Hati-hati Kena Gaslighting

Gaslighting

Hati-hati Kena Gaslighting

Penulis Suci Jayanti | Editor Adi Perdiana

Sebenarnya apa, sih, gaslighting itu?

Thexandria.com – “Aku kan cuma bercanda, nggak usah baper.”

“Aku lagi jelasin, kamu aja yang salah tangkep.”

“Lho, salahmu sendiri yang mikir gitu, maksudku kan nggak gitu.”

Familiar dengan kalimat-kalimat di atas? Pernah dengar langsung seseorang ngomong gitu ke kamu secara terus-terusan ketika masalah sepele terjadi? Atau mungkin kamu sering mengalami tapi nggak sadar aja gitu? Kalimat tersebut saya kutip dari tweet dr. Jiemi Ardian, SpKJ yang membahas secara singkat tentang gaslighting. Sebenarnya apa, sih, gaslighting itu?

Gaslighting adalah cara memanipulasi yang membuat kita meragukan diri sendiri, memori, kesadaran, persepsi, judgement, dan membuat kita nggak bisa berpikir secara sehat sehingga menyebabkan kecemasan, depresi, insecure, hingga mental breakdown.

Siapapun rentan terhadap gaslighting, dan itu adalah teknik umum pelaku kekerasan, diktator, narsisis, dan pemimpin kultus. Perlakuan gaslighting biasanya dimulai dengan sebuah masalah yang sepele, kecil, dan tampak bisa diomongkan secara baik-baik—namun terkadang para gaslighters lebih memilih “jalan itu” untuk ditempuh. Hubungan asmara, secara umum dan kebanyakan adalah tempat terjadinya gaslighting yang cukup sering, contohnya seperti pasangan yang kasar secara verbal dan fisik.

Selain hubungan asmara, ditemukan pula kasus gaslighting pada hubungan anak dan orangtua, bos dan karyawannya serta yang sempat ramai yaitu President Trump terhadap pemerintahannya. Pada intinya Gaslighting adalah kekerasan psikologis yang bisa menyerang siapa saja.

Perilaku gaslighting bisa terjadi dimana saja dan nggak peduli apakah itu terjadi dalam hubungan pernikahan, antara pemimpin dan anak buahnya, orangtua dan anaknya—penting, nih, untuk menyadari tanda-tanda kamu atau seseorang yang kamu kenal menjadi korban gaslighting—dan langkah apa saja yang harus diambil untuk keluar dari situasi tersebut.

Bagaimana mengenali gaslighting sedang terjadi ?

Kamu selalu bertanya-tanya, “Kurangnya aku apa, ya?”

Kamu melulu yang minta maaf meskipun bukan salah kamu.

Kamu tau ada sesuatu yang salah tapi kamu nggak tau itu apa.

“Aku terlalu sensitif kali, ya?” Tiap hari, tiap malam.

Kamu kesulitan dalam membuat keputusan yang sederhana.

Kamu mulai berbohong untuk menghindari kenyataan.

Tanda-tanda di atas bisa terjadi dengan gangguan kecemasan, depresi, atau merasa rendahnya diri sendiri selama berhubungan dengan si gaslighter. Jika kamu nggak merasakan hal-hal tersebut dengan orang lain, melainkan dengan satu orang tersebut (gaslighter)—maka, mungkin kamu menjadi korban gaslighting.

Biasanya ada kecenderungan kekuatan dinamis ketika gaslighting terjadi. Manipulator mempunyai kekuatan yang cukup sehingga target gaslighting ketakutan untuk mengubah hubungan atau melangkah keluar dari dinamika gaslighting karena mendapatkan ancaman ditinggalkan, putus hubungan, atau selalu dipandang kurang oleh si gaslighter.

Si gaslighter mungkin nggak tau ia melakukan sesuatu yang manipulative, lho.. Ia biasanya cenderung kurang memiliki kesadaran diri dan mungkin hanya berpikir bahwa ia mengekspresikan dirinya secara langsung dengan mengatakan hal-hal yang bikin lawan bicaranya terasa ‘gila’.

Gaslighting
Gambar hanya ilustrasri

Apa yang Harus Aku Lakukan?

Sebagai salah satu yang pernah merasakannya—memang teramat sulit untuk keluar dari dinamika sang gaslighter. Namun, semua itu nggak ada yang nggak mungkin, sih.. bisa-bisa aja, selama kita memiliki kesadaran emosional yang lebih besar dan pengaturan diri—baik secara pengetahuan dan pengaplikasiannya di dunia nyata.

Dengan menggunakan keterampilan kesadaran emosional, kemungkinan akan diiringi hasil yaitu para gaslighters bisa belajar dan yang paling penting adalah sadar bahwa sebenarnya “Lo sebenernya enggak perlu untuk melibatkan orang lain (in a bad way) demi buktiin realitas dan nunjukin seberapa kuasanya lo hanya untuk bikin orang lain merasa kecil.”

Baca Juga Anxiety Disorder dan Pentingnya untuk Tidak Mendiagnosis Diri Sendiri

Dikutip dari vox.com, ada beberapa langkah untuk membantumu keluar dari dinamika gaslighting:

Identifikasi masalah: Langkah paling awal adalah kamu harus tau sebenarnya apa, sih, masalahmu dengan orang-orang yang bersangkutan.

Memilah kebenaran: Coba tuliskan percakapanmu di dalam jurnal sehingga kamu bisa menilai dengan objektif. Di mana isi pembicaraan yang benar dan salah. Kemudian baca dan tuliskan apa yang kamu rasakan.

Terlibat dalam latihan mental untuk mendorong perubahan pola pikir: Visualisasikan dirimu jika kamu putus atau lanjut dengan hubungan yang nggak sehat tersebut. Bagaimana sehatnya dirimu sendiri, bukan orang lain.

Bilang sama dirimu; nggak apa-apa untuk merasakan apa yang sudah kamu alami. Penerimaan dan pengakuan akan apa yang dirasa adalah salah satu jalan untuk melangkah jauh lebih baik.

Bicara pada teman dekat yang dipercaya:Kamu perlu dan pantas untuk didengar, dengan menceritakan keluh kesah mungkin akan membuatmu lega. Mintalah saran yang jujur kepada teman terdekatmu jika kamu merasa perlu, ya.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.