Interpretasi .Feast Soal Perekonomian dalam Mini Album “Uang Muka”

.Feast Uang Muka

Interpretasi .Feast Soal Perekonomian dalam Mini Album “Uang Muka”

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Thexandria.com – 10 September 2020 menjadi waktu peluncuran mini album .Feast bertajuk “Uang Muka”. Ini menjadi mini album kedua .Feast setelah mini album sebelumnya “Beberapa Orang Memaafkan” juga banyak dinikmati publik khususnya para muda-mudi. Dalam mini album ini, setiap personel memberikan kontribusi maksimal dengan menyumbangkan materi lagu masing-masing.

Baskara Putra (vokal), Adnan Satyanugraha Putra (gitar), Fadli Fikriawan (bas), Dicky Renanda (gitar), dan Ryo Bodat (drum) menggarap Uang Muka berkolaborasi dengan produser Wisnu Ikhsantama. Pengerjaannya berlangsung sekitar 2,5 bulan.

Album mini Uang Muka diawali dengan “Intro” dan ditutup dengan track “Apa Boleh Buat“. Terdapat lima lagu utama berjudul “Dapur Keluarga“, “Komodifikasi“, “Cicilan 12 Bulan (Iklan)“, “Belalang Sembah“, dan “Kembali ke Posisi Masing-Masing“.

Baca Juga Rilisan Mini Album Pertama Better Think of Something’s yang Bertajuk “Here We Go” Membuktikan Pop Punk Never Die!

Secara garis besar dalam press release, Uang Muka mengangkat tema besar perihal uang dan bagaimana setiap individu menyikapi uang sebagai problematika tersendiri dalam hidup. Tentunya, hal ini dalam konteks dan kondisi yang berbeda-beda dimiliki tiap manusia. Ini menjadi interpretasi baru .Feast dalam berkarya setelah sebelumnya pernah mengangkat tema sosial, politik, budaya hingga lingkungan.

Masa pandemi yang kita semua alami turut memberi pengaruh dalam proses kreatif pembuatan album ini. Baskara menulis lagu berjudul Dapur Keluarga, sebuah refleksi sejauh mana para tulang punggung keluarga mencari uang di tengah situasi sulit, bahkan beberapa terpaksa harus mencari uang dengan melanggar etika dan norma. Sebagai pendengar, situasi lirik lagu ini sangat ber-aroma gaya penguasa orde baru yang sampai saat ini bahkan masih diglorifikasi oleh lingkungan terdekatnya.

Potret lain dari mini album .Feast “Uang Muka” ini adalah lagu berjudul Komodifikasi yang ditulis oleh Adnan, gitaris. Lagu ini menyoal media sosial yang menjadi sarana yang menghasilkan uang. Karya sang gitaris ini juga menyoroti berbagai drama figur publik yang lahir selama pandemi justru menjadi ‘santapan’ publik sehari-hari. Bassist Fadli Fikriawan alias Awan menyodorkan tembang “Cicilan 12 Bulan (Iklan)” dengan nuansa garage-rock. Ide lagu berasal dari ketundukan manusia kepada hasrat ke-benda-an, sehingga pusing untuk mencari uang lebih atau solusi-opsi cicilan.

“Belalang Sembah” lahir dari eksplorasi Dicky mengenai cinta yang terbentur status sosial berbeda. Dia menyoroti pula bahwa cinta tidak sepenuhnya murni, membutuhkan modal dan sangat mungkin untuk dikapitalisasi. Dia juga menyoroti sejumlah kondisi sulit di masa krisis kesehatan akibat pandemi Covid-19. Dengan keadaan finansial mencekik, ada saja kabar masker atau hand sanitizer yang ditimbun hingga harganya meroket. Penabuh drum Ryo Bodat menunjukkan kegemaran terhadap musik deathcore lewat “Kembali ke Posisi Masing-Masing”. Lagu terilhami keresahan Ryo yang ingin hidup tenang namun masih khawatir mengenai kecukupan finansial diri dan keluarga.

Baca Juga Oasis Bukan Sekedar Band, Tapi Sebuah Kultur!

Dalam mini album ini juga melibatkan Jason Ranti untuk mengisi suara dalam prologue-song bertajuk “Kata Pengantar oleh Jason Ranti”. Uang Muka menjadi sebuah pijakan kecil untuk melompat ke album penuh berikutnya .Feast bernama “Membangun dan Menghancurkan”.

“Kami merasa Membangun dan Menghancurkan butuh pengalaman dan kedalaman bermusik yang lebih dibanding apa yang kami punya pada saat itu,” kata vokalis Baskara, dalam keterangan pers yang diterima Medcom.id. Sehingga Uang Muka menjadi buah eksperimen bagi mereka untuk mengasah lebih dalam lagi kemampuan untuk melanjutkan dengan materi-materi yang lebih fresh dan mantap.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.