Hutan Hujan Menerjang Linimasa yang Berantakan dengan Single “Pancaroba Peradaban”

Music Video Hutan Hujan - Pancaroba Peradaban

Hutan Hujan Menerjang Linimasa yang Berantakan dengan Single “Pancaroba Peradaban

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Kadang, peradaban berjalan pelan kejam, merubah pengertian menjadi saling tikam.

Thexandria.com – Apa yang pertama terlintas kala mendengar Hutan Hujan? Unit folk dengan lagu “adem”? Mendayu-dayu? Lirik surealis? Kali ini, ada baiknya kita lupakan itu semua. Sejenak.

Lewat single terbaru mereka bertajuk “Pancaroba Peradaban”, Hutan Hujan sekilas menyampaikan sebuah amarah. Sebuah ekspresi keluh kesah, tentu bukan hal yang biasanya dibuat oleh kuintet asal Malang ini. Coba simak single sebelumnya yang bertajuk “Jatuh Rindu” serta album pertama mereka Hutan Hujan (2018). Terasa berbeda, bukan?

Dalam lirik yang disajikan, mencerminkan betapa situasi bumi saat ini hampir dipenuhi oleh perpecahan yang diciptakan oleh umat manusia. Saling tikam dan menjatuhkan satu sama lain yang menjadi justifikasi perkataan bangsa Iblis pada awal penciptaan manusia. Pada sebuah kisah dalam agama Islam, Iblis pernah mengatakan bahwa: “Manusia hanya akan membuat kerusakan di bumi.”

Baca Juga: Time Bomb and The Gangs Merayakan Perbedaan dengan Merilis Single: One Roots

Diakui oleh Sigit Prasetyo, sang penulis lirik, bahwasannya “Pancaroba Peradaban” terinspirasi dari kekacauan hari-hari ini. “Liriknya adalah keluh kesah perubahan perilaku manusia di era digital sekarang ini. Manusia lebih berani berekspresi dan berucap kata tanpa mempedulikan lawan bicaranya,” tutur pria yang sering terlibat di belakang layar beberapa band kota Malang tersebut.

“Hal di atas bisa jadi belati bermata dua, di satu sisi mengungkapkan kejujuran. Tapi di lain sisi satu kata dapat membunuh perasaan orang lain dengan atau tanpa disadari. Tak heran jika belakangan timeline social media kita penuh dengan umpatan dan caci maki dari sesama warganet,” tambahnya. Keresahan tersebut kemudian disambut antusias oleh Edy Priono, gitaris Hutan Hujan, sekaligus karib Sigit selama 13 tahun ini. Syahdan, penulisan lirik, melodi, hingga aransemen dari lagu inipun tak memerlukan waktu lama untuk dimanifestasikan menjadi karya utuh. “Mungkin karena kami juga sudah satu frekuensi,” tutur Edy.

Sedikit lebih dalam tentang sisi aransemen dan musik, “Pancaroba Peradaban” lebih kaya dengan perubahan nada, tempo dan birama. Lompatan-lompatan ketukan dari 6/8 menjadi 4/4 dengan balutan nada-nada timur tengah khas Ottoman membuat progresi dan groove lagu ini berbeda dengan kebanyakan musik yang sedang beredar di pasaran hari ini. Instrumen yang mengisi cukup normatif, namun alunan biola hadir menjadi sebuah aroma yang membuat suasana ‘mencekam’ dalam single ini semakin terasa.

Baca Juga: Alur Hidup Cosmicburp Lewat Album Pusara Pustaka: Antologi Doa dan Kutukan

Video musik Pancaroba Peradaban dapat dinikmati di Channel Youtube Hutan Hujan mulai 30 September 2020. Visual yang disajikan bernuansa monokrom dengan menampilkan adegan peperangan, kekacauan dan fragmen peradaban di berbagai belahan dunia yang perlahan berlalu. Tak lupa juga semua personel dari Hutan Hujan mengisi tiap-tiap scene dalam video musik diiringi cuplikan lirik dari lagu ini.

Bersamaan dengan itu, akan dirilis secara berurutan di toko digital hingga radio-radio di Indonesia. Sebelum dirilis resmi, Hutan Hujan juga telah mengunggah proses di balik layar dan produksi lagu ini, sehingga para pendengar dapat melihat bagaimana penciptaan karya itu terjadi. Simpul kata, semoga kita segera menyesuaikan diri dengan perubahan dunia yang sedang terjadi. Kadang, Peradaban berjalan pelan kejam, merubah pengertian menjadi saling tikam.

Selamat datang di “Pancaroba Peradaban”.

MV Hutan Hujan – Pancaroba Peradaban

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.