Ikut-ikutan Sedikit Lebih Beda, Lebih Baik Daripada Sedikit Lebih Baik

Ikut-ikutan Sedikit Lebih Beda, Lebih Baik Daripada Sedikit Lebih Baik

Ikut-ikutan Sedikit Lebih Beda, Lebih Baik Daripada Sedikit Lebih Baik

Penulis Adi Perdiana | Editor Rizaldi Dolly

Please lah ya, menjadi sedikit lebih beda tidak sama artinya dengan mempermalukan diri sendiri.

Thexandria.com – Sebuah konsep yang tak asing terngiang di pikiran saya dulu pada jaman perkuliahan. Wejangan-wejangan dari dosen dan senior ketika membuat suatu karya ilmiah maupun ketika mengikuti perlombaan.

Meskipun pernah sempat terlupakan dari benak pikiran karena merasa salah jurusan, namun saya mencoba kembali meramunya untuk diterapkan di perusahaan media yang masih tahap rintisan ini.

Mengapa menjadi lebih beda begitu penting dalam berkarya di era digital masa kini, bagaimana tidak?

Di antara tumpukan karya yang bertebaran luas di internet sana apakah yang membuat orang lain melihat suatu karya dan dengan setia menanti karya selanjutnya?

Baca Juga Teriak-teriak Soal Feminisme Biar Keliatan Edgy: Sebuah Logical Fallacy

Saya ingat tentang “menjadi sedikit lebih beda, lebih baik daripada sedikit lebih baik” adalah sebuah materi stand up dari Pandji Pragiwaksono dalam acaranya yang bertajuk Juru Bicara World Tour tahun 2016.

Dan saya pun pernah mendengar kalimat itu langsung dari bang Pandji ketika ia berkunjung di kampus saya sebagai seorang pembicara. Duh nostalgia ketika masih rajin-rajinnya kuliah dulu.

Akan tetapi belakangan ini saya semakin paham tentang konsep itu.

Setelah study banding dan penelitian secara mendalam yang saya lakukan secara independen akhirnya saya mendapati sebuah pemahaman bahwa banyak sekali karya yang bertebaran di internet adalah hasil ikut-ikutan.

Lalu pertanyaannya apakah itu salah? Jawabannya bisa iya, bisa juga tidak.

Jika salah, lalu dimana letak kesalahannya?

Ini dia pemaparannya, orang-orang kebanyakan melihat karya dari sang idolanya yang luar biasa lalu mencontek karya mereka sedetail mungkin agar bisa menjadi sama dengannya. Alhasil karya mereka bagus dan berkualitas. Tapi nilainya murah.

Kenapa murah? Karena coba bandingkan berapa banyak orang yang melakukan pencontekan terhadap karya sang idola, hingga akhirnya karya dengan gaya yang sama bertebaran diluar sana.

Baca Juga Gue Menemukan Esensi dari Sensasi Menuju Pernikahan, Yaitu; Sunat!

Maka ketika penonton melihat karya tadi, mereka akan sadar bahwa karya-karya itu memiliki gaya yang sama dengan empunya yakni sang idola.

Akhirnya lahirlah perbandingan, antara karya sang idola dengan karya para pencontek.

Mana yang lebih baik? Tentu saja sang idola sebagai pencetusnya karena dia akan di cap sebagai yang orisinil. Lalu di antaranya yang sadar tadi akan nyeletuk “eh ini kan mirip kayak si ini?” nah loh.

Tentu karya yang orisinil akan mempunyai sisi tersendiri di hati para penikmat, dibanding karya yang lahir dari dunia contek mencontek.

Akan tetapi mereka yang mencontek juga tidak bisa disalahkan semena-mena.

Mari kita lihat sisi baiknya, kalau ada. “Berusaha” setidaknya kita telah berusaha, toh kunci dari berkarya adalah proses. Tidak akan ada master tanpa beginner. Kalau jelek pada awalnya ya gak papa, tapi perbaiki di karya selanjutnya.

Sedikit Lebih Beda, Lebih Baik Daripada Sedikit Lebih Baik yang Gagal Paham

Saya rasa belakangan ini banyak sekali yang menerapkan konsep tersebut entah mereka tidak tahu atau terlalu paham tentang konsep sedikit lebih beda, lebih baik daripada sedikit lebih baik hingga akhirnya muncul viral-viral yang aneh nan absurd.

Salah satu contoh nih ya orang makan sabun jadi viral, banyak banget yang nonton. Padahal kan itu … ah sudahlah.

Baca Juga Satire: Rajin Membaca Jadi Pandai, Malas Membaca Malah Nyetrum Lutfi

Tentu hal itu memang beda, beda banget malahan. Dan itu hanya satu contoh dari sekian banyak keanehan duniawi yang beredar di belantara internet masa kini.

Berdeda-beda tingkat keanehannya, dan berbeda-beda pula keabsurdannya tapi ‘konyolnya’ luar biasa. Naasnya cara tersebut berhasil mengundang banyak penonton dan keanehan nan absurd lainnya yang ikut-ikutan.

Akhirnya saya sepakat dengan sebuah statement yang mengatakan stop making stupid people famous. Jujur saja alasan utama saya adalah karena kasihan.

Memang benar segala hal yang kita lakukan di dunia ini akan bermuara pada dua sisi yang selalu beriringan dan tak bisa disatukan, yaitu sisi yang setuju dan tidak setuju, sisi yang sepakat atau tidak sepakat, sisi yang suka atau tidak suka.

Tapi jika contoh-contoh ‘gila’ terus bermunculan dan terbukti memang berhasil menarik massa yang banyak. Maka hal aneh nan absurd apalagi yang akan bermunculan?

Saya jadi ngeri-ngeri sedap untuk membayangkannya.

Please lah ya, menjadi sedikit lebih beda tidak sama artinya dengan mempermalukan diri sendiri.

Karena saya percaya bahwa sedikit lebih beda adalah berkarya dan berjuang dengan segala hal yang kita punya, lalu memperlihatkannya kepada dunia dengan karakter dan keunikan kita masing masing. Perihal bagus atau jelek, suka atau tidak kan masalah perspektif yang relatif dan kerapkali subjektif.

Baca Juga Dialog Tertulis, Berbagi Perspektif dengan Pelakon Seks Bebas: Seberapa Penting Sexual Consent Baginya?

Duh jadi panjang lebar kan ceritanya, sebenernya sih saya cuma mau bilang begini “jangan suka asal ikut-ikutan dong.”

Sekian.

Eh terakhir deng, kalo menurut lo konten thexandria ikut-ikutan. Please deh baca beberapa konten thexandria sebelumnya dan tunggu konten-konten selanjutnya dijamin lo bakal nemuin banyak hal dengan perspektif yang berbeda.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.