Indonesia Cabut dari Proyek Pesawat Tempur KF-X/IF-X

kfx ifx thexandria

Indonesia Cabut dari Proyek Pesawat Tempur KF-X/IF-X

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Indonesia juga dikabarkan kurang senang dengan proyek KF-X/IF-X yang dinilai berjalan lambat. Baru-baru ini, Jakarta santer melirik jet tempur dari sejumlah negara seperti jet Rafale asal Prancis dan Sukhoi dari Rusia.

Thexandria – Indonesia disebut berencana mundur (out/cabs) dari proyek pengembangan jet tempur KF-X/IF-X bersama dengan Korea Selatan yang dimulai sejak 2016 lalu. Anggota Dewan Perwakilan Korsel dari Partai Kekuatan Rakyat, Shin Won-shik, mengatakan Indonesia terus mengulur waktu dalam memenuhi komitmennya terkait proyek militer termahal dalam sejarah Negeri Ginseng ini. Shin menuturkan sejauh Indonesia baru membayar 227,2 miliar won Korsel dari total 831,6 miliar won yang harus dibayarkan untuk proyek tersebut tahun ini.

Sementara itu, pengembangan jet tempur Korea Fighter eXperimental (KF-X) tersebut diperkirakan menghabiskan biaya sekitar 8,5 triliun won atau US$7,8 miliar. Sebanyak 1,6 triliun won atau 20 persen dari total biaya pengembangan harus dibayar oleh Indonesia.

Hal itu berdasarkan kontrak kemitraan bersama Jakarta dan Seoul terkait pengembangan KF-X/IF-X yang ditandatangani pada 2016 lalu. Dalam perjanjian itu, kedua negara berencana memproduksi 125 jet tempur untuk Korsel dan 15 jet untuk Indonesia pada 2026.

Sampai saat ini, proyek pengembangan KF-X/IF-X itu juga telah menelan biaya triliunan won. Sebuah prototipe pesawat sedang dalam perakitan sampai saat ini. Padahal, jadwal penerbangan perdana KF-X/IF-X dijadwalkan berlangsung pada 2022.

Selain masalah uang, Shin menuturkan Indonesia juga tidak mengirimkan kembali 114 spesialis tekniknya dari PT Dirgantara Indonesia ke Korsel. Ratusan ahli teknik itu dipulangkan ke Tanah Air pada Maret lalu akibat pandemi virus corona (Covid-19).

Baca Juga: Kelompok Terorisme Mujahidin Indonesia Timur (MIT): Licin dan Bagai Tarzan

Melansir dari Harian Korea JoongAng, negosiator dari badan pengadaan senjata Korsel (DAPA) disebut mengunjungi Indonesia pada September lalu untuk membujuk Jakarta agar mau melanjutkan proyek bersama itu.

Menurut salah satu sumber Korsel, pejabat Indonesia meminta negosiasi ulang kesepakatan awal KF-X/IF-X, salah satunya meminta lebih banyak transfer teknologi sebagai imbalan atas komitmennya.

Indonesia juga disebut memohon agar beban finansial yang harusnya dibayarkannya dikurangi dari 20 persen menjadi 15 persen dari total pembiayaan proyek. Sumber pejabat Korsel itu mengatakan tidak ada kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan di Jakarta tersebut. Namun, negosiasi tetap berlangsung.

Indonesia juga dikabarkan kurang senang dengan proyek KF-X/IF-X yang dinilai berjalan lambat. Baru-baru ini, Jakarta santer melirik jet tempur dari sejumlah negara seperti jet Rafale asal Prancis dan Sukhoi dari Rusia. “KF-X adalah jet tempur yang saat ini hanya baru berupa cetak biru, tapi jet Rafale sudah beroperasi. Untuk Indonesia, [melengkapi angkatan udaranya dengan jet Prancis] mungkin merupakan kesepakatan yang lebih menguntungkan meski itu berarti harus merelakan 227,2 miliar won yang sudah dibayarkan,” kata sumber pejabat industri pertahanan Korsel.

Fokus ke Jet Tempur Rafale

Sebelumnya  Indonesia dan Prancis telah dilaporkan melakukan negosiasi pembelian 48 jet tempur Dassault Rafale. Seperti dilaporkan media Prancis LA Tribune, Kamis (3/12) sejumlah sumber mengatakan negosiasi itu berjalan lancar. Dalam kunjungan ke Prancis pada 21 Oktober, Menteri Pertahanan Indonesia Prabowo Subianto menegaskan ketertarikannya pada pesawat tempur Dassault Aviation itu.

Jet Tempur Rafale asal Perancis – Asia Times

Menurut media itu, Indonesia ingin bergerak cepat, bahkan menginginkan kesepakatan tercapai sebelum akhir tahun. Sementara Prancis membutuhkan waktu untuk menyelesaikan kesepakatan dengan cara yang cermat.

“Jika pesanan ini terwujud, ini menjadi kabar baik bagi 500 perusahaan Prancis, yang bekerja untuk program Rafale. Ini sangat baik,” kata Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly kepada BFM TV pada Kamis sore.

Indonesia terus berupaya memperbaiki Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) dalam negeri untuk memperkuat kinerja TNI. Berbagai alutsista berupa jet tempur, kapal selam, hingga kapal perang buatan luar negeri dibidik oleh Kementerian Pertahanan.

Selain Rafale, Indonesia juga membidik Sukhoi Su-35. Rencana Indonesia membeli 11 jet tempur buatan Rusia ini telah berlangsung sejak 2018 lalu. Bahkan rencananya Sukhoi SU-35 ini masuk ke Indonesia per 2019 lalu. Namun hingga kini pesawat jet tempur itu tak juga terparkir di Indonesia.

Baca Juga: Analisis CSIS, Lembaga Think Tank AS Terkait Indo-Pasifik

Kemudian F-16 Block 72 Viper, pesawat tempur canggih buatan Amerika Serikat dan juga F-18 Hornet serta F-15. Parlemen AS dikabarkan telah menyetujui penjualan kepada Indonesia, kecuali F-35.

Prabowo mengungkapkan ketertarikannya pada jet tempur Rafale saat melakukan lawatan ke Prancis pada 11 Januari lalu.

Dia dilaporkan tertarik membeli48 Jet Tempur Dassault Rafale. Harga per unit dari Jet Tempur ini berada di kisaran USD 115 juta atau setara Rp1,5 triliun per unitnya.

Jet tempur ini dirancang sebagai pesawat tempur yang berpangkalan di daratan maupun kapal induk. Rafale disebut bisa bermanuver hingga 11 G dalam keadaan darurat, dengan laju kecepatan pendaratan hingga 115 knot.

Rafale juga dilengkapi sistem bantuan-pertahanan terintegrasi bernama SPECTRA, yang bisa melindungi pesawat dari serangan udara maupun darat.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.