Hiduplah Sebagaimana Orang-orang yang Pergi

Hiduplah Sebagaimana Orang-orang yang Pergi

Hiduplah Sebagaimana Orang-orang yang Pergi

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Dibalik diamnya, aku mengerti sekali, bahwa dalam lubuk hatinya, ia juga ingin seperti ibunya, pergi, ke pelukan Tuhannya.

Thexandria.com – Hari masih hujan ketika seekor kucing gendut lelah bermain dengan pemiliknya, seorang perempuan muda berkaki lumpuh. Kucing gendut berwarna merah kekuning-kuningan itu dielus bak permata yang didapat dari dasar samudra hindia. Bukan main lucunya.

Deru timangan khas seorang ibu pada bayinya terdengar menggelitik, “ci oyen paying nakal”.

Perempuan muda berkaki lumpuh itu tak perlu repot menyeka peluh ataupun bersusah payah menggerakan kursi rodanya. Satu, memang karna ia telah terbiasa. Dua, karena bumi sayang padanya.

Ibunya hanya pulang seperlunya, membawakan hasil belanjaan untuk persediaan makanan putrinya. Menenggak se-loki tequila. Membakar sebatang rokok. Menatap lamat putrinya. Kemudian selalu. Meraih mantel, pergi tanpa pernah berpatah kata.

Mereka sangat amat jarang berkomunikasi. Terakhir kali ibunya mengeluarkan suara, adalah karna jerat tali yang terputus karna tak mampu menahan berat badan sang ibu, “pergilah bermain sayang, ibu hanya sedang berkomedi.”—ia yang waktu itu tak mengerti ibu nya gagal bunuh diri, lambat laun belajar memahami bahasa-bahasa yang tak bersuara itu. Berkata tanpa berkata.

Karna itulah, ia tak pernah ambil pusing melihat ibunya yang selalu pergi, jarang pulang, tak pernah berkomunikasi, meminum minuman keras, menyalakan rokok, ataupun berusaha mencegah sekian detik disaat ibunya beranjak meraih mantel—walaupun sekedar berbasa-basi tentang cuaca, ‘langit sedang mendung, bu’.

Perempuan muda itu telah selesai dengan satu pembelajaran penting. Bahwa diam, adalah bahasa yang paling jujur dari manusia.

Maka ia tumbuh seperti satu-satunya pembelajaran yang ia telah pahami. Tidak banyak bicara, mengeluh, menangis, tertawa. Tapi dia masih mentolerir satu hal. Ia sulit untuk tak memanjakan kucing gendutnya.

Bertahun kemudian, ibunya tak lagi pernah pulang, sebagai gantinya, ada seorang tetangga baru yang rajin datang ke rumahnya untuk membawakan persediaan makanan. Seorang pria paruh baya yang selalu berusaha melucu, agar perempuan itu dapat tertawa. Sedikit saja.

Namun selalu gagal.

Sampai akhirnya, ia berhasil membuat perempuan yang membahasa dengan diam itu bersuara…

Pasalnya, pria paruh baya sehabis letih membanyol riang, nada suaranya berubah menjadi serius. Hal itu membuat si perempuan terheran. Tak biasanya tetangga barunya ini berubah 180 derajat. Walaupun hanya sekedar intonasi.

Ia memulai dengan satu kisah masa lalunya. Katanya,

“Aku pernah bersama seorang pria hebat. Ia mengikutiku dalam sebuah perjalanan. Hingga kami menaiki sebuah kapal. Aku melobangi kapal yang kami naiki.”

Perempuan bermata indah nan tajam yang lumpuh itu mencengkram erat pegangan kursi rodanya.

“Lalu kami pergi ke suatu tempat, dan menemukan seorang anak belia yang bermain bersama teman-temannya, kemudian aku membunuhnya.”

Perempuan itu semakin erat mencengkram pegangan kursi rodanya, diikuti oleh bulu romanya yang bergidik.

“Kemudian kami sampai disebuah perkampungan, kami berusaha menumpang, namun masyarakat di daerah itu mengacuhkan. Ada sebuah rumah milik warga yang rusak, lalu aku memperbaikinya.”

Kali ini ia tak tahan, sambil menggigit bibirnya, perempuan itu mengeluarkan suara. Sebuah kalimat tanya,

“Me-me-mengapa anda melakukan itu semua?”

Pria paruh baya itu segera tersenyum. Begitu teduh. Sampai-sampai seperti segumpalan awan yang memayungi savana.

“Yang terbaik dari kisah itu, adalah ketika aku berpisah dengan seorang pria hebat yang mengikutiku. Setelahnya, ia mendapatkan sebuah pembelajaran, bahwa, perpisahan antara kami, boleh jadi adalah sebuah jembatan untuk menggapai hakikat,”

“Kau telah hidup dengan menjadi keterpisahan itu sendiri. Kau tak pernah sekalipun beradu tatap dengan bayangan masa lalu. Kau tabah dalam pengertian yang tinggi. Maka telah dicukupkan segala deritamu mulai hari ini. Esok, berjuta cahaya bersayap, akan menyambut kepulanganmu,”

hiduplah seperti larry
Gambar hanya ilustasi

Ia nyaris tersedu, namun bisa mengendalikan dirinya. Pria paruh baya itu, mendekap mulutnya dengan jemarinya, hingga terlihat sebuah ukiran tulisan pada cincin yang tersemat di jari manis tangan kanannya. ‘Kekasih Allah’.

Si perempuan muda tak banyak mengerti. Namun tanpa sadar, matanya memendung. Sebuah kerlingan air mencucur dari dua matanya. ‘Inikah yang dinamakan tangis?’—batinnya mengucap.

Keesokan harinya, semua lantas terjadi sebagaimana yang telah ditetapkan. Perempuan itu, meninggal dengan memelukku. Aku bersumpah melihat langit terbelah, jutaan malaikat mengitari jasad perempuan yang telah terbujur kaku. Tak banyak kata yang bisa kukatakan selain dalam suasana haru, aku bahagia dimanja olehnya semalam. Untuk terakhir kalinya.

Baca Juga: Menangkap Pelangi

Aku mungkin memang hanyalah seekor kucing gendut berbulu merah kekuning-kuningan. Namun aku bahagia diberi kesempatan untuk menuturkan cerita dari pemilikku yang sewaktu hidup, ia hidup sebagaimana orang-orang yang pergi.

Dibalik diamnya, aku mengerti sekali, bahwa dalam lubuk hatinya, ia juga ingin seperti ibunya, pergi, ke pelukan Tuhannya. Maka umurnya digunakan hanya untuk memuji pembelajaran ini semua. Setelah jenazah pemilikku ditemukan oleh tetangga-tetangga yang lain, dan ia dimakamkan dalam sebuah pusara yang sederhana.

Aku pun pergi, melanjutkan hidup sebagai seekor kucing gendut biasa. Ketika malam datang, tak ada yang kuharapkan agar jalan hidupku segera menutup buku. Jujur saja, aku kangen dimanja oleh pemilikku.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.