Jurnalisme dan Independensi; Sebuah Pertaruhan dan Keniscayaan

Independensi Dalam Jurnalisme

Jurnalisme yang semakin hari kian memprihatinkan, bahkan urusan nyawa menjadi objek bias.

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Thexandria.com“Ketika sensor berkuasa, ketika kekuasaan menindas akal sehat, maka jurnalisme harus melawan.”

Setidaknya begitulah posisi dunia jurnalisme yang digambarkan oleh Andreas Harsono, salah satu jurnalis senior di Indonesia yang juga pegiat HAM dalam rekam jejaknya.

Beberapa tulisannya mengenai Papua, konflik Madura-Dayak di Sambas, kekerasan terhadap Ahmadiyah, perebutan sumber daya air, dan lainnya cukup menstimulus emosi untuk terlibat juga ke setiap kejadian yang ditulis beliau.

Banyak sekali yang berfikir, “Wah, orang ini agak gila!”

Dia meliput dan menulis tema-tema yang sangat sensitif dan beresiko tinggi. Yang menarik ialah dia menuliskan isu-isu sensitif itu dengan dukungan data lapangan yang dikumpulkan secara serius. Dia berusaha menulis dengan jujur sesuai fakta yang dimilikinya dan perspektif HAM yang menjadi sudut pandangnya.

Terlepas setuju atau tidak setuju pada isi tulisannya, menurut pandangan subyektif saya beliau telah melakukan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh; sebuah hal yang masih sedikit ditemui di negeri ini. Terlebih banyak hormat yang menghampiri pada orang-orang yang berdedikasi dengan pekerjaannya.

Merujuk lagi pergulatan dunia yang cukup destruktif, memaksa para jurnalis untuk terjun langsung ke daerah bencana maupun konflik peperangan yang kemudian informasinya disiarkan ke seluruh penjuru semesta.

Bahkan untuk beberapa kejadian, jurnalis bertugas mengingatkan kembali jika konflik berkepanjangan telah terlupakan agar tetap mendapatkan simpati seluruh insan.

Liputan di wilayah konflik yang tak berimbang dan berperspektif salah bisa memicu konflik semakin meruncing. Praktik jurnalistik yang partisan dan tak berimbang mengancam keamanan dan keselamatan jurnalis.

Mulai dari penyanderaan, penyiksaan sampai kepada pembunuhan menjadi risk-list yang wajib dicermati dahulu bagi para jurnalis yang akan ditugaskan ke daerah konflik peperangan. Sebagian besar jurnalis tewas di wilayah konflik dengan represi medium, bukan di wilayah konflik bersenjata yang terbuka.

Jumlah wartawan yang terbunuh karena pekerjaannya tahun lalu meningkat hampir dua kali lipat, menurut laporan yang dirilis oleh Committee to Protect Journalists (CPJ). Sepanjang medio 2018, tercatat 53 wartawan tewas yang dari jumlah tersebut, 34 di antaranya menjadi korban pembunuhan.

Angka tersebut naik dari tahun sebelumnya dengan hanya 18 wartawan yang dibunuh karena pekerjaan mereka.

Sementara di Indonesia, jurnalis harus memiliki perspektif kemanusiaan sebelum turun liputan di daerah konflik. Contohnya, saat meliput konflik Ahmadiyah di Cikeusik, Banten yang seharusnya memiliki independensi dalam jurnalisme cenderung dilandasi sentimen keagamaan. “Sentimen itu menjelaskan Ahmadiyah wajar diperlakukan demikian karena sesat.“

Independensi jurnalis dipertaruhkan dalam liputan terkait isu konflik menyangkut stabilitas Negara kesatuan Republik Indonesia seperti Undang Undang Ormas dan HTI.

“Isu se-sepele apapun akan selalu rawan konflik. Apalagi ketika pemilik media yang juga terlibat di partai politik ikut mencampuri ruang redaksi.”

Mata Jurnalis Indonesia yang Terbungkam Proyektil di Hong Kong

Hong Kong menjadi bahasan panas dalam beberapa waktu terakhir, baik oleh masyarakat umum, maupun juga pelaku pasar keuangan dunia. Dalam beberapa waktu terakhir, aksi demonstrasi besar-besaran terjadi di sana, melibatkan jutaan orang.

Pemicunya ialah Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lim memperkenalkan sebuah rancangan undang-undang (RUU) terkait ekstradisi. Pada intinya, jika disahkan, RUU ini akan memberi kuasa kepada Hong Kong untuk menahan orang yang sedang berada di sana (baik itu warga negara maupun bukan) untuk kemudian dikirim dan diadili di China.

Dalam kejadian tersebut jurnalis perempuan asal Indonesia, Veby Mega Indah, tertembak peluru karet saat meliput aksi demonstrasi di Kota I Wan Chai, Hong Kong pada Jumat (29/9/2019). Veby sendiri adalah jurnalis yang bekerja di koran berbahasa Indonesia yang terbit di Hong Kong.

Veby kepada South China Morning Post mengatakan bahwa mata kanannya terluka oleh proyektil selama kekerasan jalanan hari Minggu. Dia membutuhkan tiga jahitan di dekat alisnya. Tidak jelas apakah dia terkena peluru karet atau putaran beanbag.

“Saya memakai helm dan kacamata. Saya berdiri dengan jurnalis lain. Saya mendengar seorang jurnalis berteriak ‘Jangan menembak, kami adalah jurnalis’. Tapi polisi menembak,” kata Veby.

Mata kanan Veby cedera parah dan harus dijahit, juga ada luka di mata kiri, tambah keterangan itu. Veby sempat memperoleh perawatan medis darurat di lokasi kejadian, sebelum kemudian diboyong ke Rumah Sakit Pamela Youde Nethersole di Chai Wan. Berdasarkan pemeriksaan dokter, ia dinyatakan tidak perlu menjalani operasi.

Konsulat Jenderal RI Hong Kong menyatakan akan terus memantau kondisi Veby dan memberikan bantuan yang diperlukan. Saat ini tim dari KJRI Hong Kong juga bertolak menuju rumah sakit untuk memantau perkembangan Veby.

Mata yang Membuta di Bumi Palestina

Bukan rahasia lagi melihat fakta bahwa permukiman Yahudi di wilayah Palestina, seperti di Tepi Barat dan Yerusalem Timur, merupakan salah satu sumber perselisihan antara Israel dan Palestina.

Konflik berkelanjutan tersebut melahirkan kejadian yang membuat geram jurnalis di beberapa belahan dunia,  pada Kamis (21/11) seorang jurnalis asal Palestina mengalami buta sebelah seusai ditembak oleh penembak jitu Israel. Adalah Muath Amarneh, pria 32 tahun yang merupakan seorang jurnalis lepas dari kamp pengungsi Al-Dheisheh di kota Betlehem Tepi Barat.

Muath sendiri mengaku bahwa pada saat kejadian dia berdiri di tengah kerumunan dengan mengenakan jaket anti-peluru dengan tanda pers dan helm yang jelas.

“Tiba-tiba saya merasakan sesuatu mengenai mata saya, saya pikir itu adalah peluru karet atau batu. Saya meletakkan tangan ke mata saya dan tidak menemukan apa-apa, saya tidak bisa melihat dan mata saya benar-benar hilang,” ujarnya, seperti dimuat Middle East Monitor.

Pada akhirnya dokter di Rumah Sakit Hadassah, Yerussalem, menyerah dan memutuskan untuk mengeluarkan mata kiri jurnalis foto, Muath Amarneh, yang tertembak oleh penembak jitu Israel pada Jum’at lalu. Mata kiri Amarneh harus dikeluarkan bersama dengan peluru yang bersarang di matanya.

Baca Juga: Problematika Negara dan Panggung Sandiwara

Meski begitu pihak Israel membantah telah dengan sengaja menargetkan Muath. Mereka mengatakan hanya menggunakan senjata pemusnah kerumunan yang tidak mematikan dalam demonstrasi itu.

Apa yang menimpa Veby dan Muath menjadi sorotan masyarakat luas bahkan dunia internasional. Rekan-rekan sesama wartawan dari berbagai belahan dunia melakukan aksi solidaritas untuk Muath dengan mengunggah foto-foto diri mereka sendiri dengan satu mata tertutup.

Hal itu dilakukan untuk meningkatkan kesadaran akan pelanggaran oknum-aparat terhadap kebebasan pers terutama ketika meliput yang dengan sangat mudah dibeli dengan hujanan peluru.

Saat bertugas, tak jarang kami mendapat ancaman, penindasan bahkan seluruh indera kami dibungkam. Saat kami mencoba berimbang, intimidasi oknum tak henti-hentinya menghujam.

Percayalah, kami bukan kriminil!

Kami berkewajiban menyiarkan fakta di tengah pusaran kebohongan.

Sumber Foto: Aliansi Jurnalis Independen

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.