Hiruk Pikuk Dunia, Keping Kedua; Amerika Serikat

Hiruk Pikuk Dunia, Keping Kedua; Amerika Serikat

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Keinginan pertama saya adalah untuk melihat wabah umat manusia ini, perang, dibuang dari bumi

Sebuah negara yang lahir dari koloni imperium Inggris itu, pasca perang dunia ke-2, tumbuh menjadi tidak hanya sebuah negara besar, melainkan sebuah sistem internasional.

Lewat banyak skema, mulai dari nilai tukar mata uang internasional yang berpatokan kepada US Dollar, hingga pelbagai deklarasi peperangan, semua melibatkan Amerika Serikat.

Di waktu perang dingin, sebuah istilah yang merujuk pada (peperangan urat syaraf, perlombaan senjata/teknologi, serta perang pengaruh berlandaskan ideologi) dua negara adidaya, yakni Amerika Serikat dan Uni Sovyet.

Amerika bukanlah pemain tunggal dalam percaturan politik dan keamanan dunia. Namun setelah Uni Sovyet runtuh, Amerika muncul sebagai satu-satunya negara superpower di dekade 90-an sampai 2000-awal.

Amerika pernah atau bahkan sering memanfaatkan ‘kosongnya’ rivalitas yang pantas di kancah global, guna mencapai kepentingannya.

Lewat Pentagon, Langley, dan Departemen Luar negeri, hampir semua negara pernah merasakan ‘di-dikte’ atau ‘ter-dikte’.

Kita tidak akan pernah lupa bagaimana Amerika menginvasi Irak, menggulingkan Sadam Husein, dan menyebabkan Arab Springs di kemudian hari.

Dominasi dan determinasi Paman Sam, menyebabkan huru-hara dan ketidakstabilan politik di kawasan timur tengah, yang bahkan, ujungnya belum jelas–sampai sekarang.

Disebabkan ketidakhadiran sebuah negara yang–mampu face to face dengan Amerika kala itu, dunia seakan tunduk pada kedigdayaan Washingtoon.

Tapi oh ternyata, bila kita mencermati sejarah dengan lebih utuh. Kita akan menyadari jika Amerika, tak melulu juara akan segala hal, kekalahan di perang Vietnam serta berdirinya negara sosialis Kuba tepat di selatan Amerika, menunjukan celah tersebut, meskipun dalam konteks waktu, kita harus rela kembali pada kenyataan masih adanya Uni Sovyet.

Amerika Serikat selalu terlihat ‘menggoda’ untuk dijadikan sebuah studi, baik geopolitik, dinamika kawasan, ekonomi global, militer dan intelijen, serta konspirasi.

Misalnya, dalam geopolitik, AS melihat kepentingannya yang tersebar hampir di seluruh dunia adalah murni sebagai pembuktian, jika AS masih perkasa untuk apa-apa yang menjadi kepentingannya.

AS mengimplementasikan political interest-nya lewat sebuah Angkatan Laut yang kuat. Karena fakta historis bahwasanya Angkatan Laut dipandang sebagai kunci dari bargaining position maupun hard diplomation sejak abad 19, dan itu tak pernah berubah.

Angkatan Laut AS atau disebut dengan US Navy, tampil sebagai blue water navy (angkatan laut perairan biru) yang merujuk pada kekuatan alutsista, budget, sdm, sistem komando, dan jaya jelajah yang tinggi, memungkinkan Amerika Serikat mengerahkan armada gugus tempur kapal induknya kemanapun di dunia.

Serta klaim ‘tanggung jawab’ AS sebagai ‘polisi dunia’ lewat kekuatan Angkatan Darat dan agen-agen spionase CIA, menjadi acuan kebijakan luar negeri AS dalam kacamata geopolitiknya. ‘Polisi dunia’ dalam hal ini, ialah AS akan atau sudah menempatkan pasukan daratnya di berbagai area konflik yang ironisnya, mereka ciptakan sendiri.

Kekuatan Dunia kini Multipolar

Ada sebuah istilah dalam ilmu Hubungan Internasional, yaitu: unipolar, bipolar dan multipolar.

Adalah kaum realis, yang berpandangan bahwa dunia berdiri atas anarki, karena tidak adanya sebuah pemerintahan, yang mengatur negara-negara di dunia.

Atau dengan kata lain, negara adalah satu-satunya aktor, yang alhasil, mengasilkan berbagai pola dalam dinamika hubungan internasional.

Dengan memakai pendekatan kaum realis, kita dapat menganalisa dinamika global. Untuk diketahui sebelumnya, unipolar adalah terdapatnya satu negara yang paling kuat dan berpengaruh di dunia di mana suatu negara dapat melancarkan hegemoninya terhadap negara-negara lain. AS telah melakukannya ketika Uni Sovyet runtuh.

Sedangkan bipolar adalah terdapatnya dua negara kuat di dunia. Sistem bipolar erat kaitannya dengan konsep balance of power atau perimbangan kekuatan yang menurut Kenneth Waltz dalam bukunya yang bertajuk Theory of International Politics, di mana dengan adanya dua negara berkekuatan besar, keduanya dapat diharapkan bertindak untuk memelihara sistem. Dan pola bipolar pernah terjadi kala era perang dingin.

Baca Juga: Hiruk Pikuk Dunia, Keping Kedua; Amerika Serikat

Unipolar, disinilah dunia sekarang berada. Unipolar sendiri adalah adanya beberapa negara kuat yang mendominasi dunia.

Kenapa saya katakan bahwa dunia sekarang tengah berada di dalam sistem unipolar? Jawabannya adalah kebangkitan Rusia dan China.

Rusia yang mewarisi kebesaran Uni Sovyet, telah mampu dalam kurun waktu terakhir bangkit dari keterpurukan ekonominya dan sukses mengembalikan kembali postur militernya.

Dalam hal kebijakan luar negeri pun, Vladimir Putin secara terang-terangan ‘menantang hegemoni AS’ di banyak kesempatan, dan yang paling kentara adalah aneksasi Crimea dan krisis politik di Suriah.

Sedangkan China, negeri tirai bambu ini muncul dengan kekuatan ekonomi yang besar. Ekspansi bisnis China terbukti mampu membuat AS terusik, dan kini kita disajikan drama perang dagang antar keduanya.

Tak berhenti disitu, dalam hal militer dan kebijakan luar negeri pun, kini China berlagak seperti Amerika Serikat, hal ini terlihat dari kebengalan China di Laut China Selatan.

Meskipun AS kini menghadapi kemunculan dua aktor baru dan masuk dalam sistem unipolar, AS tetaplah dipandang sebagai satu kekuatan solid, semaunya, dan pemimpin dari sekutu-sekutunya.

Kini kita tinggal melihat dan menunggu, apakah AS akan mampu menjaga hegemoninya, atau malah redup ‘dikepung’ oleh dua pemain baru, Rusia dan China, yang kebetulan memiliki ikatan kerjasama dan ideologis yang kuat.

Hampir semua orang dapat menanggung kemalangan, tapi jika Anda ingin menguji watak manusia, coba beri dia kekuasaan

-Abraham Lincoln, Presiden ke-16 Amerika Serikat

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.