Indonesia Lawyer Club (ILC) Pamit Undur Diri: Sayonara Pak Karni!

Karni Ilyas - ILC Pamit Undur Diri

Indonesia Lawyer Club (ILC) Pamit Undur Diri: Sayonara Pak Karni!

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Karni menjadi wartawan mulai tahun 1972.

Thexandria.com – Karni Illyas, atau yang kerap disebut sebagai Presiden-nya Indonesia Lawyer Club (ILC), mengumumkan program ILC pada Selasa (15/12) telah menjadi episode perpisahan.
Dengan kata lain, ILC menyatakan pamit dari layar televisi Indonesia.

Karni Ilyas mengonfirmasi episode terakhir ILC, yang kami lansir dari CNNIndonesia.com, melalui pesan singkat dengan menyertakan tangkapan layar akun tiwtternya.

“Dear Pencinta ILC: Sekalian kami umumkan edisi ini adalah episode terakhir akhir tahun ini dan merupakan episode perpisahan. Sebab mulai tahun depan berdasarkan keputusan manajemen TV One, ILC dicutipanjangkan sementara waktu. Mohon maaf sebesar-besarnya kepada Pencinta ILC,” tulis Karni melalui akun twitternya.

Lebih lanjut, dalam cuitannya, Karni tidak menjelaskan alasan program ILC cuti tayang pada tahun depan.

Ia hanya mengatakan tayangan terakhir ILC mengambil judul “Renungan Akhir Tahun: Dampak Tekanan Ekonomi, Ibu Bunuh Anak, Suami Bakar Isteri”.

“Dear Pencinta ILC: Diskusi kita Selasa, malam ini berjudul “Renungan Akhir Tahun: Dampak Tekanan Ekonomi, Ibu Bunuh Anak, Suami Bakar Isteri.” Selamat menyaksikan.Mohon maaf terlambat mengumumkan. #RenunganAkhirTahun,” tulis Karni.

Diketahui, program ILC adalah tayangan talkshow di tvOne yang hadir setiap Selasa pukul 20.00 WIB dan dipandu oleh Karni Ilyas. Acara ini sudah tayang sejak 2008 silam dan beberapa kali mendapatkan penghargaan.

Selain itu, ILC juga kerap mengguncangkan jagad sosial, hukum, hingga perpolitkan tanah air, karena kerap mengangkat tema-tema diskusi yang sensitif dan berkaitan dengan pemerintah. Tak jarang, ILC tidak tayang karena diduga mendapat tekanan yang kental dengan konspirasi politik.

Atas dasar itulah, pamitnya ILC juga menyisakan ruang misteri tentang sebab musababnya. Sialnya bagi kita, Karni Ilyas memang tak pernah secara gamblang menjelaskan apa gerangan yang terjadi di balik layar ILC. Ia bertahan dengan analoginya, bahwa ia adalah seorang peselancar yang baik. Tau kapan harus berselancar, tau kapan harus berhenti.

Sosok Karni Ilyas

Karni Ilyas muda
Karni Ilyas muda

Karni Ilyas pada kurun waktu tahun 1992, merupakan redaktur pelaksana Majalah Tempo. Melansir dari Tirto, kala itu, ia memburu seseorang bernama Kartika Thahir yang merupakan orang yang cukup berpengaruh dalam kasus perebutan 19 rekening Bank Sumitomo, Sungapura. Kartika Thahir merupakan janda Achmad Thahir.

Achmad Thahir adalah kepala divisi prasarana pembangunan instalasi listrik tenaga uap (PLTU) dan prasarana pelabuhan untuk bongkar muat material pabrik baja Krakatau Steel. Dalam rekening yang menjadi permasalahan itu, terdapat uang USD 79 juta. Perkiraan awal berjumlah 23 juta dollar AS. Jumlah itu terus berbunga. Diduga uang tersebut adalah komisi yang diterima Thahir atas sejumlah proyek Pertamina.

Kartika bersikap sangat tertutup pada jangkauan media. Kartika juga tidak sekalipun menghadiri persidangan.

Karni Ilyas yang saat itu menduduki posisi redaktur pelaksana (redpel) Kompartemen Hukum di Tempo segera terbang ke Genewa Swiss, begitu tahu di mana alamat Kartika. Berbagai pendekatan dilakukan Karni untuk mendapat kesempatan mewawancarai Kartika. Keseriusan Karni pun memecah kebekuan. Kartika, melalui utusannya, bersedia diwawancarai Karni dengan satu syarat yakni Karni harus mendatanginya seorang diri.

Demi menjaga kerahasiaan dan kelancaran misi ini, tidak banyak pihak yang diberitahu Karni. Hanya Goenawan Mohammad, sebagai Pemimpin Redaksi dan Margana sebagai koordinator liputan, yang mengetahui pertemuan Karni-Kartika di Genewa.

Karni beruntung mendapatkan kesempatan emas ini. Pengacara Kartika, Francis. L Spagnoletti mengatakan tak habis pikir dengan kesempatan wawancara tersebut. Hasilnya, wawancara itu diterbitkan dengan judul “Suami Saya Hanya Kambing Hitam.”

Gigih mengejar narasumber memang menjadi prinsip Karni Ilyas. Ia dikenal sebagai wartawan senior yang konsen di bidang masalah hukum dan politik pada tahun 1972 di harian Suara Karya.

Dalam biografinya, diketahui bahwa orangtua Karni Ilyas ialah Syamsinar dan Ilyas Sutan Nagari, yang tinggal di Padang. Pasangan ini menamakan putra sulungnya Sukarni. Karni sempat mempertanyakan latar belakang nama yang diberikan kepadanya. Ayahnya menjelaskan bahwa Sukarni adalah seorang tokoh penting dalam sejarah Indonesia. “Sukarni bersama Chairul Saleh, Wikana, dan Shodanco Singgih, menculik Bung Karno dan Bung Hatta tanggal 16 Agustus 1945 ke Rengasdengklok,” ujar Karni.

Ayah Karni bekerja sebagai seorang penjahit di pasar. Usai sekolah dan mengaji, Karni selalu menyusul ayahnya ke pasar untuk membantu apa saja. Berada di lingkungan Pasar membuat Karni terbiasa bergaul dengan para kuli angkut, sopir, dan tukang parkir. Meskipun terbilang sibuk membantu ayahnya, tetapi Karni tidak melupakan pelajaran sekolahnya.

Karni remaja sempat bekerja sebagai penjual Koran. Sambil jualan ia membaca informasi dari Koran yang dijualnya. Kebiasaan ini berdampak besar bagi pembentukan intelektualitas Karni dan cita-citanya menjadi wartawan.

Karni menjadi wartawan mulai tahun 1972. Media pertamanya adalah Suara Karya. Enam tahun kemudian Karni menjadi bagian dari majalah Tempo sampai majalah tersebut dibredel pemerintah orde baru pada 1994. Jabatan terakhir Karni di Tempo adalah sebagai redaktur pelaksana rubrik Hukum.

Sejak 1991, sembari menjadi redpel di Tempo, Karni menjabat Pemimpin Redaksi Forum Keadilan hingga 1999. Sebelum ia masuk, Forum Keadilan merupakan majalah bulanan yang terbit secara tersendat-sendat. Di bawah kepemimpinannya, Forum Keadilan berkembang pesat. Dalam waktu setahun, tirasnya sudah menembus 50 ribu eksemplar. Di tahun pertama kepemimpinannya, Forum Keadilan berhasil terbit dua kali dalam sebulan. Bahkan, akhirnya bisa terbit seminggu sekali.

Baca Juga Menteri Masa Gitu dan Opini Jelek Imam Darto

Awal karier Karir di media televisi ketika bergabung dengan SCTV pada tahun 1996. Pada tahun 2000, ia membawakan program Liputan 6, dengan tagline ‘Aktual Tajam Terpercaya’. Beberapa karya jurnalistik Liputan 6 SCTV mendapat penghargaan bergengsi dan menjadi program berita terkemuka di Tanah Air.

Pada tahun 2005, lulusan Fakultas Hukum UI itu beralih ke ANTV. Hanya dua tahun Karni memimpin program news ANTV. Pada 2007, Lativi yang diambil alih oleh Bakrie dibenahi. Konsep televisi berita dilahirkan. Lativi yang semula berisi siaran hiburan diubah total menjadi televisi berita yang bersaing langsung dengan Metro TV. Tanggal 14 Februari 2008, tvOne resmi mengudara.

Karni Ilyas juga membawakan program bincang-bincang bertajuk ‘Jakarta Lawyers Club’ yang kemudian berubah nama menjadi ‘Indonesia Lawyers Club’ atau ILC. Acara ini sering membawakan tema seputar kasus korupsi dan ratingnya juga tinggi.

Karni Ilyas memperoleh Panasonic Gobel Awards untuk kategori Lifetime Achievement Award pada bulan Maret 2012.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.