Human Interest Tak Hanya Sebuah Gambar

Human Interest Tak Hanya Sebuah Gambar

Human interest memang tak melulu tentang gambar.

Penulis Al Fikrie

Alasan

Hasil foto yang baik bisa menciptakan sebuah cerita tersendiri dari visual tanpa deskripsi, dan juga akan membawa orang lain yang melihat karya akan terhanyut dalam emosional. Salah satu alasan mengapa saya menyukai human interest photography adalah tantangan mengambil foto dengan objek yang terus beraktifitas. Fokus pada satu moment, kemudian bidik objek tersebut akan lebih baik dibandingkan kita mempertimbangkan banyak moment yang kita lihat tanpa melakukan sama sekali bidikan yang berarti.

Konsisten dan fokus pada suatu masalah akan membawa kita kepada sebuah keahlian yang hebat dibandingkan banyak pertimbangan ide yang akan justru menjadikan kita selalu sebagai pemula yang tidak berkembang.

Menurutku pribadi, Human Interest Photography adalah “EMOSI YANG ABADI”

Anak kecil yang berbahagia di acara Erau 2019.
Anak kecil yang berbahagia di acara Erau 2019.

Penjelasan Umum Human Interest

Awalnya, human interest photography lebih termasuk kedalam bagian dari fotojurnalisme, yaitu menggambarkan kehidupan dan interaksi manusia dengan lingkungannya, dan lalu bertujuan supaya mengetuk hati orang-orang untuk bersimpati dan melakukan sesuatu untuk membantu subjek foto.

Bersih-bersih sampah setelah berkegiatan.
Bersih-bersih sampah setelah berkegiatan.

Kebanyakan foto human interest adalah menggambarkan kehidupan masyarakat dengan ekonomi lemah atau di daerah pedalaman, tapi sebenarnya human interest tidak membatasi pada subjek masyarakat kelas bawah saja, tapi juga termasuk potret keberhasilan dari masyarakat kelas atas.

Baca Juga: Jogja-Malang; Singkat Saja Menjadi Avonturir

Etika

Aku tidak memberikan tips untuk equipment apa saja yang harus di pergunakan, tapi, hanya etika akan membuat keajaiban, terutama “senyum”. Senyum memang tidak ada batasnya, apalagi jika kamu sedang melakukan fotografi jalanan. Perhatikan ketika kamu mengambil foto seseorang, kemudian orang yang kamu potret risih atau merasa terganggu, cukup perlihatkan senyum yang tulus maka 95% orang tersebut akan berbalik tersenyum kepadamu. Lebih sering tersenyum akan membuat kamu semakin rileks dan atmosfer yang tercipta antara kamu dan orang sekitar akan menjadi lebih hangat, karena mereka akan menganggapmu sebagai seorang penghobi, bukan fotografer mencurigakan yang sedang mencari mangsa.

Pasar subuh Samarinda - identik dengan menjual daging babi dan anjing dan hanya ada pada saat jam 5 pagi sampai jam 7 pagi.
Pasar subuh Samarinda – identik dengan menjual daging babi dan anjing dan hanya ada pada saat jam 5 pagi sampai jam 7 pagi.

Bagi para pemula terkadang timbul rasa was-was yang akan menghantui ketika melakukan fotografi jalanan. Wajar, karena kamu memotret orang yang tidak kamu kenal, bahkan orang tersebut baru pertama kali kamu temui. Lebih dari sekedar memotret di ruang publik, human interest photography menuntut perilaku “membumi” sang fotografer untuk bisa hadir dalam keramaian suasana tanpa perlu merusak suasana.

Jika, subjek yang kamu foto merasa keberatan fotonya diambil olehmu, berbesarhatilah dan perlihatkan hasil foto yang kamu ambil, terangkan secara singkat mengapa kamu mengambil frame tersebut, minta maaflah dengan tulus dan tersenyumlah.

Pedagang sedang membakar daging babi.
Pedagang sedang membakar daging babi.

Kesimpulan

Human interest photography membutuhkan 80% keberanian dan 20% keahlian. Jadi yang paling penting adalah berani dulu untuk mengeluarkan kameramu. Jika kamu mampu berlatih secara konsisten, hasil foto yang bagus bukan mustahil.

Salah satu nilai rohani yang bisa kita dapatkan dengan melakukan fotografi adalah kita menjadi orang yang lebih bersyukur daripada sebelumnya. Dengan kita menekuni hobi ini kita pasti akan memotret banyak hal, mulai dari alam sampai kehidupan sosial sehari-hari masyarakat.

Dengan begitu kita jadi tahu dunia lebih lagi, dan akan membuat kita semakin bersyukur. Kita menjadi semakin sadar jika ciptaan Tuhan itu sempurna dan indah adanya.

Pedagang sayur sedang mencari nafkah sembari menelpon anaknya untuk membangunkan anaknya yg harus sekolah
Pedagang sayur sedang mencari nafkah sembari menelpon anaknya untuk membangunkan anaknya yg harus sekolah.

Bukan sebuah hal mutlak karena fotografi lebih mendekati seni dibandingkan ilmu pasti. Untuk itu perlu disadari bahwa hampir tidak ada sesuatu yang kaku dan bisa digebyah uyah berlaku bagi semua orang. Masing-masing fotografer harus berusaha mencari jalannya sendiri.

Saran tambahan, ambil segera kamera mu dan berjalanlah keluar. Cobalah cari objek dan buat sendiri foto human interest versimu. Hal itu lebih baik dibandingkan sekedar membaca teori.

Selamat mencoba!

Sumber Foto: Al Fikrie

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.