Jusuf Kalla Purna Tugas di Pidato ke 601

Jusuf Kalla Purna Tugas di Pidato ke 601

Jusuf Kalla merupakan sosok yang terus berdedikasi dengan segala kecemerlangannya.

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Jusuf Kalla saat ini menghitung hari untuk melepas jabatan wakil presiden. Politikus senior yang akrab disapa JK itu telah menjabat wapres sebanyak dua kali, tapi tidak berurutan.

Jusuf Kalla menjabat wapres mendampingi Presiden Joko Widodo atau Jokowi pada periode 2014-2019. Sebelumnya, JK menduduki kursi RI 2 saat pemerintahan jilid pertama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY pada 2004-2009.

Dalam acara peluncuran lembaga Dana Kerja Sama Pembangunan Internasional atau Indonesia Agency for International Development, di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Jumat (18/9) JK menyampaikan pidato terakhirnya.

JK menutup pidato terakahirnya dengan menyampaikan permintaan maaf serta terimakasih yang sebesar-besarnya karena diberikan kepercayaan dan bisa bekerja sama selama lima tahun dalam Pemerintahan Jokowi.

“Karena hari ini hari-hari terakhir kerja bagi saya selama lima tahun jadi wakil presiden. Dan pidato saya ini pidato terakhir, ini terakhir betul, nanti sore akan makan-makan dengan presiden saja.”

Menurut JK, selama menjabat kurang lebih selama 5 tahun, dirinya telah menyampaikan sebanyak 600 pidato. Dan pada hari ini menjadi pidato yang ke 601 sekaligus menjadi terakhir untuk dirinya.

Sementara di kesempatan lain, JK mengaku ingin beristirahat di hari-hari pertama setelah menanggalkan jabatannya, serta ingin mengajak keluarganya berwisata.

JK mengungkapkan akan kembali aktif di bidang sosial melalui kegiatan Palang Merah Indonesia, kemudian di bidang pendidikan seperti di berbagai universitas serta di bidang keagamaan.

JK mengatakan impiannya adalah menjalani masa tua yang bahagia, baik itu bahagia bersama keluarga dan anak-cucu, maupun berbahagia untuk mengabdikan diri ke masyarakat melalui bidang-bidang lain yang telah disebutkannya.

Banyak pihak yang mengakui ketegasan dan integritas JK, tak terkecuali, Trunojoyo 1, Kapolri Jendral Tito Karnavian.

Kapolri menilai Jusuf Kalla sebagai pribadi dan sosok yang tegas serta pemberani.

Kata Tito, keberanian Kalla sampai membuat TNI dan Polri kebingungan.

Tito menyampaikan hal tersebut saat memberi sambutan dalam acara tradisi pengantar purna tugas Wakil Presiden Jusuf Kalla yang diselenggarakan Polri di Gedung PTIK, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (18/10/2019).

“Jika ada yang kurang, dengan segala hormat, Bapak (Jusuf Kalla), kurangnya cuma satu saja, Bapak bukan jenderal TNI maupun Polri,” kata Tito.

Sempat Menolak Berpasangan Dengan SBY di Pemilu 2004

Dalam biografi Sofjan Wanandi dan Tujuh Presiden karya Robert Adhi Ksp, terungkap bagaimana SBY diusulkan menjadi capres dan JK sebagai cawapres.

Suatu ketika di tahun 2003, Sofjan Wanandi selaku ketua Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia) menjadi pembicara dalam Musyawarah Nasional Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) di Hotel Hard Rock, Bali. Pembicara lain adalah SBY yang menjabat menteri koordinator politik dan keamanan (menkopolkam). Sofjan mengenalnya sejak menjabat menteri pertambangan dan energi pada 1999.

“Bagaimana saudara-saudara kalau kita jadikan SBY presiden?” tanya Sofjan.

Banyak anggota HKI berteriak, “Setujuuu.”

SBY tersenyum. Dia kemudian menulis di secarik kertas kecil: “Sdr. Sofjan, apakah Anda serius?” Sofjan menulis jawabannya juga pada kertas kecil: “Serius, Pak.”

Setelah kembali ke Jakarta, Sofjan menemui SBY di kantor Menkopolkam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta.

Baca Juga: Ahok Cuek soal Isu Penolakan Dirinya, Bangsa Ini, Masih Mengglorifikasi Isu-isu Sentimen

SBY kembali bertanya, “Sdr. Sofjan, saudara mengusulkan saya menjadi presiden. Apakah saudara serius? Bukankah saya tidak punya apa-apa.”

“Saya serius, tapi dengan syarat wakil presiden harus berasal dari kalangan pengusaha,” kata Sofjan.

Sofjan menawarkan dua nama pengusaha: Ketua Kadin Aburizal Bakrie (Ical) atau Menko Kesra Jusuf Kalla.

“Kalau Pak SBY mau pilih pengusaha,” kata Sofjan, “saya akan galang dana dari pengusaha untuk mendukung Pak SBY.”

Sofjan kemudian mengatur pertemuan SBY dengan Ical. Setelah tiga kali pertemuan, Ical menolak menjadi cawapres karena merasa partainya, Golkar lebih besar dari Demokrat, partai baru yang didirikan SBY.

Ical juga akan maju menjadi capres. Namun, dalam konvensi Partai Golkar, dia kalah oleh Wiranto. Kandidat lain yang kalah, Prabowo Subianto mendirikan partai baru, Gerindra, dan Surya Paloh mendirikan Partai NasDem. Wiranto berpasangan dengan Salahuddin Wahid di Pilpres 2004.

Setelah Ical menolak, Sofjan beralih ke JK. Ternyata, JK juga menolak menjadi cawapres. Alasannya, JK mengatakan, “Pak Sofjan, saya tidak mau. Dia susah ambil keputusan.”

“Kalla tidak ingin berpasangan dengan SBY yang dinilainya lemah dan tidak mampu mengambil keputusan segera,” kata Sofjan.

Belakangan, Sofjan tahu kalau JK ingin menjadi cawapres Megawati Sukarnoputri. Namun, pertemuan JK dan Mega tak membuahkan hasil.

JK akhirnya bersedia menjadi cawapres SBY dengan perjanjian tertulis tentang pembagian tugas dengan SBY.

Rekam Jejak JK

Selain berkiprah di bidang Politik, sosok Jusuf Kalla sejatinya lebih dikenal sebagai seorang pengusaha sukses di Makassar. Hal ini dimulai dari kerja keras Haji Kalla dan Hajjah Athirah Kalla yang memulainya dari sebuah perusahaan tekstil di Kota Watampone, Sulawesi Selatan. Dilansir dari kallagroup.co.id, bisnis yang mereka rintis kemudian berkembang hingga merambah ke wilayah Makassar. Kesuksesan ini dilanjutkan dengan pendirian NV (Namlozee Venonchap) Hadji Kalla Trading Company.

Jusuf Kalla pun akhirnya diserahi tugas untuk melanjutkan bisnis keluarga tersebut. Di tangannya, NV Hadji Kalla mulai mengembangkan sayap bisnisnya di berbagi sektor. Selain perdagangan dan logistik, perusahaan keluarga itu juga menekuni usaha otomotif sebagai importir mobil merek Toyota. Sejak saat itulah, Jusuf Kalla pun mulai dikenal sebagai salah satu pebisnis ulung di Indonesia.

Setelah berhasil menjadi importir mobil Jepang di Indonesia, NV Hadji Kalla mulai melirik bisnis mesin traktor pertanian yang bertindak sebagai agen resmi di Indonesia. Pada 1980, Jusuf Kalla mulai serius menekuni bisnis otomotif dengan mendirikan PT Makassar Raya Motor yang menjadi dealer bagi merk mobil Daihatsu dan dealer truk Nissan Diesel.

Pada era 1990-an, Perusahaan dengan cepat merambah ke sektor pembangunan infrastrukur. Maka, berdirilah PT Bumi Sarana Utama yang fokus terhadap penjualan aspal curah. Di sektor properti, usaha yang kini dikenal sebagai Kalla Group tersebut mendirikan PT Baruga Asrinusa Development.

Perusahaan itu mengembangkan berbagai kawasan perumahan elit dengan berbagai fasilitas seperti perkantoran, tempat rekreasi, sarana pendidikan, dan sarana keagamaan. Dilansir dari forbes.com, Jusuf Kalla masuk daftar sebagai 40 orang terkaya di Indonesia dengan jumlah aset $185 juta di peringkat ke-29 (data 2018).

Sukses menjadi seorang pengusaha, Jusuf Kalla pun mencoba berkiprah di dunia politik. Ia pun akhirnya berhasil menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar periode 2004-2009. Sosok kelahiran Wattampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, 15 Mei 1942 itu, merupakan lulusan Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanuddin, Makassar tahun 1967 dan The European Institute of Business Administration Fountainebleu, Prancis pada 1977.

Berbekal prestasinya sebagai Ketua Umum Golkar, ia sukses menjadi Wakil Presiden bersama dengan Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2009) dan mendampingi Joko Widodo (2014-2019).

Jusuf Kalla banyak memberikan sumbangsihnya selama menjabat sebagai tokoh politik. Seperti menjadi juru damai pada kerusuhan Ambon dan konflik di Poso, Sulawesi Tengah (2002), yang ditandai dengan perjanjian Malino I dan II.

Selain itu, saat dirinya menjabat sebagai Menko Kesra RI dalam Kabinet Gotong Royong, JK juga sukses menjalankan program konversi minyak tanah ke gas di era kepemimpinan SBY. Di bidang pendidikan, Jusuf Kalla juga berhasil membuat program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan sekolah gratis bagi siswa SD dan SMP.

Sumber Foto: ayojakarta.com

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.