KAARA (2)

Cerpen; KAARA

KAARA (2)

Penulis Suci Jayanti | Editor Rizaldi Dolly

“Baju kamu basah, butuh payung?”

Suara lembut memecah gemuruh rintik hujan.

Thexandria.com – *tinuut* – (the sound of mention on Twitter)

“Hai, pagi.. @KaaraAlshanee”

Lagi, setiap pagi entah berapa mention yang masuk di Twitter Kaara. Lagi dan lagi Kaara selalu mengabaikan. “Palingan juga Falen..”, pikirnya. Ibarat seorang artis, itulah Kaara. Lebih suka berbicara langsung daripada di social media.

Satu persatu rintik hujan membasahi jalan, kubangan yang kering kini mulai terisi air yang menyeruak ke jalanan. Hilir mudik pengendara bak pembalap memacu kendaraan untuk sampai ke tempat ke tujuan. Kaki-kaki kecil penjaja Koran mulai meramaikan jalanan meski sedang di guyur hujan.

Kaara yang memacu mobil dengan santai berhenti di pinggir jalan untuk membeli sebuah Koran, Kaara tidak begitu membutuhkannya namun itulah Kaara, tidak tega dengan anak-anak yang seharusnya sekolah malah terpaksa melakukan hal yang belum pantas dilakukan anak-anak.

Guyur hujan semakin deras, memaksa Kaara dan kenangan untuk menyatu. Ibu, Ayah, Mas Nathan, dan Keenan satu persatu masuk-ke-permainan-kenangan-dan-hujan yang dialami Kaara.

Sesekali Kaara menengok ke arah jendela mobil, mencoba memahami hal-hal yang terjadi selama ini, Rintik hujan membasahi kaca mobil bertubi-tubi bak kekelutan yang menghantam pikiran Kaara belakangan ini. Sedekat inikah hujan dan kenangan?

——

Tepat pukul 7:04 mobil yang dikendarai Kaara telah sampai di halaman sekolah, rintik hujan masih bercumbu dengan lembutnya. Kali ini kali pertama Kaara tidak telat, entah apa yang membuat Kaara ingin cepat sampai ke sekolah. Biasanya Kaara sangat senang melambatkan-diri-pergi-kesekolah.

Tak sadar ada seorang pria berdiri di belakang Kaara, sambil membawa payung.

“Baju kamu basah, butuh payung?”

Suara lembut memecah gemuruh rintik hujan.

“Oh, iya.. boleh..”

Kaara yang sedari tadi bengong melihat pria yang menawarkannya tumpangan payung, berjalan menuju gedung sekolah bersama sosok pria yang belum ia kenal.

Sosok pria tinggi berkulit sawo matang dengan kacamata frame hitam yang sedikit tebal serta rambut yang tersisir rapi. Kaara belum pernah melihat pria itu sebelumnya. Mungkin anak baru, pikirnya. Namun tak bisa dipungkiri, Kaara mulai terpaut dengan senyum manis dari pria tersebut. Begitu ramah. Sapaan yang halus dan sopan membuat Kaara jatuh dari langit ke tujuh. Sudah lama ia tidak merasakan ini, terakhir kali karena Falen. Itu juga bisa dibilang “jebakan cinta” karena terlalu cepat jatuh hati dengan seorang cowok.

“Makasih, ya.. Nama ka..”

Belum sempat berkenalan, pria itu langsung meninggalkan Kaara.

Kaara yang trauma dengan sikap Falen kepadanya dulu, mencoba menghapus perasaan sekejab yang menyapanya tadi. Ia tidak mau jatuh cinta secepat kilat, baginya menjatuhkan hati terlalu cepat ke orang yang baru dikenal sama saja menjatuhkan ayam segar ke kandang buaya.

Baca Juga: KAARA

—–

“Ra, ini apaan, sih? Kok susah banget soalnya. Lo udah belom?” Zia berbisik.

“Cinta sesaat.. sekejab..”

Kaara yang tengah menggambar sosok pria yang ia temui tadi pagi mendadak celingak-celinguk karena Zia mengagetkannya.

“RAAA!!!”

“Eh, iya. Apaan sih, Zi? Kaget tau..” Gerutu Kaara.

“Lo ngapain sih? Bukannya merhatikan guru, malah gambar. Gambar apaan lagi tuh? Ah, cowok ya? Duh, Ra.. perhatikan guru deh ntar gue nggak bisa nyontek lo.”

“Shh.. iya, ini gue merhatikan deh ya. Demi Zia deh..”

Pelajaran terakhir pun berlanjut sampai selesai. Tepat pukul 13:15 bel pulang pun berbunyi. Satu persatu anak-anak membereskan buku demi buku dan meninggalkan kelas. Pelajaran terakhir untuk kelas 12 baru saja usai. Memasuki Minggu tenang dan setelah itu Ujian Nasional pun menghadang. Tidak ada waktu untuk bersantai atau bermalas-malasan.

—–

“Aku sayang banget sama kamu, Ra. Kamu mau kan jadi pacar aku?”

Bersambung…

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.