Jika Klepon Tidak Islami, Apa Kabar Saya?

Jika Klepon Tidak Islami, Apa Kabar Saya

Jika Klepon Tidak Islami, Apa Kabar Saya?

Penulis Hans Satriyo | Editor Dyas BP

Apa sebenarnya indikator dalam mengkategorikan ke-tidak-Islami-nya kue klepon?

Thexandria.com – Klepon mendadak menjadi perbincangan hangat di jagat Twitter. Lewat sebuah cuitan dari akun @Irenecutemom yang banyak dibahas dan kemudian sempat menduduki trending di timeline Indonesia. Dalam foto twit tersebut menampilkan sebuah tulisan yang cukup konfrontatif: “Kue Klepon Tidak Islami. Yuk tinggalkan jajanan yang tidak Islami dengan cara membeli jajanan Islami, aneka kurma yang tersedia di toko syariah kami..” sementara di pojok foto tersebut terdapat sebuah watermark bertuliskan “Abu Ikhwan Aziz”.

Warganet pun bertanya-tanya, siapa sebenarnya ‘otak’ di balik pembuatan foto yang cukup kontroversi ini. Usut punya usut, dari banyak pihak sudah menelusuri siapa pengunggah pertama foto ini bermodalkan nama yang ada di foto tersebut. Pencarian atas nama Abu Ikhwan Aziz yang menjadi kata kunci pun berakhir nihil. Dikutip dari Suara.com, tercatat tiga akun Facebook atas nama Islah Bahrawi, Erma Retang, dan Erwin Rabbani II yang menjadi pengunggah awal dari foto tersebut.

Berdasarkan penelusuran akun TurnBackHoax, Erwin Rabbani II diduga merupakan seorang buzzer yang mendukung salah satu kandidat calon presiden pada pemilihan presiden tahun 2019 lalu. Sementara gambar Kelpon yang digunakan dalam meme tersebut merupakan milik Pinot Dita yang diunggah pada 16 September 2008 yang lalu di situs Flickr.com.

Selain mengundang kontroversi, penyebaran foto ini juga diduga memiliki muatan politis di dalamnya. Narasi keagamaan yang dipakai dalam foto tersebut memang kerap menjadi komoditas untuk mendapat perhatian publik. Kemungkinan paling buruk dari penyebaran foto tersebut ialah merugikan atau bahkan menjatuhkan suatu pihak tertentu. Kompas tudingan mengarah kepada beberapa kelompok Islam ‘garis keras’ yang belum tentu benar. Sentimen foto tersebut juga berkembang menjadi praduga dikotomi; kelompok pro pemerintah dan pro oposisi. Sadezzz..

Secara historis, klepon sudah ada sejak awal abad ke-19, yang kemudian lekat dengan identitas masyarakat Jawa. Makanan yang masuk kategori jajanan pasar ini dulunya bahkan pernah menjadi ‘Makanan Istana’ pada era Ir.Soekarno. Dikutip dari Historia.id, Sang Proklamator kerap menghidangkan klepon sebagai kudapan bagi para tamu kenegaraan yang singgah ke istana. Selain bertujuan melestarikan makanan khas Indonesia, ternyata klepon hadir sebagai semiotika “negara yang berhati manis” bagi nusantara pada saat itu.

Komposisi klepon sendiri cukup sederhana, terdiri dari empat bahan pokok yang khas: tepung beras ketan, pandan wangi, parutan kelapa dan gula merah atau gula jawa. Lalu, dimana letak ke-tidak-Islami-an dari klepon? Toh, bahannya halal semua, kan?—kecuali memasaknya menggunakan minyak babi dan adonannya menggunakan alkohol 100%.

Seloroh klepon yang tidak-Islami ini menghadirkan cocoklogi yang justru menjadi komedi di tengah keseriusan narasi agama foto tersebut. Seperti yang dicuitkan Tretan Muslim, Standup Comedian ternama, lewat Twitternya: “Memang benar kue ini tidak Islami karena kelapa putih itu melambangkan salju, salju tradisi natal. Memang ini cara terselubung misionaris. Memurtadkan orang lewat klepon”.

Baca Juga: Hak Azasi Manusia Dilanggar Jika Pilkada Serentak 2020 Tidak Digelar

Muncul juga cocoklogi yang cukup saru: “Klepon tidak Islami karena memberikan kenikmatan lebih saat muncrat di ‘dalam’, zina woy zina!” tentu hal ini sangat difahami oleh orang dewasa saja. Lantas, bagaimana dengan makanan “Bakso Beranak” yang tidak jelas siapa ayahnya. Anak haram, ya?

Kasihan sekali melihat tudingan yang tidak ‘masuk’ secara logika maupun spiritual kepada kue klepon. Bahkan di beberapa kanal berita dikabarkan, tudingan tidak rasional kepada klepon berpotensi merugikan bagi mereka yang berdagang kue klepon. Para pedagang meradang dan khawatir para konsumen mereka memiliki pandangan lain. Namun kenyataannya, masyarakat cukup bijak dengan isu ini dan cenderung santai menyikapinya—tentu masyarakat sudah cukup cerdas untuk memfilter yang mana benar dan salah secara prinsipil.

Lalu, apa sebenarnya indikator dalam mengkategorikan ke-tidak-Islami-nya kue klepon?

Apakah karena klepon tidak memakai pakaian tertutup maka dikatakan tidak Islami?

Apakah klepon tidak mengucapkan dua kalimat syahadat sejak pertama kali diangkat dari kompor?

Apakah klepon tidak pernah bangun pagi sholat Subuh lalu menonton ceramah Mamah Dedeh?

Ada-ada saja, memang..

Saya rasa diri saya sendiri pun tidak lebih Islami dari kue klepon. Saya yang dilahirkan dari keluarga Islam pun tidak memiliki nama yang cukup ‘Islami’. Bahkan, saya yang sejak kecil sudah hafal dengan dua kalimat syahadat pun masih senantiasa mengumpulkan dosa hingga saat ini—ibadah yang masih bolong-bolong, lidah sering terpleset saat membaca kitab suci Al-qur’an hingga dosa lain yang tak terlihat manusia.

Maka betul saja apabila salah satu idola saya, Cak Nun mengatakan: “adalah hak prerogratif Allah, untuk menilai diri ini Muslim atau tidak.”

Wallahu a’lam bish-shawab.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.