KAARA

Cerpen; KAARA

KAARA

Penulis Suci Jayanti | Editor Rizaldi Dolly

Tinuut satu pesan di tab mention Twitter,

“Hai @KaaraAlshanee”

Thexandria.com – Hujan membasahi ayunan kecil tak berpenghuni, lusuh dan termakan oleh rayap. Ayunan yang dulunya sering dihinggapi senda gurau anak-anak kecil, ya tentu saja Kaara. Ayunan berwarna biru muda buatan tangan ayah. Sudah 10 tahun semenjak Ibu meninggalkan Kaara dan Ayahnya, rumah menjadi sepi.

Hanya Kaara, Ayah, seorang pembantu dan supir yang meramaikan rumah itu. Kaara Alshanee seorang gadis berusia 17 tahun. Anak kedua dari dua bersaudara, kakaknya  yang berkuliah di Amsterdam bernama Nathan Dimitri. Nathan memutuskan kuliah di Amsterdam karena ia sangat menyukai dunia arsitektur sehingga ia merogoh kocek lebih dalam demi hal yang ia sukai.

Sebagian orang mungkin mempunyai sahabat yang begitu dekat, ibarat jantung dan detak jantung tersebut. Begitu juga Kaara, entah apa yang membuatnya terpisah dengan sahabat karibnya. Ada hal yang tak bisa dijelaskan. Banyak kabar simpang siur tentang sahabatnya itu, namun sampai saat ini di usia Kaara yang sudah menginjak 17 tahun, sahabatnya tak pernah mengabari dimana dirinya berada. Semua hilang begitu saja bagai di hempas ombak.

Hari-hari dimulai dimana alarm berbunyi dan ketukan pintu yang lumayan keras.

“Non.. bangun, sekolah nggak, Non?”

…..

“Non.. Ayah udah nunggu di meja makan, lho. Ayo makan.”

“I..ya, Bi. Bentar lagi, nanggung nih. Lagi dicium..”

“Ha? Dicium siapa, Non? Tuaaaann… Non Kaara dicium orang!”

“Duh, Bi.. iya ini udah bangun kok. Nih, melek, kan? Hehe..” Sambil membuka pintu, Kaara cengegesan.

“Syukurlah, ngomong-ngomong Non Kaara tadi dicium siapa?” Ucap Bibi penasaran.

“Ng… Ada deeeehh! Yaudah, Kaara mau mandi. Bilang ke Ayah. Biar Kaara di antar Mang Udjo aja, Ayah duluan aja.”

“Tapi, Non..’

“Udah… Bi kasih tau, gih” Kaara pun setengah berlari menuju kamar mandi.

Kursi makan yang sering diduduki satu orang, pagi ini diduduki oleh dua orang. Tidak seperti biasanya Ayah sarapan pagi bersama Kaara. Biasanya Ayah pergi sebelum Kaara bangun, dan pulang disaat Kaara terlelap.

“Lho, belum berangkat? Tumben mau sarapan pagi di rumah.” Ucap Kaara sambil tersenyum kecil.

Seperti remaja yang mempunyai orang tua super sibuk dengan pekerjaannya, seperti itulah Kaara.

“Ayah udah lama nggak sarapan bareng anak Ayah. Sini duduk..” Ayah tersenyum menatap anak gadisnya.

“Gimana sekolahmu, Nak?” Sambung Ayah.

“Baik aja, kok.” Ucap Kaara singkat.

Bibi yang menatap percakapan antar anak dan ayah dari dapur pun menggelangkan kepala, merasa kasihan dengan keadaan rumah.

“Sudah ada yang mendekati anak Ayah?

“Banyak..”

“Sini, ajak ngobrol sama Ayah. Yang kalah main catur, harus  pijitin Ayah.” Ucap Ayah setengah tertawa.

“Apaaan, sih, Yah?” Kaara pun tersenyum seakan lupa apa yang dihadapinya sekarang.

“Oh iya, Keenan gimana? Ayah dengar kabar kalau dia dan keluarganya ada di Amsterdam. Masih kontakan sama kamu, kan?”

Mendengar ucapan Ayah, Kaara pun terdiam. Pikirannya kalut. Seakan ada bulan dan matahari yang bertabrakan di otaknya. Tidak tahu harus bicara apa. Hanya kalut yang dirasakan Kaara.

Entah mengapa, setiap kali Kaara mendengar nama “Keenan”; pikirannya menjadi kalut. Bagaimana tidak? Sahabat karib dari kecil tidak ada kabar sampai sekarang, ibarat di telan bumi. Sudah 6 tahun mereka tidak berkomunikasi, bukan tidak mau namun keadaan yang memaksa mereka tidak bisa saling sapa. Jarak bagaikan tembok yang menghalangi mereka, waktu yang membunuh keadaan mereka satu sama lain.

…..

Hiruk pikuk kota Jakarta mengantar Kaara ke sekolah. Ditambah  polusi yang memuakkan menambah kekalutan di pikiran Kaara, memaksa Kaara memasang wajah datar yang biasanya jarang ia pakai. Kaara termasuk anak yang ceria, hanya Keenan yang bisa membuatnya kalut cemberut. Beberapa insiden patah hati pun Kaara masih bisa menangani. Gebetan direbut teman juga Kaara jago menangani. Tapi urusan tentang Keenan, Kaara tidak bisa membohongi perasaannya.

…..

Senin pagi diawali dengan upacara bendera, beberapa anak telat termasuk Kaara. Wajah sangar Pak Mahmud terpampang nyata di depan pagar sekolah, kumis dan bibir yang menyeringai melihat anak-anak yang telat. Telat sudah menjadi keiasaan Kaara, bukan Kaara namanya kalau tidak telat. BK pun sudah menjadi basecamp. Guru-guru sudah tidak kaget jika Kaara yang masuk ke BK.

“Kali ini alasan apa lagi, Kaara? Ban kempes? Ketinggalan make up? Atau hatimu ketinggalan di Falen?” Ucap Pak Mahmud sinis.

“Tadi ada yang ngajak saya kenalan, Pak. Ganteng, makanya saya telat. Maaf  ya, Pak..” Ucap Kaara cengengesan.

“TUH, FAL. ADA YANG NGAJAK BIDADARI LO KENALAN, TUH! HAHAHA.” Celetuk salah satu anak laki-laki.

“Santai aja kali, bro. Dia punya gue. Nggak akan lepas deh!” Ucap Falen sinis setengah ngeledek.

Falen Bagaskara adalah salah satu mantan Kaara, hanya 3 bulan pacaran namun Falen sepertinya masih tergila-gila pada Kaara. Entah apa yang membuat Kaara mau menerima Falen, memang Falen salah satu cowok popular di sekolah. Anak orang kaya dan lumayan ganteng.

Perawakan tinggi, kulitnya yang putih, mata yang sipit dan rambut hitam kecoklatan. Salah satu hal yang menyebabkan mereka putus adalah Falen tidak sengaja melihat foto Keenan dan Kaara waktu umur 5 tahun. Bukan alasan yang rasional untuk di jadikan alasan, namun alasan lain mereka putus adalah Kaara yang tidak tahan dengan sifat Falen yang kasar dan terkenal playboy.

…..

Jam pertama selesai langsung disambung jam kedua, Matematika. Kaara yang sedari pagi kalut dipaksa menghadapi soal-soal matematika yang mematikan. Maklum, kelas 12 menjadi momok dimana stress bergelut dengan otak. Waktu untuk hangout dengan teman-teman dijadikan les-masal-disekolah, di tambah les private dirumah. Namun semua itu harus dijalani demi nilai yang memuaskan. Kaara termasuk anak yang cuek dengan pelajaran, tapi untuk kali ini ia meningkatkan performa belajar demi masuk Universitas yang ia inginkan. Amsterdam. University of Amsterdam.

“Amsterdam..”

Tak sengaja Kaara menyebutkan satu tempat, “Amsterdam”. Entah apa yang membuatnya berpikir untuk ingin segera ke Amsterdam. Memang Kaara sangat merindukan kakaknya, namun ada hal lain di benaknya. “Keenan..”. “Apa Keenan ada di sana?”

*Tinuut* satu pesan di tab mention Twitter,

“Hai @KaaraAlshanee”

                                                            Bersambung…

Baca Juga: Tumbang Bersama Kelam di Penghujung Malam

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.