Kenapa Kita Harus Bersyukur Superhero DC & Marvel Bukan dari Indonesia

Superhero DC dan Marvel Bukan dari Indonesia

Kenapa Kita Harus Bersyukur Superhero DC & Marvel Bukan dari Indonesia

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Sebenernya saya bukan kebanyakan masyarakat Indonesia yang selalu ngikutin film-film superhero dari DC ataupun Marvel. Saya cuma penonton FTV klise yang random, atau Sitkom “Ojek Pengkolan” untuk sekedar melihat Mas Pur yang sudah enggak jomblo lagi. Saya penonton yang kampungan. Tipikal.

Namun walaupun begitu, bukan berarti saya blas enggak tau apapun tentang superhero. Saya juga tau. Sedikit.

Saya tau bagaiamana kebanyakan superhero, dalam perkembangannya, sudah tak lagi mengenakan kancut diluar kostum.

Saya tau bagaimana film-film superhero dari Marvel, satu tingkat telah “melampaui” DC.

Saya tau betapa banyaknya masyarakat Indonesia yang benar-benar suka sama superhero-superhero Marvel, terlebih Iron Man.

Saya tau pengetahuan saya terkait superhero, ya, cuman segitu. Tapi, ada satu hal yang harus kita sadari bersama. Bahwa kita masyarakat Indonesia khususnya, harus bersyukur karna superhero asalnya rata-rata dari Amerika, atau katakanlah, semua superhero merupakan produk dari industri film amerika.

Loh he? Kok musti bersyukur? Kan mustinya kita bangga kalau superhero-superhero keren itu dari Indonesia? Kita nanti bisa berbangga dengan karya anak bangsa enggak pakai “T”?

Iya, iya, saya mengerti. Tapi masalahnya, kalau superhero DC dan Marvel asalnya dari Indonesia? Selain bakal aneh dan bakal serem ngebayangin over proudnya masyarakat kita, juga akan bertabrakan dengan kearifan lokal dan terminologi ke-ghaib-an nusantara.

Bayangin ape lu? Jangan bayangin Om Hao “Kisah Tanah Jawa” lagi nerawang alam ghaib pakai kostum Captain Indonesia, ya! Please, jangan.

Oke begini, saya kasih panduan memahami point tulisan saya. Tapi syaratnya harus rilex. Karna ini bukan berdasarkan cocoklogi ataupun bertanamlogi, tapi ngawurlogi. Ndakpapa ya?

Sekarang bayangin, superhero-superhero DC dan Marvel berasal dari Indonesia. Kita bisa mulai dari—pria pendiam, introvert, tapi gak insecure-an. Ketika malam, ia berubah, mengenakan sayap berwarna hitam, ia berjalan nyaris tanpa suara, dan membasmi penjahat. Bayangin kalau sosok seperti ini ada di Indonesia.

Maka, orang-orang akan menyebutnya dengan, “Manusia Kelelawar”.

Lalu ada lagi, seorang pemuda, yang bisa merayap-rayap di dinding. Orang-orang menyebutnya dengan, “Manusia Laba-laba”.

Ada lagi, ia bisa merubah ukuran tubuhnya menjadi sangat kecil. Orang-orang menyebutnya, “Manusia Semut”.

Selanjutnya, ada sesosok pria, yang bisa merubah wujudnya menjadi sesosok pria berbadan besar, berwarna hijau, dan hanya mengenakan kolor. Orang-orang menyebutnya, “Kolor Ijo”.

Ada pria yang badannya sangat kuat. Kebal dari tusukan pedang bahkan peluru tajam. Orang-orang menyebutnya, “Samson Betawi Otot Kawat Tulang Besi”, eh bukan, maksud saya, “Manusia Super”.

Ada juga “Manusia Besi”, “Perempuan Kucing”, “Kapten Indonesia”, “Panter Hitam”, “Manusia Aqua”, “Dokter Aneh”, dan lain-lain.

Sekarang, mari kita kaitkan penyebutan dari superhero-superhero tadi dengan khazanah per-ghaib-an Indonesia.

Ada sosok-sosok seperti, “manusia kelelawar”, “manusia laba-laba”, “kolor ijo”. Di Indonesia, hanya ada satu makhluk yang pantas menjadi sosok-sosok manusia setengah hewan. Yaitu, siluman.

Baca Juga: Lucu-lucuan di Tengah Pandemi: Gerakan Anarko dan “Ketua”-nya yang Maling Helm

Itu sebabnya, kita harus bersyukur, superhero-superhero bukan berasal dari Indonesia. Karna ya percuma juga. Di Indonesia, mereka bukan dianggap superhero, tapi lebih kepada manusia jadi-jadian. Lagian juga kasihan. Selain di stigma sebagai para penganut ilmu hitam. Mereka akan menjadi objek adsense paranormal youtube Indonesia. Dan jangan heran, kalau mereka akan menjadi inspirasi bagi masyarakat-masyarakat yang lain, untuk bersemedi dan tirakat.

Atau bahkan, kita bakal nonton tayangan “Paranormal Experience”-nya Raditya Dika. Dimana disitu akan ada kesaksian dari masyarakat yang mengaku pernah bertemu dengan para superhero.

Dan satu lagi, kita akan menyaksikan sebuah keniscayaan kalau superhero-superhero berasal dari Indonesia. Yaitu semakin terkisisnya eksistensi hantu-hantu lokal. Mereka akan kalah pamor. Pocong, kuntilanak, babi ngepet, tuyul, serta gendurwo, mau tidak mau akan tersingkir. Mereka akan melakukan eksodus besar-besaran. Apa kita tidak kasihan? Hanya orang-orang yang tumpul jiwa ke-hantu-annya yang tega dan membiarkan fenomena itu terjadi.

Tapi syukurnya tidak. Para superhero itu sudah sangat benar berasal dari Amerika. Dan negara barat tidak memiliki khazanah ke-ghaib-an sebaik Indonesia.

The thing is, sudahkah kita bersyukur akan hal ini?

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.