Kalian Mungkin Bukan Atheis, Barangkali Hanya Malas Ibadah

Kalian Mungkin Bukan Atheis, Barangkali Hanya Malas Ibadah

Kalian Mungkin Bukan Atheis, Barangkali Hanya Malas Ibadah

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Thexandria.com – Upaya pencarian jati diri terus bergulir oleh diri manusia dalam menentukan peran yang akan ditunjukkan kepada masyarakat. Sejalur dengan beberapa hasil penelitian para ahli psikologi, tak ayal fase yang selalu menjadi waktu paling tepat dalam pencarian jati diri adalah pada saat masa muda.

Segala role model yang diwujudkan sebagai seorang tokoh idola kemudian berusaha direfleksikan baik dalam cara berfikir, berpenampilan, sampai berjuang pada kisah hidup masing-masing.

Invasi teknologi informasi yang masif telah membentuk perduniawian yang lebih dinamis, juga mempengaruhi banyak orang dalam membangun pemikiran-pemikiran berdasarkan varian ideologi yang kemudian secara progresif merubah “self-branding” masing-masing.

Cukup banyak rekan sebaya yang makin dewasa makin akrab dengan banyak ideologi, mulai dari komunisme, kapitalisme, anarkisme, liberalisme, sosialisme, monarkisme, nasionalisme, nazisme, libertianisme, konservatisme, fasisme, demokrasi sampai kepada komunitarianisme.

Kemudian beberapa ideologi tersebut secara implisit mereka gunakan sebagai cara pandang pribadi, dasar berfikir atau bahkan hanya sekedar hanya ingin “terlihat keren” saja.

Bahkan secara pribadi saya menganut sebuah ideologi yang tidak populer karena saya sendiri yang membuat, yaitu Universal Genreisme—dengan percaya dirinya saya berusaha merumuskan sebuah ideologi “murahan” bagi diri saya sendiri.

Maknanya lebih mengarah kepada rasionalitas dan keterbukaan diri saya terhadap apa saja yang menurut saya nyaman untuk saya jalani dengan tetap memikirkan dampak tindakan saya kepada orang lain.

Secara etimologi esensi dari ideologi tersebut berdasarkan kata Universal; yang berarti terbuka dan selalu berkaitan erat dengan kemanusiaan, lalu Genresime; yang mengartikan genre sebagai sebuah aliran yang kemudian saya anut.

Terlepas dari apapun tujuan kaum millenials mempelajari dan mengimplementasikan ideologi yang mereka dapatkan, setidaknya ini merupakan langkah pertama untuk membuka wawasan para pemuda dalam melihat dunia.

Dalam prosesnya di kemudian hari, beberapa ideologi akan menguatkan pendirian dalam membangun lingkungan sekitar, probabilitas terbaiknya adalah rasa kepedulian dalam menegakkan kebenaran, membela kaum tertindas, dan menciptakan kebijakan yang lebih manusiawi.

Meskipun secara sadar, saya sadar bahwa semua mungkin saja hanya sebatas ilusinitas yang hakiki.

Ilmu duniawi tersebut juga selaras dengan dogma, yang diprakarsa seluruh agama di muka bumi, dengan idiom populer “tidak ada agama yang mengajarkan umat-Nya untuk berbuat kejahatan dan keburukan” maka Tuhan-lah yang lebih dahulu dalam meregulasi manusia dalam bertindak dan berfikir.

Karena memang Tuhan itu Maha Kuasa, bukan sekedar Penguasa.

Asas Praduga Tak Bersalah

Tindakan konversi dalam mencerna sebuah ideologi tertentu kadang menghadirkan bermacam respon yang mendistorsi, diantaranya kesepakatan dan pertentangan terhadap lingkungan sekitar bahkan diri sendiri. Pergolakan dalam diri sendiri terkadang menyentuh aspek teologis yang sudah dianut dari awal kelahiran.

Hal inilah yang kemudian melahirkan beberapa ideologi yang sifatnya kepercayaan. Juga menimbang zaman yang semakin “edgy” banyak sekali yang dengan bangga mengakui diri mereka sebagai penganut agnostik bahkan tidak sama sekali menganggap eksistensi Tuhan, yang kemudian dikamuskan dengan istilah atheisme.

“I am agnostic/atheis now. Sorry, I am not into about religion”, kalimat yang sering terekam dengan baik oleh telinga saya dan kemudian memunculkan banyak pertanyaan.

Ketika pertanyaan yang muncul di kepala mulai saya suarakan “Mengapa kamu memilih menjadi seorang atheis?”

Beragam jawaban pun muncul, mulai dari faktor keluarga yang tidak mengajarkan nilai religi, karena pemahaman dan pengalaman pribadi, bahkan ada yang beralasan hanya ingin terlihat keren sebagai modern-lifestyle.

Modernitas membuat beberapa pandangan subyektif kepada orang-orang beragama, bahwa mereka sudah terlalu kuno dan kurang menarik.

Dalam visualiasi pikiran mereka, orang beragama yang ilmu agamanya sudah terpaut tinggi sering menampakkan perilaku kurang bersahabat dengan sesama manusia, saling mencaci-maki, menyakiti bahkan menilai baik-buruknya seseorang karena ketidak-religiusannya.

Ditambah konflik yang dibuat para tokoh antagonis dunia, seperti Osama bin Laden (pemimpin Al Qaedah), Abu Bakr Al-Baghdadi (pentolan ISIS) dan George W Bush (mantan presiden AS) semakin menjadikan agama tampak jauh lebih usang bagi masyarakat modern.

Menarik benang ke belakang, seorang filsuf asal Jerman, Friedrich Nietzsche dengan urat keberaniannya mencetuskan satu kalimat “God is dead”, yang berati Tuhan telah mati. Kalimat tersebut cukup membuat satu dunia menyorotinya.

Nietzsche membedah dan berkonklusi tidak sefaham dengan nilai keagamaan (Kristen saat itu) yang dipengaruhi oleh ajaran Plato. Nietzsche menganggap kekristenan mengajarkan orang untuk menolak, membenci, dan melarikan diri dari kehidupan di dunia ini demi suatu mitos “dunia nyata” yang imajiner.

Nietzsche menuduh para tokoh agama sebagai pengajar-pengajar maut, karena membuat orang cukup pesimis terhadap kehidupan daripada kematian. Kematian dipahami sebagai syarat manusia menuju ke “alam sempurna” yang disebut dengan surga.

Kritik Nietzsche sangat dimaklumi, karena pada dasarnya dia adalah seorang atheisme.

Rasionalitas Kepada Sebuah Entitas

Pernyataan bermakna abstrak dari para atheisme adalah “Saya tidak percaya kepada Tuhan” yang kemudian menimbulkan hipotesis awal bahwa sikap tersebut berbeda-beda pada setiap periode waktu.

Mereka selalu menolak konsepsi tertentu tentang illahi, lalu apakah “Tuhan” yang ditolak oleh para atheisme masa kini adalah Tuhannya para patriark, Tuhan para nabi, Tuhan para filosof, Tuhan kaum sufi, atau Tuhan kaum deis abad ke-18?

Semua ketuhanan dari masa ke masa tersebut telah diverifikasi sebagai Tuhan dalam Al-quran dan Alkitab oleh umat Islam, Kristen, dan Yahudi pada berbagai periode perjalanan sejarah mereka, karena Tuhan itu Maha Kekal.

Lalu, apakah atheisme millenials masa kini merupakan penolakan serupa terhadap “Tuhan” yang tidak lagi memadai bagi persoalan pada saat ini?

Dalam sains pun, manusia tidak bisa hanya menerima kodrat klasifikasi sebagai Homo Sapiens saja, namun juga spesies Homo Religius yang dianggap mustahil untuk hidup tanpa meyakini sesuatu, termasuk Tuhan beserta agamanya.

Satu-saatunya Hal yang Pantas untuk Direnungkan

Secara naluriah, manusia tidak dapat membantah, bahwa dalam kehidupan, ada semacam “kekuatan” di luar nalar.

Kerumitan nan megah yang termanifestasikan dalam seluruh semesta, bahkan dalam diri makhluk hidup di bumi, terlalu naif jika hanya disandarkan pada suatu proses kebetulan belaka.

Dan jika, manifestasi tersebut dihantarkan kepada sudut pandang saintis, maka premisnya tak akan pernah berubah, “sesuatu yang ada, berawal dari tidak ada”. Tak perduli klaim orientasi pandangan agamis, agnostik maupun atheis.

Baca Juga: Yang Terjauh Bukan Jarak, Tetapi ‘Long Distance Religionship’

Dirunut lagi sampai ke Big Bang, maka apakah fenomena ledakan besar tersebut hanya fenomena kosmologi belaka? Kembali ke premis, ada Alpha dan Omega.

Ada awal dari semuanya, dan satu-satunya hal yang paling pantas untuk direnungi ialah Energi Maha Abstrak, atau dalam agama, disebut Tuhan.

Bayangkan, atau pernahkah, kamu berada dalam posisi yang benar-benar terpuruk dan terdesak?

Secar sadar, intuisimu akan meminta bantuan. Terlepas datang atau tidaknya bantuan yang diharapkan, jelas, kamu telah menyandarkan harapanmu pada sesuatu.

Sesuatu yang kita sadar betul bahwa ada “kekuatan” diluar garis imajiner kita, yang dapat menjadi “telinga terakhir bagi jeritan intuisi kita”.

Pun di sisi lain saya memaklumi, jika hidup, adalah sebuah proses pencarian.

Sah-sah saja untuk memilih menjadi agnostik atau atheis sekalipun. Asal, tetap sampai ke “tujuan”.

Banyak jalan menuju cahaya, kita, hanya berjalan di milyaran rute lainnya.

Karena pada hakikatnya, Tuhan beserta agamanya adalah kebenaran, dan manusia hanyalah pembenaran.

Dan barangkali, kamu tidak benar-benar atheis, kamu hanya ingin terlihat “edgy” dan (mungkin) malas beribadah saja.

Sumber Foto: Zain Sinjay

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.