Kelompok Terorisme Mujahidin Indonesia Timur (MIT): Licin dan Bagai Tarzan

tni mujahidin indonesia timur mit tarzan

Kelompok Terorisme Mujahidin Indonesia Timur (MIT): Licin dan Bagai Tarzan

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Good luck, troops. Let start the hunt!

Thexandria.com – Air mata Ibu Pertiwi kembali mengalir disebabkan sebuah peristiwa yang terjadi di  Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah pada Jumat (27/11). Seperti kita ketahui bersama, dalang dari persitiwa ini tak lain tak bukan adalah kelompok terorisme Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Pembunuhan dengan cara pemenggalan kepala para korban ini menambah ironi kasus yang ditengarai berakar kepada eks konflik keagamaan. Pasalnya, tak sampai di situ saja. Beredar kabar bahwa sebuah gereja di daerah Sigi juga menjadi objek tindak keji para kelompok MIT dengan dibakar.

Namun hal tersebut cepat-cepat diluruskan oleh jajaran Polda Sulawesi Tengah yang menyebut bahwa tidak ada kasus pembakaran gereja. Berdasarkan penelusuran dan olah tempat kejadian perkara tidak ditemukan satupun rumah ibadah yang rusak maupun terbakar.

“Berdasarkan olah tempat kejadian perkara, tidak ada gereja yang dibakar sebagaimana isu yang berkembang di luar, hanya saja tempat rumah yang bisa dijadikan pelayanan umat,” kata Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Pol. Didik Supranoto saat dikonfirmasi Merdeka.com, Sabtu (28/11).

Baca Juga Tentang Menteri KKP Edhy Prabowo yang Jadi Tersangka

Pusaran yang berputar di linimasa menghasilkan beberapa spekulan liar dari warganet terkait kejadian memilukan ini. Banyak yang menafsirkan hal ini merupakan konsekuensi dari kehadiran SKB 2 Menteri soal pendirian rumah ibadah dan Undang-undang ‘Blashpemy’. Hipotesis lain seperti faktor krisis sosial-ekonomi yang tak cepat ditindaklanjuti oleh pemerintah menjadikan para teroris semakin berani mengirimkan ‘sinyal’ ke publik.

Namun, warganet diminta untuk lebih bijak dalam berasumsi maupun menanggapi segala hal terkait kejadian ini agar tak menambah runyam suasana—buruknya adalah menjadi utopis.

“Diharapkan masyarakat tetap tenang, tidak terpancing berita-berita yang provokatif, pihak kepolisian bersama TNI telah berusaha semaksimal mungkin untuk menangani masalah ini,” tutup Kombes Pol. Didik berharap semua ini segera menemukan titik terang.

Kiprah dan Eksistensi

Semenjak kasus Bom Bali 2002, masyarakat umum dan pemerintah semakin sadar bahwa ancaman terorisme di Indonesia semakin besar dan semakin berbahaya. Meskipun satu per satu anggotanya telah ditangkap, tewas tertembak ataupun aksi terorismenya telah digagalkan, namun ternyata jaringan teorisme Indonesia masih hidup dan menyebar luas. Akar ideologi ekstrimismenya belum mampu dicabut pemerintah. Tercatat beberapa kelompok teroris di Indonesia pun masih aktif salah satunya ialah Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Kelompok Mujahidin Indonesia Timur, yang umumnya disingkat MIT merupakan kelompok Islam militan yang kerap melakukan aksi terornya di wilayah pegunungan Kabupaten Poso dan bagian selatan Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah di Indonesia. Secara umum MIT melakukan operasi teror mereka di daerah Sulawesi Tengah (Sulteng), namun mereka juga mengancam akan menyerang target mereka di seluruh Indonesia.

Sosok Ali Kalora, pemimpin MIT saat ini.

Awal mulanya, pada 2010, seseorang bernama Santoso alias Abu Wardah dan rekan-rekannya berhasil mengumpulkan senjata dan menemukan tempat pelatihan militer di Gunung Mauro, Tambarana, Poso Pesisir Utara, serta di daerah Gunung Biru, Tamanjeka, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Gerakan MIT mendapatkan dukungan dari kelompok terduga teroris lain yang terhubung dalam jaringan mereka, antara lain kelompok Mujahidin Indonesia Barat (MIB) pimpinan Abu Roban, sebuah sel yang berperan untuk mendapatkan dana/kekayaan melalui perampokan (fa’i) di berbagai daerah di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jakarta.

Pada 2016, Santoso selaku pemimpin MIT tewas dalam baku tembak oleh Satgas Operasi Tinombala. Kemudian disusul oleh Basri selaku tangan kanan dari Santoso yang juga tertangkap beserta istrinya oleh satgas yang sama. Setelahnya, estafet kepemimpinan diambil alih oleh Ali Kalora. Secara langsung mereka mendeklarasikan sumpah setia kepada Negara Islam Irak dan Syam atau dikenal dengan ISIS. Kini, kekuatan mereka ditengari menyisakan sekitar 10 orang atau lebih.

Kebiasaan kelompok MIT yang selalu memakan korban warga sipil ini terunifikasi dengan paham Khawarij—implikasinya adalah siapa saja yang tidak sepaham dengan mereka, maka akan halal darahnya untuk dibunuh. Dan seperti yang disebutkan sebelumnya, dari kejadian yang mereka perbuat tentu akan mendapatkan atensi dan terpublikasi. Perkara tersebut menyebabkan hadirnya pemberitaan mengenai aktivitas mereka yang menjadi penanda terhadap eksistensi mereka, baik bagi publik maupun ISIS khususnya. Dan itulah tujuan mereka menebar teror. Publikasi.

Sebuah Medan Terjal untuk Tinombala

Perburuan MIT terus berlanjut.

Negara sebenarnya sudah merespon lewat dibentuknya tim Satgas Operasi Tinombala mulai medio 2016 yang kemudian terus diperpanjang hingga sekarang. Dilansir dari Wikipedia, Operasi Tinombala adalah operasi yang dilancarkan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) pada tahun 2016 di wilayah Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Operasi ini melibatkan satuan Brimob, Kostrad, Marinir, Raider, dan Kopassus.

Diketahui bahwa operasi tersebut telah tiga kali diperpanjang tahun ini dengan target yang sama. Masa tugas satgas ini seharusnya berakhir pada 30 September lalu, tetapi dengan adanya kasus terbaru maka masa pengerahan diperpanjang hingga akhir tahun 2020. Lalu, apa yang menjadi ‘batu sandungan’ bagi satgas ini sehingga perlu bertahun-tahun untuk bisa menghabisi kelompok Ali Kalora cs ini?

Faktor utama yang kentara adalah geografis atau medan tempur yang sulit, hutan belantara dan pegunungan. Sehingga diperlukan pasukan khusus terlatih yang mampu untuk survive dengan situasi demikian. Sebab, alat perbantuan militer seperti drone thermal detector maupun motion detector kerap terkecoh. Sering kali yang tertangkap secara visual adalah pergerakan hewan mamalia dan hewan liar lainnya sebagai penghuni hutan. Situasi hutan dengan vegetasi yang lebat, juga terkadang tercipta situasi basah, lembab dan dingin mempengaruhi alat bantu lacak seperti IR/Thermal Imaging untuk melakukan deteksi dan tracking. Sehingga, kehadiran anjing pelacak (K9) dinilai perlu sebagai komponen pendukung operasi untuk ‘mengendus’ posisi Ali Kalora cs.

Handalnya para anggota MIT di medan yang sedemikan sulitnya membuat kita bergeleng-geleng kepala sehingga menganggap mereka sudah menyatu dengan hutan atau sebut saja ‘Tarzan’. MIT sendiri sebenarnya dahulu memiliki seorang desertir tentara bernama Sabar Subagyo yang akrab dengan panggilan Daeng Koro. Dia bertindak sebagai pelatih dalam kemampuan survival di hutan belantara, meskipun pada 2015 dia harus meragang nyawa dalam kontak tembak. Namun ilmu yang dia berikan akan lestari secara beruntun dalam lingkup regenerasi anggota MIT. Well, it works.

Peneliti dari Institute for Security and Strategic Studies (ISeSS) Khairul Fahmi mengatakan semestinya operasi dituntaskan ketika MIT tengah mengalami krisis kepemimpinan setelah pembunuhan Santoso dan penangkapan Basri, salah satunya dengan memotong akses logistik dan sumber daya dari luar Poso, Parigi Moutong, dan luar negeri. Tapi toh itu tak terjadi. Kelompok itu kembali dengan Ali Kalora tampil sebagai pemimpin baru.

Diketahui, MIT mendapatkan suplai logistik dari merampok sumber daya yang dimiliki warga lokal daerah tersebut. Konsolidasi mereka berjalan dengan efektif dan bisa dikatakan sukses mengembangkan taktik insurgensi.

Sebanyak seratus pasukan gabungan diturunkan dalam perpanjangan Operasi Tinombala pada Selasa (1/12). Pemberangkatan dilakukan pagi ini dengan menggunakan pesawat milik TNI Angkatan Udara (AU) melalui Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. “Pemberangkatannya tadi,” ujar Kabidpenum Pusat Penerangan TNI, Letkol Sus Aidil, saat dikonfirmasi oleh Republika.

Good luck, troops. Let start the hunt!

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.