KAPITAL di Balikpapan Berdistorsi; Sebuah Monumen telah Berdiri

KAPITAL di Balikpapan Berdistorsi; Sebuah Monumen telah Berdiri

KAPITAL di Balikpapan Berdistorsi; Sebuah Monumen telah Berdiri

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Thexandria.com – Balikpapan Berdistorsi sukses dihelat di caffe Lays Balikpapan. Sukses tak hanya sekedar mampu mendatangkan musisi-musisi dari Kaltim dan Kapital khususnya.

Balikpapan Berdistorsi juga sukses membuat gigs dan penonton tak bersekat, energi yang menyelimuti saat acara, memuncah dan mencakah garis-garis imajiner. Menyisakan hormon endorfin yang seolah mendominasi kebutuhan oksigen.

Beberapa panitia, sibuk hilir mudik, mempersiapkan semuanya.

Hingga dimulailah acara, sebuah majelis, perkumpulan orang-orang yang mengais distorsi dari kesibukan hidup yang mendistrak menuju penat.

Tujuan mereka semua satu; melumat penat!

Acara dibuka dengan performa apik dari beberapa musisi lokal dari Balikpapan, Tenggarong, dan Handil. Tak hanya metal, genre-genre musik seperti rock alternatif, Nu metal, pop punk, bahkan pop rock. Turut andil sebagai “pembicara nada di tengah majelis suara”.

Penonton tak sungkan dan segan ikut bernyanyi, memenuhi gigs. Saya melihat dan seperti merasakan, hari itu, rupa-rupanya, penonton tak sepenuhnya berkehendak atas dirinya. Emosi dari musik lah, yang justru mengontrol penonton secara penuh.

Semakin malam, gigs benar-benar menggila. Alunan distorsi membuat penonton moshing dan headbang dengan penuh khidmat.

Terbentur, membentur, bahkan terjatuh, menjadi salah satu kenikmatan tersendiri bagi mereka.

Dentuman suara menyatu dalam keriuhan mereka yang paling jujur. Tak ada sakit yang berarti ketika terbentur, tak ada niat menyakiti ketika membentur, dan tak ada dendam ketika terjatuh.

Jeda mengambil perannya saat Kapital telah sampai ke venue dan segera memulai meet and greet. Selain itu, juga memberi kesempatan kepada penonton untuk merehatkan tubuh yang mempunyai limit.

Kapital, band metal asal Tenggarong yang telah berjalan lebih dari satu dekade ini, adalah representatif band metal asal Kalimantan di kancah nasional. Kapital yang tak pelak menjadi sebuah kebanggan masyarakat Kalimantan, dengan ramah menyapa penonton, dan disambut riuh oleh Peluru Tajam (sebutan bagi fans militan Kapital).

KAPITAL melepas salah satu proyek ambisiusnya sebagai bagian dari perayaan 15 tahun mengaumnya di peta musik keras Indonesia.

KAPITAL hadir dengan perubahan formasi yang cukup dramatis di akhir tahun lalu, yang justru melahirkan potensi kekuatan terbaik dari sektor performa panggung dan aransemen musik KAPITAL.

Bergabungnya Baken Nainggolan (Ex-Gitaris Hellcrust Siksa kubur Betrayer) Ewien Saputra (best drummer Festival Rock Indonesia-Log Zhelebour 2004) dan dan Ariz Pratama (Bass/Biang Kerock) menghadirkan energi dan semangat baru bagi musik KAPITAL. Gagasan-gagasan berspektrum liar dan marah Akbar Haka (vocal) dan Ari Wardhana (Gitar).

Akbar Haka menjelaskan, bahwa MANTRA menjadi semacam monumen kecil yang akan menandai kehadiran KAPITAL jauh bertahun-tahun ke depan. Akbar berkata jika MANTRA, adalah album paling menguras tenaga dan isi kepala mereka.

Di album MANTRA, Kita tidak hanya akan disuguhi raungan distorsi yang memekakkan tetapi juga akan dihipnotis dengan unsur choir orkestrasi megah nan kelam, alunan alat musik etnik dayak dan yang paling meneror adalah kemunculan rapal mantra-mantra mistis suku dayak dan kutai di hampir semua lagu. “Album ini memang meng-capture mistisitas kalimantan” kata Akbar.

Ketika ditanya mengenai alasan mengapa memasukan rapalan-rapalan mantra suku dayak, Akbar menjawab dengan lugas, bahwa itu merupakan salah satu cara KAPITAL menjaga tradisi budaya bagi generasi selanjutnya.

Sebuah nilai luhur, yang dijaga, dan dilestarikan dalam bentuk musik. Jenius.

Pada saat sesi tanya dibuka, thexandria bertanya kepada KAPITAL mengenai potongan lirik di lagu Mantra;

“98 reformasi fasih berkumandang, otonomi daerah kami dapatkan sebagai jebakan”.

Kami bertanya mengenai maksud lirik tersebut yang secara eksplisit seperti mengkritik otonomi daerah bagi Kaltim khususnya.

Akbar Haka tak menampik bahwa lirik tersebut merupakan sebuah kritikan bagi pemerintah.

Ia menjelaskan dengan data, ia berujar bahwa Kukar yang selama ini dianggap kaya, dan memang sebenarnya merupakan daerah yang kaya, telah menghasilkan devisa bagi negara, senilai 13 triliun rupiah. Namun, pendapatan yang dibagi dan dikembalikan ke daerah untuk membangun dan mensejahterakan masyarakatnya, hanya mendapat 3,4 triliun rupiah.

Selain itu, ketika kami juga bertanya mengenai apakah KAPITAL memiliki goals diluar musik, Akbar Haka menjelaskan secara gamblang, bahwa kelebihan musik keras, kita akan mendapatkan teman dari seluruh daerah.

Dan musik keras, adalah musik pertemanan, karna itu tak akan pernah padam.

“Ketemu orang yang sama-sama pakai baju hardcore, awalnya diem-dieman, tapi gak lama bakal langsung jadi temen.” Ujarnya.

Disisi lain, Akbar Haka dan KAPITAL berharap bahwa bisnis mereka sendiri seperti penjualan merchandise dapat selalu hidup.

Yang tak kalah menarik adalah, Akbar Haka mengungkapkan bahwa belakangan ini ia kerap menjadi pembicara di event-event yang digelar oleh Bekraf.

Disisi lain, Akbar Haka dan KAPITAL berharap bahwa bisnis mereka sendiri seperti penjualan merchandise dapat selalu hidup.aAkbar menceritakan bahwa ia diminta untuk menjelaskan perjalanannya bersama KAPITAL, tentang bagaimana ia dulunya suka gila-gilaan.

Ia juga berkata, bahwa tak perlu pergi ke Jakarta, dari daerah pun, semua orang dapat berkembang. Akbar merasa seperti sedang berkontemplasi.

Tak lama, acara kembali berlanjut, sebelum KAPITAL tampil, penonton dibuat melakukan “pemanasan kembali”, oleh Teralist, band metal dari Balikpapan.

Dan lagi, penonton “dipaksa” larut dalam distorsi yang memekakan telinga, moshing dan headbang kembali tersaji di gigs. Energi telah re-charge, atmosfir panas membentuk dengan sendirinya di langit-langit, sedang di jiwa mereka, barangkali adalah sebuah ucapan terimakasih karna melalui musik keras, emosi mereka termediumisasi dengan baik.

Dan terakhir, Balikpapan berdistorsi malam itu ditutup oleh performa KAPITAL, riuh penonton bak desingan peluru-peluru liar tak bertuan di medan perang yang menyisakan jasad-jasad bergelimpangan, penonton tak ubahnya satu batalyon serdadu yang patriotik.

Baca Juga: Deftones dan Sisi Depresif Nu Metal 90-an

Rapalan-rapalan mantra, mistisitas yang tak dibuat-buat, dan kelamnya distorsi yang terjadi, membuat KAPITAL tak ubahnya jendral perang yang berpidato untuk berani bertempur demi suatu yang diyakini. Sebuah akumulasi dan refleksi dari amarah.

Tentang bumi yang kian sakit, leluhur yang terlupa sebab zaman kian berubah, dan musik sebagai penanda bagi sebuah kesadaran, bahwa semuanya bisa saja insidentil.

Dari monumen ini kita tersadar, bahwa hidup adalah tentang keseimbangan, kosmologi tak melulu vertikal, dari belantara sekalipun, order dan chaos dapat terkristalisasi tanpa ketuk tanda permisi.

Ritual telah dimulai, mantra-mantra dirapalkan, mari menari, berputar-putar, nyalakan api! Nyalakan api!

Sumber Foto: Zain Sinjay

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.