Interpretasi Cinta dari Pecundang dan Petuah dari Ksatria tanpa Zirahnya

Interpretasi Cinta dari Pecundang dan Petuah dari Ksatria tanpa Zirahnya

Penulis Adi Perdiana | Editor Rizaldi Dolly

Cinta

Satu kata berjuta makna, berjuta interpretasi terhadapnya. Memberi, menerima, kebebasan, berkorban, segala-galanya, dan banyak lagi lainnya.

Cinta, tak hanya sekedar kata-kata permulaan sebelum menuju ajang pemuas nafsu belaka.

Cinta adalah abu dari romansa, yang jatuh lalu lenyap terbakar bersama deruan tanya.

Cinta adalah suatu emosi paling dasar dari manusia, kita dapat menerima, mengubah, mengabaikan, tapi kita tak akan pernah bisa membuang perasaan cinta keluar dari diri kita.

James Baldwin dalam karyanya The Price of the Ticket menuliskan, “Cinta tidak dimulai dan diakhiri dengan cara yang kita pikirkan. Cinta adalah pertempuran, cinta adalah perang; cinta adalah tentang mendewasakan diri.”

Sejatinya mencintai tak sekedar antara manusia dengan manusia, namun siapa saja atau apa saja. Alam dan seisinya, hewan, tumbuhan. Dan pembahasan paling berat dari kita sebagai makhluk yang tercipta adalah tentang mencintai di taraf ketuhanan.

Aku tidak akan membahas yg terakhir untuk saat ini. Mungkin nanti di artikel selanjutnya.

Karena cinta di dunia ini kompleks masalahnya, dan juga ada sekian banyak contohnya. Maka kali ini aku akan memberikan perspektif lain tentang cinta.

Cinta Adalah Kehancuran

Itu premisnya, weittsss. Jangan ngegas dulu untuk para bucin diluar sama.

Karena sekali lagi menurutku cinta tak hanya soal manusia dengan manusia, tapi juga dengan alam dan seisinya. Cinta dengan tanah air termasuk di dalamnya. Dan kamu tau bahwa yang terakhir adalah cinta yang paling banyak menyebabkan “kehancuran” di dunia.

Jika cinta antara dua manusia bisa menyebabkan sakit hati karena pengharapan, sedang cinta orang tua pada anaknya dapat melahirkan kekecewaan, maka cinta yang terakhir dapat melahirkan perang. Perang dan Damai.

Mengapa seorang pejuang rela berjuang bahkan hingga mengorbankan darah, dalam artian yang sebenarnya. Semua karena cinta.

Perang terjadi karena mereka mencintai negaranya. Maka atas nama cinta mereka melakukan penjajahan terhadap negara lain, sekali lagi atas nama cinta. Menjajah demi cinta, sungguh ironi.

Dalam peperangan para pahlawan pun mengorbankan nyawa untuk mengentaskan penjajahan, atas nama cinta. Ya benar, lagi-lagi cinta.

Seberapa besar rasa cinta itu tumbuh dan berkembang dalam dirimu maka sebesar itu pula resiko yang harus siap kamu terima.

Apakah itu salah?

Ah. Lagipula aku bukanlah seorang Hakim yang dapat memutuskan perkara salah dan benar.

Disini saya masih menjadi penonton dalam kotestasi cinta yang luar biasa. Belum menjadi seorang kesatria yang gagah perkasa bejuang atas nama cinta. Mungkin nanti, secepatnya, atau selambat-lambatnya sebelum matahari tergelincir di ufuk.

Tapi kalau boleh berpendapat, ingin kukatakan bahwa tak ada yang salah dalam mencintai dan dicintai, kita semua berhak, hak prerogatif! Yang salah adalah fanatisme luar biasa yang melahirkan ekspresi dan tindakan yang melanggar norma dan konstitusi, apalagi bersembunyi di balik kata c-i-n-t-a.

Cinta, mengapa cinta.

Ah. Ku hanya seorang kesatria pencundang yang bahkan tak berani melirik ke arah medan perang. Ku mengenakan baju zirah yang berat, tapi tak pernah menghunuskan pedang.

Mohon maaf aku jauh dari kata layak untuk berbicara tentang cinta. Tetapi, aku pernah mendengar petuah pecinta ulung yang mukanya berdebu karena pengembaraanya.

Seorang pecinta ulung, dikatakan bahwa ia haruslah tangguh bertemankan kesendirian. Menyusuri telaga, padang pasir, savana, sungai, bahkan kota-kota mati sekalipun.

Baca Juga: Takkan Lagi Kita Pergi Jauh Melangkah, Nikmatilah Lara

Seorang pecinta ulung sering mengumpat, karena di dalam kepalanya, beribu tanya terbifurkasi dengan runutan pertanyaan-pertanyaan yang baru terlahir.

Ia haruslah seorang yang resah! Bahkan ditengah-tengah renungan menatapi kilatan sabuk-sabuk bintang berjatuhan.

Sedang ia melepaskan baju zirahnya, yang ditinggalkan di istana pertama, tempat seseorang yang pernah melakoni tragedi cinta yang pertama. Agar dikenang.

Dan hanya sebilah pedang yang dihunus untuk membunuhi para waktu dan nestapa. Bekal satu-satunya.

Kini pertaruhan itu sampai kepadaku sendiri. Siapkah ku cari pedang untukku? Menuju istana tempat cinta pertama berlabuh? Lalu kutanggalkan perisai dan zirahku, agar bisa mengembara tanpa sepenggalpun sesal yang mengutukku?

Siapkah aku?

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.