Illuminati; Lelucon Populis yang Tumbuh Subur di Negara-negara Dengan Tradisi Ilmiah yang Lemah

Illuminati; Lelucon Populis yang Tumbuh Subur di Negara-negara Dengan Tradisi Ilmiah yang Lemah

Illuminati; Lelucon Populis yang Tumbuh Subur di Negara-negara Dengan Tradisi Ilmiah yang Lemah

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Amika seorang sosiolog menjelaskan ada tiga penyebab utama, mengapa teori konspirasi sangat laris.

Thexandria.com – Pemikir Jerman abad ke-18 Adam Weishaupt pasti akan terkejut jika dia tahu idenya suatu hari akan memicu teori konspirasi global, dan menginspirasi novel terlaris dan film blockbuster.

Sampai usianya 36 tahun, sebagian besar rekan senegaranya akan sama-sama terpana mendapati bahwa profesor yang dihormati secara lahiriah ini adalah musuh negara yang berbahaya, yang masyarakat rahasianya, Illuminati, dipandang mengancam tatanan masyarakat.

Dilahirkan pada tahun 1748 di Ingolstadt, sebuah kota di Daerah Pemilihan Bavaria (sekarang bagian dari Jerman modern), Weishaupt adalah keturunan orang Yahudi yang pindah agama menjadi Kristen.  Yatim piatu pada usia muda, pamannya yang berpendidikan mengurus pendidikannya, dan mendaftarkannya di sekolah Yesuit. Setelah menyelesaikan studinya, Weishaupt menjadi profesor hukum alam dan kanon di University of Ingolstadt, menikah, dan memulai sebuah keluarga. Di permukaan, itu adalah karier yang cukup konvensional — hingga 1784 ketika negara bagian Bavaria mempelajari ide-ide yang membakar tingkat intelektualitasnya.

Baca Juga Mengenai Déjà Vu dan Saya Membencinya

Weishaupt selalu memiliki pikiran yang gelisah. Sebagai anak laki-laki ia adalah pembaca yang rajin, mengkonsumsi buku-buku oleh para filsuf Pencerahan Prancis terbaru di perpustakaan pamannya.  Bavaria pada waktu itu sangat konservatif dan Katolik. Weishaupt bukan satu-satunya yang percaya bahwa monarki dan gereja menekan kebebasan berpikir.

Yakin bahwa ide-ide keagamaan tidak lagi menjadi sistem kepercayaan yang memadai untuk memerintah masyarakat modern, ia memutuskan untuk menemukan bentuk lain dari “iluminasi,” serangkaian ide dan praktik yang dapat diterapkan untuk secara radikal mengubah cara negara-negara Eropa dijalankan.

Freemasonry terus berkembang di seluruh Eropa pada periode ini, menawarkan alternatif menarik bagi pemikir bebas. Weishaupt awalnya berpikir untuk bergabung dengan Freemason. Namun, karena kecewa dengan banyak gagasan Freemason, ia menjadi asyik dengan buku-buku yang membahas tema-tema esoteris seperti Misteri Tujuh Orang Bijak di Memphis dan Kabbala, dan memutuskan untuk mendirikan sebuah organisasi rahasia baru miliknya sendiri.

Hingga di abad 21 ini, illuminati menjadi sebuah tren pembahasan yang tak ada habisnya, untuk yang mampu berpikir kritis, teori-teori konspirasi tak ubahnya sebuah lelucon tanpa pembuktian saintifik. Namun sialnya, kebanyakan masyarakat, tak segan mudah mempercayai hanya berdasarkan beberapa artikel ataupun video youtube yang tak jelas kredibiltasnya.

Amika seorang sosiolog menjelaskan ada tiga penyebab utama, mengapa teori konspirasi sangat laris.

Baca Juga Cicada 3301 (?)

Pertama, kemunculan internet sebagai kanal orang-orang mencari keterkenalan tapi dengan memproduksi serta menyebarkan hal-hal konspiratif. Dulu teori konspirasi berkembang melalui media cetak, lalu kini bertemu dunia maya sebagai kanal baru yang lebih masif.

“Seperti fake news, hal-hal kontroversial itu kebanyakan ditangkap, dipercayai oleh orang-orang yang tidak siap bermain internet. Teori konspirasi di YouTube bikin geleng-geleng kepala. Ada yang menyebut Stonehenge (situs bersejarah di Inggris) tak asli sampai percaya situs-situs sejarah bikinan alien.”

Kedua, harapan atas self-fulfiling prophecy atau prediksi tentang kebenaran ramalan. Skenario teori konspirasi selalu mengacu ke teori yang Amika sebut standar, yakni saat sesuatu yang keliru dianggap menjadi benar jika banyak dibicarakan serta diyakini banyak orang.

Jumlah para penganut teori konspirasi Amika tengarai tidak terlalu banyak di negara dengan tradisi ilmiah yang kuat karena masyarakatnya lebih rasional dan kritis. Negara dengan tradisi ilmiah lemah memiliki penganut teori konspirasi yang lebih besar. Persamaannya: sama-sama jadi bahan tertawaan.

Ketiga, psikologi ancaman. Amika melihat perkembangan teori konspirasi serupa Brexit yang digerakkan fake news soal ancaman imigrasi bagi pekerja informal asli Inggris sampai isu perihal dominasi Uni Eropa yang dianggap tidak menguntungkan institusi publik di negara Ratu Elizabeth.

Baca Juga In The Name of Cannabis Sativa

“Orang Indonesia sama, selalu merasa terancam, baik secara ekonomi, budaya, apalagi agama. Maka narasi konspirasi akarnya selalu soal ancaman dari sesuatu di luar sana yang dominan, elite, rahasia, yang diyakini sedang menjalankan tujuan jahat melawan mereka.”

Isu Illuminati pun Amika pandang sepadan dengan isu ancaman PKI, Aseng (Cina), Yahudi, dan sebarisannya. Sama-sama tidak memiliki bukti kuat, tapi sering dipakai untuk menakut-nakuti khalayak dengan beragam motif.

Rata-rata sejarawan pengulik teori konspirasi mengambil kesimpulan bahwa Illuminati pada era modern memperoleh reputasi yang jauh dilebih-lebihkan ketimbang fakta sebenarnya. Meski mengacu pada beberapa organisasi, Illuminati yang populer dalam narasi teori konspirasi paling sering merujuk pada Bavarian Illuminati.

Phill Edward menjelaskan melalui kanal Vox, Bavarian Illuminati dibentuk pada 1776. Perkumpulan rahasia ini diinisiasi oleh filsuf Jerman Adam Weishaupt yang amat mempercayai nilai-nilai pencerahan.

Weishaupt dan pengikutnya giat mempromosikan ide-idenya ke lingkaran elite Jerman dan Eropa, terutama elite politik, agar bisa menjalarkan pengaruhnya saat target benar-benar berkuasa. Mereka berkeyakinan pada pemikiran rasional hingga kemandirian pribadi (atau masyarakat).

Para pendiri hanya berjumlah enam hingga sembilan orang, tapi anggota berkembang hingga kisaran seribu. Cara meluaskan organisasi tergolong cerdik, yakni menjadi sel tidur di organisasi lain. Salah satunya dengan menyusup ke Freemansory, organisasi persaudaraan yang juga bersifat tertutup tapi berumur lebih panjang.

Baca Juga Misteri Mars yang “Bernyanyi” dan Pemikiran yang Tenggelam dalam Ketidakmungkinan

Apakah Illuminati mengontrol dunia sebagaimana klaim dan kepercayaan masyarakat? Sejarawan menilainya sebagai kekeliruan fatal. Beberapa berujung klaim belaka, seperti keyakinan bahwa Illuminati menginspirasi Revolusi Perancis.

Faktanya, Bavarian Illuminati hanya berusia sembilan tahun. Tepatnya pada 1785, ketika Adipati penguasa Bavaria melarang perkumpulan rahasia dan menerapkan hukuman serius bagi orang yang membuat organisasi rahasia baru atau mengikuti yang lama.

Phill merujuk artikelnya pada beberapa buku tentang Illuminati untuk menjawab mengapa perkumpulan itu menjadi organisasi bayangan paling disegani di dunia konspirasi. Salah satu jawabannya adalah karena George Washington dan beberapa pendiri Amerika pernah menyatakan kekhawatiran terhadap ancaman Illuminati.

Illuminati serta hal-hal konspiratif di sekitarnya kemudian menjadi tema yang mulai digarap oleh industri hiburan pada 1970-an. Sejak itu produk budaya pop sesekali menampilkan simbolnya, mulai dari AS lalu meluas ke berbagai negara, mulai dari bacaan hingga film layar lebar.

Melalui sikap kritis, sebagian masyarakat dunia menganggapnya sebagai omong kosong. Tapi, bagi sebagian lainnya, Illuminati bukan hanya sosok yang diyakini, tapi juga diwaspadai.

Beberapa pesohor yang memakai simbol mirip Illuminati untuk kepentingan persona maupun bisnis pun kena tuduhan macam-macam.

Dalam konteks masyarakat Indonesia, Amika melacak problemnya hingga ke pendidikan. Pendidikan di Indonesia belum mampu membekali orang-orang untuk tahan terhadap analisis serampangan model para pegiat teori konspiratif. Mereka, dalam kata lain, adalah korban.

Baca Juga Di ‘Pluto’, Gue Sirna Sebelum Sempurna

Efek latennya?

“Merusak kohesi (ikatan) masyarakat sebagai sebuah bangsa karena kulturnya saling mencurigai, tidak saliing berpikir positif. Sedikit-sedikit Illuminati, sedikit-sedikit PKI, sedikit-sedikit Yahudi.”

Ada terlalu banyak hoax dan teori konspirasi yang susah diterima nalar beredar di Indonesia. Apalagi kalau sudah dicampur dogma dan paranoia. Zaman Suharto masih presiden, beredar surat berantai mengatasnamakan imam Masjidil Haram menyebar kutukan. Di era Orde Baru pula, banyak penduduk di Tanah Air mengenal satu buku legendaris karangan Muhammad Isa Dawud yang membuat pembacanya familiar sama kombinasi konsep absurd berikut: Dajjal+Segitiga Bermuda+UFO+Jin Muslim.

Berkat akses Internet yang semakin murah didukung menjamurnya warnet, lahir generasi pertama ‘netizen lokal’ yang siap memamah informasi apapun dari dunia maya. Termasuk teori dan diskusi seputar Illuminati atau Freemason dari forum Internet indocropcircle atau KasKus.

Intinya, memasuki Abad 21, perbendaharaan teori konspirasi kita makin canggih sekaligus beragam. Tapi Illuminati dan Dajjal (atau kombinasi keduanya) terasa punya kesan lebih besar dibanding teori konspirasi lain. Nyatanya, penerbit mayor dan toko buku besar masih mau memberi ruang untuk buku bombastis macam ini. Buku tersebut laris manis pula.

Baca Juga Panduan Memahami Mengapa Menghayal dan Mengeluh Itu ‘Spiritualistik’

Membedah Illuminati

Apa sebenarnya Illuminati itu? Para ahli teori konspirasi seperti Alex Jones percaya itu adalah organisasi rahasia, mungkin setan yang secara diam-diam mengendalikan setiap aspek dunia seperti yang kita kenal. Menurut rumor, Illuminati bahkan mengatur beberapa kematian selebritas untuk keuntungan sosial kelompok itu sendiri. Tujuan akhir organisasi tersebut adalah untuk mengimplementasikan Tata Dunia Baru, yang digambarkan oleh penulis Majalah New York Hua Hsu sebagai “pemerintah satu-dunia yang sangat kuat, mungkin Luciferian, satu-dunia.”

Tetapi apakah Illuminati nyata?  Jika kita pergi dengan definisi konspirasi, mungkin tidak. Sebuah masyarakat rahasia yang sebenarnya beroperasi di bawah nama ini untuk periode singkat di abad ke-18, tetapi itu memunculkan sedikit kemiripan dengan organisasi yang konon berpengaruh dan jahat.

Bagaimana kelompok intelektual kecil tadi menjadi – setidaknya di mata teori konspirasi – jaringan bayangan paling berbahaya sepanjang masa?

Berikut ini adalah fakta-fakta Illuminati yang dapat diverifikasi dan tidak dapat disangkal, dari permulaan masyarakat yang tenang dan pembubaran yang cepat, hingga dugaan kebangkitannya sebagai nexus dari semua kejahatan.

Kembali lagi kepada pria di belakang Ordo Illuminati, Adam Weishaupt.

Baca Juga Kebetulan, Teman yang Pake Airpods Dimanapun-Kapanpun Itu Nyebelin dan Terkesan Pamer

Weishaupt mengkonsumsi setiap teks French Enlightenment yang tersedia baginya. Gagasan-gagasan dalam buku-buku ini mendorong Weishaupt untuk mengembangkan ketidakpercayaan umum terhadap negara-negara yang didominasi oleh pandangan agama, khususnya tanah kelahirannya yang sangat Katolik, Bavaria.

Dia sama sekali tidak menentang agama, tetapi dia bersikeras bahwa penerapannya terhadap negara menghalangi pemikiran bebas.

Dia percaya Gereja Katolik, khususnya, tidak toleran dan fanatik. Dengan demikian, untuk memerangi cengkeraman Gereja pada pengetahuan di negaranya, ia mulai membayangkan kelompok formal yang lebih menyukai penerangan daripada penindasan.

Pandangan pribadi Adam Weishaupt secara tidak sengaja menyebabkan interpretasi modern kita tentang Illuminati sebagai organisasi anti-Kristen.

Michael Barkun, penulis A Culture of Conspiracy, mencatat hubungan antara teori konspirasi dan orang Kristen fundamentalis yang mengkhawatirkan Antikristus.

Hal ini disebabkan oleh pengaruh penulis seperti Texe Marrs, yang percaya bahwa elit politik “terikat pada Antikristus,” serta televangelist Pat Robertson. Bukunya tahun 1991, The New World Order bermaksud mengungkap “Pembentukan” organisasi jaringan yang diam-diam mengendalikan dunia, termasuk para pemimpin Zaman Baru, Freemason, dan, tentu saja, Illuminati.

Selain itu, novel karya Dan Brown pada tahun 2000, Angels & Demons, menghadirkan kepada para pembaca Illuminati yang muncul kembali yang “sangat anti-Kristen” dan sangat ingin membalas dendam terhadap Gereja Katolik. Sementara Brown tidak semata-mata bertanggung jawab untuk membayangkan kembali Illuminati seperti yang kita kenal sekarang, popularitas novelnya (dan juga sekuelnya, The Da Vinci Code) tentu saja membantu.

Sebenarnya jika ada kelompok yang umumnya dikaitkan dengan teori konspirasi seperti Illuminati, itu adalah Freemason, masyarakat sekuler rahasia lain yang didirikan setidaknya 60 tahun sebelumnya.

Baca Juga Mengadopsi Filosofi Kehidupan Bikini Bottom di Kehidupan Orang Dewasa

Ketika Adam Weishaupt mencari organisasi yang menghindari agama demi pencerahan intelektual, ia mempertimbangkan untuk bergabung dengan sebuah kelompok Masonik, tetapi tidak secara resmi bergabung dengan barisan mereka (setidaknya, bukan pada awalnya).

Akun berbeda tentang mengapa Weishaupt tidak bergabung dengan Freemason. Live Science menyatakan Weishaupt tidak memiliki dana yang diperlukan untuk bergabung, dan juga merasa bahwa kelompok itu terlalu terkenal untuk mendukung pencariannya ke arah penerangan di luar mata Gereja yang waspada.

Apa pun masalahnya, pada 1 Mei 1776, Weishaupt akhirnya membentuk masyarakatnya sendiri, Ordo Illuminati.  Namun, meskipun ia menempa jalannya sendiri, Weishaupt dan anggota awal Baron Adolph von Knigge meminjam dengan murah hati dari struktur dasar Freemason.

Mereka menerapkan nama kode rahasia (Weishaupt adalah Spartacus, misalnya, sementara Knigge adalah Philo);  menciptakan hierarki keanggotaan berdasarkan senioritas dan tingkat pengetahuan, dengan kemampuan untuk naik ke “peringkat;” dan ikut serta dalam ritual inisiasi yang aneh, meskipun detailnya masih sedikit berkat kerahasiaan masyarakat.

Tapi Weishaupt tidak cukup puas dengan Freemason. Hampir setahun setelah mendirikan Illuminati, ia bergabung dengan Masonik setempat. Namun, ini bukan situasi dua-waktu;  Weishaupt bergabung untuk merekrut kaum Mason ke organisasinya sendiri – sebuah upaya perburuan liar yang diadopsi oleh anggota Illuminati lainnya.

Karena kedekatan relatif dari fondasi kelompok, serta kesamaan antara operasi mereka – terutama sifat klandestin mereka – banyak orang mengacaukan atau membingungkan kedua kelompok.

Ini mungkin, sebagian, menjelaskan mengapa beberapa orang percaya Illuminati masih ada. Sementara kelompok Weishaupt runtuh dalam satu dekade, Freemason tetap aktif.

Para ahli teori konspirasi sering menunjuk ke Eye of Providence – simbol mata, kadang-kadang melayang-layang di dalam segitiga – sebagai bukti pengaruh Illuminati modern. Seseorang hanya perlu mencari Gambar Google untuk “Illuminati” untuk bukti ini. Bahkan selebritas terkemuka seperti rapper Jay-Z dan penyanyi penyanyi superstarnya, Beyoncé (keduanya dituduh bertindak sebagai agen untuk perkumpulan rahasia) bermain-main dengan flash segitiga dan mengelilingi mata mereka di konser.

Tetapi bagaimana simbol ini menjadi begitu terjerat dengan Illuminati, terutama karena baik Adam Weishaupt maupun anggota Illuminati tidak pernah mengadopsinya ke dalam ikonografi masyarakat?

Jawabannya ada hubungannya dengan Para Pendiri Amerika Serikat, serta Freemason.

Menurut penulis Business Insider, Nathaniel Lee dan David Anderson, simbol tersebut berakar dalam agama Kristen, dengan tiga titik segitiga melambangkan Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Mata konon mewakili mata Tuhan yang melihat semuanya – meskipun struktur dasarnya mungkin merujuk pada Mata Horus Mesir, dewa elang yang mampu “melihat semua.”

Sebagaimana dicatat oleh sejarawan S. Brent Morris, “mata yang melihat” ini muncul dalam berbagai karya Renaissance dan merupakan simbol yang dapat dikenali pada saat para Bapa Pendiri mulai menciptakan negara baru.

Weishaupt mencari pencerahan selain dari Gereja Katolik – sebuah lembaga yang benar-benar mengawasi Bavaria – sehingga tampaknya tidak mungkin ia akan memilih simbol religius seperti itu untuk mewakili masyarakatnya. Namun, para pemain terkemuka dalam Revolusi Amerika menciptakan lambang versi mereka sendiri untuk bertindak sebagai Segel Besar negara baru itu, yang akhirnya menemukan jalannya ke belakang uang kertas US $ 1.

Mereka memilih piramida – baik tanpa disadari atau sengaja mengingat ikonografi Mesir – dengan Mata Penyelamatan melayang di atasnya karena struktur tersebut mewakili kekuatan dan stabilitas. Menurut Nancy Marshall-Genzer dari Marketplace, “The Founding Fathers ingin negara itu bertahan selama piramida.” Mata melayani tujuan yang sama, dengan Tuhan selalu mengawasi Amerika Serikat.  Di mata para Bapak Pendiri, keberhasilan negara secara langsung bergantung pada pemeliharaan Allah.

Banyak yang percaya keunggulan keanggotaan Freemasonry di antara para Founding Fathers memengaruhi pilihan Eye of Providence sebagai bagian dari Segel Besar Amerika Serikat, tetapi sebaliknya. Meskipun benar Freemason menggunakan mata yang melihat semua dalam beberapa ikonografi mereka, mereka tidak memasukkan segitiga dalam desain mereka sampai 1797, baik setelah penandatanganan Deklarasi Kemerdekaan. Selain itu, hanya ada satu Mason di komite desain Great Seal: Benjamin Franklin. Namun, Kongres menolak kontribusinya.

Terlepas dari fakta-fakta ini, dan karena masyarakat cenderung membingungkan kedua kelompok, teori ulet tetap ada.  Beberapa orang masih percaya bahwa Eye of Providence mewakili masyarakat Weishaupt – dan bahwa kemunculannya pada uang kertas US $ 1 menunjukkan dorongan menuju Tata Dunia Baru.

Dalam visi asli Adam Weishaupt, keanggotaan Illuminati dipecah menjadi tiga peringkat dasar: novis, minervals (dinamai dewi Romawi Minerva), dan minerval yang diterangi.

Weishaupt memilih lencana dewi, yang menampilkan burung hantu yang duduk di atas sebuah buku, untuk mewakili tingkat ketiga.

Mengapa? Minerva, antara lain, adalah dewi kebijaksanaan, namanya berasal dari kata Latin meminisse, “untuk mengingat.”  Dengan demikian, lambangnya mewakili kehausan Illuminati akan pengetahuan dan pemikiran rasional.

Sementara sebagian besar orang (secara keliru) mengakui Eye of Providence sebagai lambang utama Illuminati, Owl of Minerva sesekali muncul sebagai maskot yang diduga sebagai New World Order.  Terutama, teori konspirasi menunjuk ke Bohemian Grove, sebuah liburan tahunan selama seminggu untuk pria kulit putih yang kaya dan konservatif, yang telah mencakup hampir setiap presiden AS dari Partai Republik sejak Calvin Coolidge.  Tamasya ini termasuk upacara ritual yang disebut “Kremasi Perawatan.” Itu melibatkan anggota berpakaian jubah yang berkumpul di sekitar patung burung hantu setinggi 40 kaki untuk membakar patung peti mati yang dinamai “Care.”

Ilustrasi tempat pemujaan burung hantu ini, serta simbologi burung hantu lainnya, menonjol dalam materi promosi internal klub.

Ahli teori konspirasi Alex Jones diam-diam memfilmkan “Kremasi Perawatan” dan menyajikan rekaman itu sebagai “bukti” kejadian Illuminati di Bohemian Grove. Dia juga mengklaim ada “ruang seks” bawah tanah yang tersebar di seluruh halaman Grove, serta makam sungguhan yang menampung korban manusia bayi.

Seorang juru bicara Bohemian Grove menegaskan ritual itu tidak lebih dari “drama musikal.”  Yang lain mengklaim itu alasan ringan bagi pria untuk gaduh, minum berlebihan, membuat lelucon kotor, dan buang air kecil dengan bebas di hutan (wanita tidak diizinkan untuk bergabung).

Namun, karena kerahasiaan grup dan keanggotaan elit, teori tentang hubungannya dengan Illuminati dan Tata Dunia Baru berlimpah.  Hal-hal yang lebih rumit adalah dugaan dimasukkannya burung hantu mikroskopis pada uang kertas US $ 1 (catatan yang sama bertuliskan Eye of Providence). Burung itu diduga duduk di dekat angka “1” di sisi kanan depan tagihan, tersembunyi di antara pola renda yang rumit.

Namun, tidak semua orang mengira makhluk itu adalah burung hantu – beberapa orang percaya itu seekor laba-laba, mengingat penampilan seperti renda di jaring. Yang lain berpikir itu terlihat seperti tengkorak dan tulang bersilang.  Sementara interpretasi berlimpah, tanda kemungkinan besar merupakan tindakan anti-palsu belaka daripada anggukan halus kepada influencer Illuminati yang berkumpul setiap tahun di Bohemian Grove.

Awal Semula

Teori tentang pengaruh Illuminati pada sejarah muncul kembali lebih dari 150 tahun kemudian. Melaporkan untuk BBC, Sophia Smith Galer menulis:

Semuanya dimulai di suatu tempat di tengah-tengah Musim Panas Cinta dan fenomena hippie, ketika sebuah teks kecil dicetak muncul: Principia Discordia.

Singkatnya, buku itu adalah teks parodi untuk iman parodi – Discordianisme – disulap oleh para anarkis yang antusias dan pemikir untuk menawar para pembacanya untuk menyembah Eris, dewi kekacauan. Gerakan Discordian pada akhirnya adalah sebuah kolektif yang ingin menyebabkan pembangkangan sipil, lelucon praktis, dan tipuan.

Baca Juga: Deftones dan Sisi Depresif Nu Metal 90-an

Sementara buku itu tidak melibatkan agama yang nyata, salah satu penulis Principia Discordia, Kerry Thornley, bermitra dengan penulis Robert Anton Wilson, yang bekerja untuk Playboy pada saat itu, untuk mengaktualisasikan beberapa ide teks. Menurut Galer, “Mereka ingin membawa kekacauan kembali ke masyarakat untuk mengguncang segalanya.”  Penulis David Bramwell menjelaskan:

Cara untuk melakukan itu adalah menyebarkan disinformasi. Untuk menyebarkan informasi yang salah melalui semua portal – melalui tandingan, melalui media arus utama, melalui cara apa pun.  Dan mereka memutuskan untuk melakukan itu pada awalnya dengan menceritakan kisah-kisah tentang Illuminati.

Thornley dan Wilson menulis surat fiksi kepada editor Playboy yang membagikan informasi tentang organisasi misterius dan jahat itu. Mereka kemudian mengirimkan gelombang kedua surat yang melawan klaim dari entri sebelumnya.

Mereka berharap para pembaca akan memperhatikan perbedaan dan menyadari itu semua dibuat-buat. Melangkah lebih jauh, Wilson dan penulis Playboy lainnya, Robert Shea, menciptakan The Illuminatus! Trilogy, kumpulan novel satir yang surealis.

Ini berimplikasi Illuminati dalam kematian John F. Kennedy, Robert F. Kennedy, dan Martin Luther King Jr sebelum waktunya. Selain itu, salah satu buku berteori Adam Weishaupt melarikan diri ke Amerika setelah aibnya di Bavaria, mengambil George Washington, dan mengasumsikan  identitasnya untuk menyebarkan pengaruh Illuminati di Dunia Baru.

Lagi-lagi, para penulis menyebut cerita-cerita ini sebagai fiksi sejarah absurd.  Namun, teori konspirasi tentang Illuminati mengamuk, dan banyak orang mulai secara aktif mengklaim bahwa kelompok itu masih ada dan menggunakan kekuatan dengan impunitas.

Maka merupakan ironi yang kaya bahwa apa yang pada dasarnya “berita palsu” dari tahun 1960-an mengarah pada konsepsi modern kita tentang Illuminati – yang diinginkan oleh Weishaupt adalah masyarakat yang didasarkan pada kebijaksanaan dan pencarian kebenaran.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.