Kata “Anjay” yang Tak Salah dan Budaya Tongkrongan yang Harus Dimengerti

Pelarangan Kata Anjay

Kata “Anjay” yang Tak Salah dan Budaya Tongkrongan yang Harus Dimengerti

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Kata “anjay” adalah simantiknya, sementara “anjing” ialah leksikonnya

Gua bawa doi dari kemarin
Gayanya Anjay
Tas Elvy dan Gucci dipamerin
Harganya anjay
Sepatu jordan yeezy difotoin
Sepatunya anjay
Motor bebek ganti knalpot racing
Suaranya anjay
A en je a ye
Anjay
A en je a ye
Anjay
A en je a ye
Anjay
A en je a ye

Thexandria.com – Ini adalah sebagian lirik lagu dari Kemal Pahlevi yang berjudul, “Anjay”.

Huft… Let’s talk about it~

Makin kesini masyarakat Indonesia sering dihadapkan pada persoalan-persoalan yang tidak penting, atau nir manfaat.

Penggunaan kata “anjay”, contohnya, telah menimbulkan kegaduhan yang bagi sebagian besar masyarakat, menggelikan.

Pasalnya, telah beredar surat edaran dari Komnas PA yang melarang penggunaan kata “anjay”.

Hal itu dibenarkan oleh Ketua Umum Komnas PA, Arist Merdeka Sirait. Melansir dari kompas.com, ia mengungkapkan bahwa larangan penggunaan istilah “anjay” harus dilihat dari beberepa sudut pandang dan tergantung konteks pemakaian.

“Apakah itu bermakna merendahkan martabat, melecehkan, membuat orang jadi galau atau sengsara, kalau unsur itu terpenuhi, maka istilah anjay tentu itu mengandung kekerasan. Jika mengandung kekerasan, maka tak ada toleransi.” Katanya.

Baca Juga Nyinyirnya Bu Tejo yang Tak Sepenuhnya Salah

Bahkan, menurutnya penggunaan “anjay” dalam konteks tersebut bisa dipidana sebagai bentuk kekerasan verbal sesuai dengan ketentuan Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Namun, ia juga mengatakan apabila istilah tersebut digunakan dalam konteks memuji atau mengungkapkan rasa kekaguman, maka Komnas PA tak mempermasalahkan penggunaan istilah “anjay”.

Penghalusan Kata dan Kultur Tongkrongan

Kata Anjay di Tongkrongan
Gambar hanya ilustrasi

Jika menilik dari pernyataan Ketua Umum Komnas PA, yang mengaku tak mempermasalahkan penggunaan kata “anjay”—jika dimaksudkan untuk ungkapan kekaguman, maka yang dimaksud penggunaan kata “anjay” bisa dipidana, dikembalikan lagi kepada seseorang yang dikatakan “anjay” oleh lawan bicaranya or somebody else, yang merasa dirugikan secara verbal.

Secara tidak langsung, Komnas PA menyadari bahwa penggunaan istilah “anjay” tak sepenuhmya salah, dan bahkan memang tidak salah.

Kita menyadari, bahwa kata “anjay” adalah penghalusan kata dari “anjing”, sebuah umpatan yang diasosiasikan, dan berkonotasi negatif. Tak cuma “anjay” sebetulnya, “anjir” pun juga demikian.

Kalau istilah akademisnya, dalam ilmu liguistik, didalamnya ada simantik dan leksikon. Kata “anjay” adalah simantiknya, sementara “anjing” ialah leksikonnya.

Penghalusan kata tersebut, adalah fenomena tersendiri yang berkembang dalam budaya tongkrongan anak-anak muda. Demi menghindari kalimat vulgar yang dikonotasikan negatif, maka tercetuslah kata-kata seperti “anjay” maupun “anjir”.

Yang perlu digarisbawahi, mayoritas masyarakat Indonesia mulai mengenal idiom, atau kata-kata tongkrongan ketika remaja. Berdasarkan pengalaman empiris penulis sendiri, kata “anjing” telah menyebarluas di kalangan anak SMP maupun SMA, dan terbatas hanya di tongkrongan. Fenomena pengenalan dan penggunaan kata-kata konotasi negatif ini pun erat kaitannya dengan psikologis remaja yang biasanya ingin terlihat rebel.

Dan semuanya terasa lumrah dan natural. Karena itu tadi, hanya terbatas ditongkrongan.

Hingga kemudian era digital memenuhi seluruh aktivitas masyarakat, terlebih, para remajanya.

Jika case-nya adalah kata “anjay” sering digunakan oleh anak-anak kecil karena terpengaruh oleh sosial media. Maka permasalahan ada pada regulator dan user, dalam hal ini pengawasan orang tua. Bukan pada kata “anjay”. Konten-konten eksplisit, sudah sering diberi tanda, “konten mengandung bla bla bla dan butuh pengawasan orang tua”.

Sebaliknya, hadirnya kata “anjay” maupun “anjir” justru malah “menyelamatkan” generasi muda, terlebih yang dibawah umur. Karena bagaimanapun, kata “anjay” merunut dari latar belakangnya, adalah sebuah fenomena penghalusan kata.

Karena begini, kita melihat anak-anak dibawah umur masif mengucapkan kata “anjay”, yang muasalnya dari budaya tongkrongan, kemudian menyebarluas di sosial media. Sekarang bayangkan jika penghalusan kata itu tidak pernah ada, dan anak-anak dibawah umur (melihat dari realitanya) terpengaruh dari sosial media disertai minimnya pengawasan orang tua. Apa yang akan mereka ucapkan? Tentu lekiskonnya. Simantik lebih baik ada, untuk kemudian mengaburkan konotasi aslinya.

Fenoma ini juga harusnya mengingatkan kita, untuk melihatnya secara utuh. Kita tidak bisa menampik bahwa memang telah terjadi pergeseran makna dari kata “anjing”, yang dihaluskan menjadi “anjay” atau “anjir”, tak melulu soal umpat mengumpat. Namun lebih kepada ungkapan kaget, atau kekaguman yang secara lumrah keluar begitu saja.

Seperti halnya yang dikatakan Goerge Carlin, seorang komedian, penulis sekaligus aktor asal Amerika,

“The words are completely neutral. They’re innocent. It’s the context that counts. It’s the user. It’s the intention behind the word that makes it good or bad”

Anjay, lah~

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.