Ironi Rutan Salemba: Kepingan Tersembunyi Kehidupan Penjara di Indonesia yang Suram

Rutan Salemba Thexandria

Ironi Rutan Salemba: Kepingan Tersembunyi Kehidupan Penjara di Indonesia yang Suram

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Wajah penjara cermin hukum negara, sungguh-sungguh atau pura-pura.

Najwa Shihab

Thexandria.com – Penangkapan Surya Anta Ginting beserta teman aktivis Papua lainnya sempat memicu tensi yang cukup panas. Mereka yang sempat dijuluki dengan panggilan ‘Jakarta Six’ ditetapkan statusnya sebagai tahanan politik. Meski sempat terkena ‘prank’ karena batalnya asimilasi yang akan diberikan, mereka yang tertuduh melakukan makar dan mendapatkan vonis akhirnya bisa dibebaskan.

Setelah bebas, kelima tapol itu akan tetap berkomitmen untuk terus bersuara mengenai polemik di tanah Papua. Menjadi harga mati bagi mereka jika melihat masih ada tapol yang ter-kriminalisasi dan warga Papua yang ter-diskriminasi.

Selain menjadi cermin kebobrokan supremasi hukum, kriminalisasi Surya Anta cs melahirkan sebuah hikmah tersendiri. Melalui cuitannya di Twitter, Surya Anta menceritakan pengalamannya di rumah tahanan (Rutan) Salemba yang justru mengungkap sebuah tabir buruk. Meskipun cuitan tersebut sempat diblokir oleh pihak yang tidak diketahui, namun pemberitaanya sudah tersebar ke beberapa media.

Surya mengatakan bahwa pada hari pertama ia masuk ke dalam rutan, ia berserta rekannya dipalak oleh beberapa tahanan lama. Karena mengetahui kalau mereka adalah kelompok aktivis dan bukan anak pejabat, maka mereka hanya membayar 500 ribu Rupiah. Tempat tinggal mereka selama masa pengenalan lingkungan rutan selama satu bulan diisi sekitar 420 tahanan. Fasilitas yang didapatkan ratusan tahanan itu dapat dikatakan tidak manusiawi—bayangkan, 420 orang tidur bagai ikan pindang dijejer tanpa kasur, hingga jumlah toilet yang cuma dua.

“TV dalam barak penampungan ini cuma satu. Kalau ada yang berani ganti channel langsung rame. Botol-botol ini buat nampung air cadong buat minum. Tapi airnya berasa ada yang lengket. Para tahanan jadi sakit tenggorokan.” ungkap Surya Anta dalam tweet-nya sambil menunjukkan gambar tumpukan botol air mineral bekas.

Padatnya penghuni ruangan tersebut sangat mudah menimbulkan konflik yang kemudian menjadi pemandangan lazim. Perkelahian yang disebabkan oleh hal sepele seperti tak kebagian ubi, sendal yang tertukar, kopi tumpah, lauk dimakan teman, dsb seolah membuat kita berfikir seribu kali untuk melakukan tindak kriminal.

Peredaran Sabu-Sabu dan Transaksi Kamar

Cuitan Surya selanjutnya adalah membuka kebobrokan lainnya, yaitu bebasnya peredaran sabu-sabu dan barang haram lainnya di dalam rutan Salemba.

“Pernah saya diteriaki seorang PSK (Penjual Sabu Keliling) dari lantai 2 blok A atau Blok B, “Om Kribo, doyan sabu gak? Atau ganja?” Lalu gue jawab “Gak, gue gak mau sabu atau ganja, gue maunya ngent*t!”..dan si Penjual Sabu Keliling pun tertawa…”

Soal permasalahan ini, Surya mengungkapkan bahwa petugas rutan sebenarnya mengetahui transaksi sabu-sabu di dalam ruang tahanan. Tentu anekdot ini menjadi sesuatu yang ‘kaget-kaget-faham’ buat kita. Surya Anta cs sempat bingung sendiri saat ditempatkan di ‘sektor’ yang menjadi lapak transaksi sabu-sabu.

Selain adanya transaksi barang haram, ditambahkan oleh Surya juga terdapat praktik ‘jual-beli’ kamar bagi para tahanan. Hal ini akan menguntungkan bagi tahanan yang berkocek tebal, sementara bagi mereka yang tak memiliki uang akan tidur di ubin lorong yang dingin. Kelas untuk mereka yang lemah biasa dijuluki sebagai ‘anak ilang’. Sehingga, klasifikasi sosial di rutan Salemba begitu terasa nyata.

Pengungkapan langsung oleh Surya Anta ini menjadi sebuah justifikasi bahwa benar, praktik tersebut ada dan tak akan pernah mati. Bukan rahasia lagi jika akan selalu ada permainan antara tahanan ‘bermodal’ dengan para petugas.

Yang penting, sama-sama untung. Benar tidak?

Salemba adalah Kepingan Tersembunyi

Tak perlu menjelajah waktu untuk melihat betapa kelamnya kehidupan penjara Alcataraz di Amerika Serikat yang telah tutup 57 tahun lalu. Tak perlu juga bersusah payah mendatangi penjara Sabaneta di Venezuela untuk merasakan betapa tidak manusiawinya salah satu penjara terpadat di dunia itu. Secara imajiner, kondisi tersebut dapat kita saksikan dalam cerita fiksi Harry Potter yang memiliki penjara Azkaban dan diisi oleh tahanan yang gila dengan beragam ilmu sihir.

Dari dalam negeri, popularitas Nusakambangan sebagai penjara paling mengerikan di Indonesia menurut publik dianggap tak berlebihan. Pasalnya penjara yang lokasinya ‘tak terjamah’ ini diisi oleh narapidana kelas wahid dengan tingkat kriminal kelas berat. Penjara ini dipadati mulai dari pelaku terorisme, gembong narkoba, pembunuh yang sadis, sampai sindikat atas premanisme. Nusakambangan juga memiliki bukit bernama bukit Nirbaya yang menjadi venue untuk vonis hukuman mati yang menambah suasananya semakin tidak menyenangkan.

Realita rutan Salemba menjadi bukti bahwa ada kepingan yang hilang dalam bingkai kehidupan penjara di Indonesia. Salemba yang yang sebenarnya berkapasitas 1500 orang harus dihuni sekitar 4300 tahanan menjadi gambaran awal bahwa hal ini, tidaklah semestinya terjadi. Menurut Surya Anta, beberapa penghuni rutan Salemba sebenarnya tak bersalah dan dijebak sehingga ter-jebloskan ke penjara. Hal ini mengingatkan saya pada kutipan pakdhe Arswendo Atmowiloto, seorang sastrawan besar: “Tidak semua yang ada di dalam penjara itu napi. Dan, tidak semua napi berada di dalam penjara.”

Wawasan masyarakat perihal kehidupan penjara begitu konsentris hanya di Nusakambangan. Sejauh yang saya tahu, literatur kisah tentang penjara di Indonesia bahkan tak sebanyak Korea Selatan yang sedang ‘terbang tinggi’ di sektor entertaiment global. Korea Selatan mampu menyajikan literatur yang begitu mudah melalui film dan series ala mereka. Tengok saja betapa halusnya membalut isu kehidupan penjara dalam dramatisasi “Prison Playbook” atau “Miracle in Cell No.7” yang sangat populer.

Semestinya liputan langsung Najwa Shihab ke lapas Sukamiskin kemarin sudah cukup menggambarkan sebuah kehidupan penjara di Indonesia. Namun, banyak pihak yang menilai liputan tersebut kurang komprehensif dan syutingnya terkesan tidak natural—muncul dugaan kondisi penjara diatur sedemikian bagusnya di depan kamera. Peliputan pun hanya pada narapidana kelas wahid dengan fasilitas ruangan cukup mewah yang ngalahin kos-kosan mahasiswa.

Kemana sorotan untuk Lapas Kedungpane, Semarang? Dimana terdapat kisah pilu para aktivis Sukoharjo yang bertahan hidup di dalamnya. Atau bahkan, penjara lainnya?

Jauh api dari panggangan.

Baca Juga: Hagia Sophia: Antara Ambisi Politik Islam Turki dan Resistensi Dunia

Lantas, apakah penjara di Indonesia memang amat-sangat buruk untuk dicitrakan atau pada dasarnya kita tak memiliki sineas yang mampu membuatnya? Karena akan sangat bagus apabila ada karya yang memotret ketidak-becusan negara dalam melakukan pengelolaan penjara. Rutan Salemba lewat cuitan Surya Anta adalah ‘gerbangnya’.

Karena objektifikasi dititikberatkan kepada para napi, maka pemenuhan hak asasi bagi para tahanan menjadi komplementer vital. Benar saja ada yang bergumam; negara mampu memenjarakan orang, tapi gagal memastikan pemenuhan hak hidup bagi para napi dan tahanan.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.