In The Name of Cannabis Sativa

In The Name of Cannabis Sativa

In The Name of Cannabis Sativa

Penulis Jeri Rahmadani | Editor Rizaldi Dolly

Thexandria.com – Ganja atau Cannabis Sativa (merujuk pada jenis), telah lebih dari 12000 tahun menemani peradaban manusia. Pendapat negatif terkait ganja selama ini ternyata tidak selalu benar dengan situasi dilapangan bahwa di beberapa negara seperti : (Kanada, Belanda, Inggris, dan Colorrado) mulai mengkategorikan ganja sebagai tanaman “obat”.

Yang tentu dengan resep dokter, untuk membantu mengatasi beberapa penyakit seperti kejang perut, epilepsi, diabetes, kanker, “hingga minyak dari biji ganja dapat membunuh cacing dalam telinga serta mengeluarkan benda-benda asing dan kotoran” : Al-Antaki (abad ke-16).

Dalam salah satu Kitab pengobatan herbal tertua di dunia “Pen T’sao Ching”, yang berasal dari kumpulan catatan Kaisar Shen Nhung pada tahun 2900 SM, cannabis sativa juga dikategorikan sebagai tanaman medis yang dikatakan berkhasiat mengobati sakit datang bulan, malaria, rematik, gangguan kehamilan, gangguan pencernaan, dan penyakit lupa.

Pada kebudayaan China, serat tanaman ganja juga ditemukan sebagai bahan utama tekstil yang dihasilkan menjadi tali-temali, kertas, hingga pakaian tenun, yang kemudian mendobrak peradaban manusia.

Tanaman ganja mulai dari akar hingga bunganya dapat diolah menjadi kebutuhan umat. Mulai dari medis hingga industri. Terdapat lebih dari 400 jenis senyawa yang terkandung dalam ganja yang oleh kampanye anti narkotika disebut sebagai zat kimia yang mematikan.

Dari 400 senyawa yang baru diketahui, 60 diantaranya tergolong kelompok cannabinoid, yang dibagi menjadi sepuluh kelompok yaitu ; Cannabigerol (CBG), cannabichromene (CBC), cannabidiol (CBD), Delta-9-tetrahydrocannabinol (THC), Delta-8-tetrahydrocannabinol (TCH), cannabicyclol (CBL), cannabielsoin (CBE), cannabinol (CBN), cannabinodiol (CBND), dan cannabitriol (CBO).

Satu- satunya molekul psikoaktif yang menyebabkan efek “tinggi” saat dikonsumsi oleh manusia adalah Delta-9-hydrocannabinol atau biasa disebut THC. Belakangan diketahui CBD adalah zat yang dikembangkan oleh negara yang melegalisasi ganja untuk kepentingan medis.

Selanjutnya dalam ranah industri, beberapa nama besar telah membuat produk tekstil hingga kosmetik berbahan dasar serat & minyak ganja.

Tidak ada tanaman yang sia-sia, dia indah sebagai karya tuhan.

Di Indonesia, ganja dikenal sebagai tanaman yang dilarang oleh pemerintah Indonesia dan masuk ke dalam jenis narkotika berdasarkan “undang-undang nomor 35 tahun 2009” tentang narkotika yang menempatkan ganja pada golongan I yang tidak dapat dimanfaatkan sama sekali dan hanya dapat digunakan untuk kepentingan pengetahuan secara terbatas.

Artinya menanam, memiliki, atau menjual ganja merupakan tindakan kriminal dan dapat dikenakan pidana.

Hal ini menjadi dilematis ketika segelintir masyarakat ternyata mengggunakan ganja untuk kepentingan pengobatan, namun terjerat undang-undang yang secara tegas mengatur hal tersebut.

Seperti kisah Fidelis Arie, yang beberapa waktu lalu menggunakan ekstrak ganja untuk membantu penyembuhan penyakit istrinya yang di diagnosa menderita syringomyelia atau tumbuhnya kista berisi cairan (syrinx) di dalam sumsum tulang belakang, dalam hal ini Fidelis tetap dijatuhi hukuman dan istrinya pun wafat setelah 32 hari masuknya suaminya itu kedalam bui.

Regulasi yang mengatur ganja sebenarnya lahir pada saat pemerintah Indonesia mulai meratifikasi Konvensi Tunggal Narkotika pada tahun 1961 atau United Nation of Singel Convention on Narcotic Drugs 1961, adalah perjanjian internasional yang melarang produksi dan pasokan narkotika dan obat-obatan terlarang kecuali dibawah lisensi untuk tujuan tertentu, seperti perawatan medis dan penelitian.

Sementara sejarah masuknya ganja dalam kategori yang sama dengan heroin, morfin, dan kokain, merujuk pada konvensi opium internasional pertama pada tahun 1911-1912 di Hague, Swiss. Pada konferensi ini, opium dan zat-zat turunannya seperti morfin, kodein, dan heroin dijadikan bahasan pokok utama.

Meski belum terbukti secara ilmiah zat yang berada dalam kandungan ganja dapat mengobati beragam penyakit, namun beberapa negara yang melegalkan hemp (istilah ganja medis) memilih untuk mengkaji lebih lanjut dan melakukan penelitian terkait pemanfaatan ganja.

Baca Juga: Kalian Mungkin Bukan Atheis, Barangkali Hanya Malas Ibadah

Hingga detik ini belum ada catatan yang menyebutkan bahwa ganja menyebabkan kematian dan ketergantungan. Langkah objektif untuk mengetahui sesuatu dapat dikatakan moderat atau bermanfaat perlu dikedepankan.

Kemudian yang menjadi pertanyaan besar adalah, siapkah mentalitas masyarakat kita apabila legalisasi ganja diberlakukan suatu hari nanti?

Ada yang menarik dari video youtube Gofar Hilman, pada edisi ngobam dengan vokalis fourtwnty, Ari Lesmana. Ari yang diwawancarai kala itu, menceritakan pengalamannya ketika masih aktif sebagai pemakai narkotika dan ganja. Ari ditanya secara khusus mengenai legalisasi ganja. Ari tidak pesimis, namun, ia mengungkapkan bahwa untuk saat ini, Indonesia belum siap, tidak sekarang, mungkin nanti.

Hal yang sudah tepat dilakukan oleh para aktivis adalah, terus mengkampanyekan kepentingan ganja diluar UU Narkotika, yang belum banyak diketahui orang-orang.

Dalam hal ini, point of view nya adalah, edukasi. Mengedukasi masyarakat secara aktif dan masif, dapat menjadi sebuah investasi jangka panjang bagi penggunaan ganja secara arif, bijak, dan proporsional.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.