KAARA (4)

Cerpen; KAARA

KAARA (4)

Penulis Suci Jayanti | Editor Rizaldi Dolly

“Aku Orang yang Paling Tidak Bisa Melihatmu Menangis”

Thexandria.com – “Gue jemput jam 7 malam ya.” Sambung Falen.

“…”

“Okay, diam berarti iya. Gue jemput ntar jam 7 malam. Bye, Kaara..”

Belum sempat membalas pembicaraan, Falen menghilang bagai ditelan bumi. Entah apa yang membuat Kaara berpikir untuk menerima ajakan dari Falen. Kaara hanya berpikir apa salahnya menghabiskan waktu diluar setelah seminggu penuh menghadapi ujian Nasional yang membuat isi kepala berantakan simpang siur entah kemana.

Perlahan Kaara sedikit demi sedikit mulai lupa dengan ketidakhadiran Keenan. Tapi tetap saja tekad untuk kuliah di Amsterdam tak terbendung. Selain untuk menemui Mas Nathan, mencari kabar Keenan di Amsterdam adalah tujuan Kaara. Bagaimanapun juga sahabat tetaplah sahabat, sejauh apapun sahabat itu berada; kabar baik dan kesehatan sahabat adalah hadiah termanis dari seorang sahabat.

—-

“@KaaraAlshanee: Setelah seminggu penuh berkutat dengan soal-soal.. (At Studio XXI with Falen)”  
“@ziaziu: Kesambet apaan lo mau jalan sama Falen? Wkwk. RT @KaaraAlshanee: Setelah seminggu penuh berkutat dengan soal-soal.. (At Studio XXI with Falen)”  
“@KaaraAlshanee: Itung-itung refreshing, Zi. Gue bosan di rumah.. @ziaziu”

“Aku harap aku bisa menemanimu saat kamu bosan, tapi kenyataannya aku nggak bisa..”

Malam semakin larut, waktu menunjukan pukul 21:20. Setelah menghabiskan satu film, Kaara dan Falen memutuskan untuk makan malam di salah satu restoran di Jakarta. Dengan di iringi rintik hujan, mereka berdua memasuki mobil dan menuju restoran terdekat. Hening terasa di antara Kaara dan Falen. Sesekali Falen menoleh kearah Kaara yang hanya termenung menatap rintik hujan yang membasahi kaca mobil. Kaara tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Trauma masih melekat di benaknya.

“Kaara..” Ucap Falen pelan.

“Hmm..?” Tanpa menoleh, Kaara menjawab seadanya.

Falen memaksa memarkirkan kendaraannya ke tepi jalan dan berhenti sejenak untuk memastikan keadaan Kaara.

“Kamu baik aja kan?” Ucap Falen pelan dan memastikan.

“Iya.. baik”

“Raa…”

“Iya, Fal?”

Falen seketika memegang pundak Kaara dan berpalinglah wajahnya ke wajah Falen. Falen memeluknya dan keheningan menjadi satu dengan suara rintik hujan. Angin yang bertiup kencang menjadi saksi tumpahnya tangisan Kaara, menjadi saksi hangatnya pelukan mereka satu sama lain, menjadi saksi ketenangan sejenak yang Falen buat untuk Kaara. Dalam pelukan mereka menyatu, tanpa suara, hanya isak tangis. Falen hanya bisa memeluk erat, seakan tak mau melepaskan pujaan hatinya.

Tak lama kemudian, Kaara pun melepaskan pelukannya. Tangispun mereda. Kembali hening dan rintik hujan pun beradu membuat ketenangan yang lebih dalam. Seolah-olah yang mereka perlukan hanyalah sebuah pelukan untuk meredakan suasana. Falen mencoba menghapus air mata Kaara dengan tangan kosongnya dan mendaratkan bibirnya kearah bibir Kaara.

“Fal.. nggak sekarang..”

Kaara berupaya menghalangi agar first kiss-nya tidak kecolongan, karena Kaara hanya ingin memberikan first kiss-nya untuk satu orang yang ia sayang, suaminya kelak. Kaara memang gadis yang tidak ketinggalan jaman tentang budaya barat, tapi Kaara bukanlah seperti gadis lainnya yang dengan mudahnya memberikan apa yang belum pantas diberikan kepada seorang cowok.

Falen pun melanjutkan perjalanan menuju rumah Kaara yang tidak jauh dari mereka berhenti. Hening masih menyelimuti, sedangkan hujan telah reda, hanya suara burung hantu yang menghiasi.

Tepat pukul 22:22 Kaara tiba di rumah, dengan suasana yang masih hening.

“Thanks ya, Fal.. Maaf ngerepotin.” Ucap Kaara tersenyum.

“Kaara..”

“Iya..”

Falen mendaratkan kecupan di dahi Kaara dan memeluknya dengan erat, sekali lagi dengan erat.

“Jangan nangis lagi..” Ucap Falen perlahan.

Kaara pun memasuki rumah dengan perasaan lega, entah apa yang membuatnya menangis. Tapi, menangis di pelukan adalah hal yang paling lega yang pernah ia rasa. Sama seperti menangis di pelukan Ayah, saat Kaara terjatuh dari sepeda. Menangis di pangkuan Ibu, saat Kaara mengadu ada seorang teman yang mengejeknya. Menangis di pelukan Falen, saat Kaara tak tahu apa yang mesti diungkapkan. Semua beradu menjadi satu. Ibu, Ayah, Keenan dan keadaannya sekarang.

“@KaaraAlshanee: Menangis dipelukan memang tempat ternyaman..”

“Aku orang yang paling tidak bisa melihatmu menangis, aku juga ingin memelukmu.”

Baca Juga: Kaara (3)

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.