Hari Bumi yang ‘Sepi’ dan Eksistensi Manusia

Hari Bumi

Hari Bumi yang ‘Sepi’ dan Eksistensi Manusia

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Masih dalam euforia sunyi merayakan hari bumi. Sunyi dikarnakan wabah pandemi membuat manusia menyingkir dan menghindari keramaian. Banyak dari kita, bahkan kami pun, sesekali terikut mengutuk atas situasi sulit yang tengah terjadi.

Kebosanan beserta dengan dampak ekonomi, semakin menyudutkan ruang gerak dan juga ruang bertahan hidup. PHK terjadi di banyak negara. Tapi kami tak ingin mengulas bagaimana kita (manusia) seakan menjadi korban utama dari skenario Tuhan dalam menjalankan semestaNya.

Ada hal yang semestinya memantik agar kita melihat kondisi sekarang dengan perspektif yang terbalik.

Bila premisnya adalah bumi sedang sakit? Maka kita harus mengenali problemnya. Benar, virus covid-19 pelakunya.

Tapi tunggu dulu. Bukankah bumi memang sudah ‘sakit’ sejak lama? Dan oh, jangan berpaling atau mengelak, kita lah penyebabnya. Jika sekalipun kami diminta harus tetap relate dengan apa yang saat ini kami sedang tulis, percayalah, ini tak akan merubah apa-apa. Karena sejauh ini, hasil penelitian ilmuwan masih menyimpulkan, bahwa covid-19 tercipta karna perilaku manusia yang mengkonsumsi hewan—yang seharusnya tidak dimakan (hewan liar). Lihat? Bagaimanapun juga, masalah dari premis ‘bumi sakit’ tetap akan bermuara ke manusia juga.

Kemudian mengapa kami katakan bukankah bumi memang telah lama sakit? Kita bisa menengok dari para ilmuwan dan aktivis yang mengkampanyekan isu perubahan iklim.

Perubahan Iklim dan Keselarasan Alam

Apa itu perubahan iklim? Perubahan iklim adalah perubahan jangka panjang dalam distribusi pola cuaca secara statistik sepanjang periode waktu mulai dasawarsa hingga jutaan tahun. Istilah ini bisa juga berarti perubahan keadaan cuaca rata-rata atau perubahan distribusi peristiwa cuaca rata-rata, contohnya, jumlah peristiwa cuaca ekstrem yang semakin banyak atau sedikit. Sederhananya, perubahan iklim adalah anomali cuaca yang terjadi akibat pemanasan global.

Pemanasan global atau perubahan iklim terjadi karna ulah kita manusia—dalam contoh sederhana adalah maraknya aktivitas penebangan pohon ditambah dengan pencemaran laut serta menumpuknya sampah plastik.

Seperti halnya nenek moyang kita selalu mengkampanyekan ‘keselarasan alam’, hal tersebut memang benar adanya.

Karna Sistem iklim terdiri dari lima bagian yang SALING SELARAS, atmosfer (udara), hidrosfer (air), kriosfer (es dan permafrost), biosfer (makhluk hidup), dan litosfer (kerak bumi dan mantel atas).

Baca Juga: Polemik Prakerja Hingga Stafsus Milenial Mundur; Ternyata Benar, Mending Ternak Lele

Sistem iklim menerima hampir semua energinya dari matahari, dengan jumlah yang relatif kecil dari interior bumi. Sistem iklim juga memberikan energi ke luar angkasa. Keseimbangan energi yang masuk dan keluar, dan perjalanan energi melalui sistem iklim, menentukan anggaran energi Bumi. Ketika energi yang masuk lebih besar dari energi yang keluar, anggaran energi bumi positif dan sistem iklim memanas. Dan inilah yang saat ini sedang terjadi.

Biarkan kami sedkit menjelaskan dari beberapa contoh sederhana aktivitas tersangka manusia yang membuat bumi sakit;

Penebangan Pohon dan Pembakaran Hutan

Pohon sangat berguna karena dapat mengubah gas karbon dioksida menjadi oksigen yang bermanfaat untuk kita, akan tetapi manusia suka melakukan penebangan hutan dan membakarnya untuk dijadikan tempat bercocok tanam atau membuka lahan pertambangan. Selain itu, saat hutan dibakar, maka akan menghasilkan gas-gas rumah kaca yang tentu dapat meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.

Penggunaan Bahan Bakar Fosil

Penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batu bara yang terlalu berlebihan mengakibatkan kualitas udara yang buruk. Dan juga dapat meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer seperti karbon dioksida yang dihasilkan dari hasil pembakaran bahan bakar fosil.

Pencemaran Laut

Lautan dapat menyerap karbon dioksida dalam jumlah yang besar, akan tetapi akibat pencemaran laut oleh limbah industri dan sampah dari kita, m-a-n-u-s-i-a, laut menjadi tercemar sehingga banyak ekosistem di dalamnya yang musnah, yang menyebabkan laut tidak dapat menyerap karbon dioksida lagi. Betapa hebatnya kita?

Kembali pada narasi awal soal memantik ‘perspektif terbalik’. Pandemi memperlihatkan sisi lain bumi, yang juga menegaskan soal eksistensi manusia di bumi.

Di Afrika, kawanan singa dan hewan-hewan lainnya nampak memenuhi jalanan. Di beberapa negara bagian Amerika, kawanan rusa memenuhi jalan dan pertokoan. Di Peru, beruang langka sebelumnya menyingkir ke kaki-kaki gunung kini mulai terlihat kembali.

Ini contoh penting soal anjuran menggunakan perspektif yang terbalik; bahwasannya manusia hanya PENUMPANG. Dan bumi sedang di-recovery Tuhan.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.