Kalian Disarankan untuk Tidak Banyak Tingkah (Kecuali Good Looking)

Keadilan Hanya Untuk Good Looking

Kalian Disarankan untuk Tidak Banyak Tingkah (Kecuali Good Looking)

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

“Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Good Looking”

Thexandria.com – Setiap manusia lahir ke dunia ‘dibekali’ anugerah masing-masing yang menjadi atribut hidup sampai ia mati. Anugerah tersebut bermacam-macam bentuknya; kondisi fisik, bakat dan kemampuan, bahkan lingkungan juga bisa menjadi sebuah anugerah. Dari semua aspek di atas yang agak sulit bahkan hampir mustahil untuk diubah adalah kondisi fisik.

Memang, di zaman yang sudah maju ini ada sebuah metode medis bernama operasi plastik yang dapat merubah bentuk bagian tubuh manapun. Tapi, tidak semua orang mampu dan ingin untuk melakukan operasi plastik bukan?

Kondisi fisik manusia yang beragam bentuknya, secara tidak langsung menghadirkan klasifikasi dalam tatanan sosial masyarakat. Jika di-bahasa-kan dengan diksi yang ‘akrab’ dengan masyarakat, maka pembagiannya akan seperti ini: cakep (tampan-cantik), biasa saja, dan (maaf) jelek. Klasifikasi ini juga yang sedikit banyak memberikan konflik baru dalam kehidupan sosial masyarakat.

Baca Juga Balada Teman yang Bau Ketiak: Kewajiban Kita untuk Menuntun, Bukan Menuntut

Egoisme yang bercampur dengan sikap semi-superior yang menyebabkan adanya diskriminasi bermotif fisik—menyoal intuisi dari hipotesis “kalau kamu cantik, 50% masalah idupmu sudah kelar.” yang secara realita hampir benar, kemudian dikonversi menjadi sebuah terminologi ‘beauty privilege’.

Meskipun tidak dibuktikan secara eksplisit, kejanggalan semacam itu ramai ditemui di sekitar kita. Dunia kerja misalnya, dalam proses rekrutmen sebagian besar mengedepankan persyaratan ‘berpenampilan menarik‘ kepada para calon pelamar. Bagi mereka yang good looking, satu langkah sudah terlewati dan hanya perlu memikirkan persyaratan lainnya. Berbeda dengan mereka yang tidak memiliki penampilan menarik, belum juga mendaftar sudah mundur duluan. Tak bisa dibantah bahwa terdapat satu aspek yang sangat-amat penting namun terabaikan dalam dunia kerja: good attitude.

Dalam lingkup sosial lainnya adalah pada skala hubungan pertemanan antar individu. Sering terjadi seleksi circle pertemanan yang berdasarkan tampilan fisik. Barang tentu contohnya begini: pada awal pertemanan, pasti akan banyak yang memperebutkan seorang Anya Geraldine untuk dijadikan seorang teman ketimbang seorang Kekeyi. Padahal, tampilan fisik tidak menjamin sikap yang baik untuk dijadikan seorang teman. Don’t judge a book by its’ cover.

Baca Juga Nyinyirnya Bu Tejo yang Tak Sepenuhnya Salah

Standar kecantikan yang subjektif di masyarakat hanya terpaku pada ‘tinggi, seksi, dan putih’ yang terkulminasi dalam diksi ‘enak dipandang’ layaknya para model. Sebenarnya pembentukan paradigma semacam ini salah satunya disebabkan oleh seringnya konsumsi iklan produk kecantikan oleh masyarakat. Beberapa jargon yang secara garis besar mengatakan bahwa “cantik itu putih” secara tak sengaja membentuk konotasi negatif pada orang-orang yang memiliki kulit gelap.

Dalam foto tersebut nampak beberapa kawula muda yang sedang menikmati kegiatan hedon mereka. Sangat bebas seperti pandemi ini sudah berakhir saja atau mereka memang tidak peduli saja? Kebetulan secara kelas, mereka masuk ke dalam orang-orang terpilih—kaya, cantik dan tampan, dan begitu famous.

Baca Juga Andai Giring Beneran Maju Capres 2024, Siapkah Kamu? Nyanyi Laskar Pelangi dulu, Yuk!

Popularitas mereka sangat berpengaruh terhadap persepsi para pengikutnya, terkhusus para hard-liner (garis keras). Hilangnya akal sehat dalam menggilai sang idola akan membutakan dan apa yang dilakukan oleh sang idola akan selalu benar—sekalipun itu adalah perbuatan yang tidak sesuai norma dan hukum. Fanatisme ini merupakan sebuah celebrity worship syndrome yang salah.

Dari cuplikan twit di atas, membuktikan bahwa beauty privilege menjadi penerapan standar ganda dalam menyikapi sebuah kontroversi.

Cuitan tersebut seolah menjadi tamparan keras bagi warganet yang kerap menghakimi hanya pada orang-orang yang tidak berada pada ‘kelas eksklusif’. Karena sebelumnya, perundungan dengan masalah yang sama (berkumpul dan tidak memakai masker) sangat masif ditujukan pada beberapa circle yang ‘kelas’-nya tidak setara dengan para selebriti—kebetulan juga tidak good looking. Sehingga sebuah wejangan hadir untuk kalian-kalian yang ingin berulah: jangan, kalian ini sudah jelek membuat keributan pula!

Keributan ini pernah kita lihat pada sosok Kekeyi dengan lagu barunya kala itu. Tidak ada tendensi membela Kekeyi dalam kasus ini, tetapi masih banyak terpantau warganet yang menghakimi malah bukan dari karyanya tetapi personal dan fisik Kekeyi.

Bandingkan saat seorang Jefri Nichol tertangkap memiliki ganja, para penggemar memberikan support yang seolah membenarkan perbuatannya—terlepas dari perdebatan soal status ganja yang sejauh ini masih dilarang penggunaannya di Indonesia, ya taati sajalah. Dukungan tersebut pastilah karena Jefri Nichol adalah sosok mas ganteng yang menjadi crush online para e-girl.

Kelebihan dalam beauty privilege tidak semestinya menjadi ‘jembatan’ untuk mendapatkan akses yang mudah untuk suatu tujuan atau bahkan ‘memelintir’ norma yang berlaku. Dan bahkan, jika dikatakan itu adalah sebuah ‘kelebihan’ yang diberikan Tuhan, juga sangat kontraproduktif. Apa yang tidak good looking me-representasikan sebuah ‘kekurangan’? Kita semua adalah cukup, hanya mendapatkan beragam perbedaan, tidak ada yang mendapatkan lebih.

Baca Juga Di Balik Pemberian Tanda Jasa Pada ‘Duo F’ (Fadli Zon & Fahri Hamzah)

Maka benar saja kalau candaan yang menghadirkan plesetan dari salah satu sila dalam dasar negara: “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Good Looking.”.

Jika tak ingin setengah-setengah dalam pengamalan Pancasila, mari terapkan juga sila lainnya: “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.”. Sudah adil-kah kita dalam menjadi ‘polisi moral’ bagi orang lain? Nggak yang jelek doang kan yang dihakimi? Dan, apakah kalimat kita dalam menghakimi orang lain sudah ber-akhlak layaknya manusia ber-adab?

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.