I Cri

i cri

I Cri

Oleh Rizaldi Dolly

Bagaimana seharusnya kita menjadi kita yang tanpa rupa riasan yang semerawut?

Gincu sampai ke pipi, membentuk senyuman bergaris merah

Lalu kita mencari dimana saja letak keberadaan hujan

Supaya tak satupun orang lain tau, bahwa ada yang ikut tersedu tapi malu

Dan oh, rupanya bermain seakan menjadi korban memang sebahagia ini

Semudah mengacungkan jari tengah ke langit-langit cerah

“Fuck you!” Rasakan itu!

Mungkin, mungkin saja, sebenarnya tak ada implikasi apa-apa

Tapi bagaimana dengan hidup yang celakanya tidak bermula dari isak tangis bayi ketika lahir

Bukan

Demi Tuhan

Bukan

Tapi hidup bermulakan dari sebuah tanda tanya yang besar

Soal klasik tapi selalu asik dipertangiskan

“Untuk apa kita bertahan sejauh ini?”

Bukannya lebih baik andai saja dulu kita ditabrak pengguna motor yang mabuk disiang hari

Orang-orang akan menangisi kita dan mengenang kita tanpa bercak hitam sedikitpun

Berita baiknya, dunia mengira kita orang baik

Benar benar baik

Hei anjing? Bukankah kau lebih suci dari kami? Kamilah yang sebenernya nista

Najis hanya dengan sekelibat mata

Dan… ketika ibu mendongeng soal “kebahagiaan”

Bukankah kita seharusnya merasa, bahwa tempat teraman untuk tidur adalah di dalam rahim?

Sekali lagi, aku katakan dengan pelan, penuh lembut, penuh kemengertian

Bukankah kita seharusnya merasa, bahwa tempat terbaik untuk tidur adalah di dalam rahim?

Baca Juga: Rangkaian Puisi; Rasa yang Ter-karantina

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.