadi selama makan siang tadi—memang, ghosting dan tidak professional di dalam hubungan manusia benar-benar beda tipis, sih.

Buntut dari Perasaan di-ghosting

Korban Ghosting
Gambar hanya ilustrasi

Rasanya berat, sih, bagi korban dan mungkin si pelaku sendiri pun bingung dan sulit untuk melakukan itu—terlepas dari apapun alasannya, ya. Kata pakar hubungan dan perilaku manusia di Arizona, Karen Ruskin, PsyD; tindakan ghosting bisa membuat orang yang ditinggalkan merasa seperti ditolak secara tidak baik-baik dan ditelantarkan.

Hal itu dapat menyebabkan masalah kesehatan mental jangka panjang, lho.. karena perasaan ditelantarkan dengan pergi begitu saja tanpa penjelasan apapun dan membuat orang yang ditinggalkan tidak dapat mempelajari sisa-sisa hubungan dan mencari tahu apa yang salah sehingga tidak dapat belajar dari pengalaman. Seseorang yang menjadi korban merasa dibiarkan dengan beribu pertanyaan tentang keseluruhan tingkat daya tarik dan rasa layak mereka—menyebabkan pula perasaan akan tidak percaya pada hubungan di masa depan, termasuk kekhawatiran akan terjadinya penelantaran lagi. Ini berdampak pada kesehatan mental dan harga diri. Jadi, kenapa, sih, orang-orang melakukan ghosting?

Baca Juga Deactivate Instagram untuk Kesehatan Mental, Bukan Melulu Karena Galau

Berdasarkan penelitian dari pakar psikolog klinis dan pakar hubungan, Vinita Mehta mengungkapkan bahwa orang-orang melakukan ghosting karena menghindari yang namanya konfrontasi dan menyakiti perasaan orang yang di-ghosting tersebut. Vinita juga mengutip penelitian terbaru yang menyebutkan ada empat alasan utama mengapa orang melakukan ghosting yaitu; kehilangan ketertarikan, interaksi yang negatif, status hubungan, dan keamanan.

Ya, masuk akal, sih, ketika orang melakukan ghosting dengan alasan keselamatan diri mereka sendiri—namun, di sisi lain, itu menunjukkan kurangnya empati dan rasa peduli pada perasaan orang lain, sebut saja egois. Sebuah tanda ketidakdewasaan secara emosional juga terselip dalam tindakan ghosting karena itu membuktikan bahwa mereka tidak bisa/mau melakukan sesuatu untuk berada di dalam hubungan yang sehat dan tahan lama—sehingga dengan melakukannya memungkinkan mereka untuk menghindari konflik, menghindari penjelasan dan introspeksi diri (ini berlaku juga untuk orang-orang yang belum berada di dalam hubungan atau di fase PDKT). Dimana-mana, hubungan yang sehat diliputi oleh kemampuan komunikasi yang sehat juga, kan?

Sebagai penutup, nih, berdasarkan pengalaman pribadi dan beberapa artikel terpercaya; untuk pulih dari perasaan di-ghosting, disarankan untuk fokus pada pengakuan bahwa ini bukan tentangmu dan kamu tidak bisa mengontrol apa yang orang lain lakukan—melainkan, kamu bisa mengontrol reaksimu terhadap apa yang terjadi. Maksudnya, ya, mungkin saja orang-orang yang melakukan ghosting tidak cukup worthy untuk menjalin hubungan bersamamu atau sesederhana tidak cocok saja—tapi, bagaimanapun cara mereka meninggalkanmu, ingat selalu.. you’re worthy enough untuk menjalin hubungan yang lebih baik kedepannya.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.