Hagia Sophia: Antara Ambisi Politik Islam Turki dan Resistensi Dunia

Hagia Sophia Kembali Jadi Masjid

Hagia Sophia: Antara Ambisi Politik Islam Turki dan Resistensi Dunia

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

“Kebangkitan Hagia Sophia Menandai Pembebasan Masjidil Al-Aqsa”.

Thexandria.com – Hagia Sophia memiliki nilai historis panjang di balik bangunannya yang megah. Selama 15 abad, Hagia Sophia diperebutkan oleh agama-agama besar dunia; Islam, Kristen, dan Katolik. Ketiganya silih berganti menggunakan bangunan bersejarah di Istanbul. Dua kekaisaran besar dunia kala itu, bersingungan di Hagia Sophia, yakni antara Bizantium Kristen dengan Ottoman Muslim.

Hagia Sophia sendiri berarti Kebijaksaan Suci, dalam bahasa Turki disebut Ayasofya. Bangunan yang sarat makna ini berdiri pada 27 Desember 537 setelah proses pembangunan enam tahun sejak 23 Februari 532 di masa kekaisaran Bizantium Justinian I. Fungsi utama dibangunnya Hagia Sophia saat itu ialah sebagai gerekan katedral Kristen terbesar di dunia pada masanya.

Dalam perjalanannya, terjadi perubahan penguasaan akibat perang. Gereja berpindah ke tangan Ortodoks Yunani, beralih ke Katolik Roma, dan kembali ke Ortodoks Yunani di bawah kekaisaran Bizantium.

Perubahan fungsi menjadi masjid terjadi pertama kali setelah 916 tahun, saat Sultan Mehmed II atau Muhammad Al Fatih memimpin Kekaisaran Ottoman atau Utsmani pasca menaklukkan Bizantium. Perubahan dari gereja menjadi masjid bermula pada 1453 hingga 1931. Kemudian ada penambahan bangunan di antaranya empat menara dan mimbar khutbah sebagai elemen penting masjid. Serta kaligrafi lafal Allah dan Muhammad.

Kemudian dalam sejarahnya, lahir negara Turki modern yang berhaluan sekuler era Mustafa Kemal Ataturk setelah Utsmani runtuh. Ataturk memutuskan menjadikan museum sejak 1935, yang kemudian menuai apresiasi dunia karena menjadikan Hagia Sophia sebagai milik bersama antara peradaban barat dan timur. Arsitektur asli Hagia Sophia lalu terungkap setelah restorasi. Gambar Bunda Maria yang menggendong bayi Yesus terungkap setelah lama tertutupi cat saat fungsinya masih menjadi masjid.

Ambisi Politik Kebangkitan Islam Erdogan

Presiden Erdogan

Melansir dari Anadolu Agency, kantor berita Turki, Presiden Turki, Erdogan, telah sejak lama mengharapkan Hagia Sophia kembali menjadi masjid. Pada tahun 2018, misalnya, ia membaca penggalan ayat Alquran di Hagia Sophia. Disusul ulangan janjinya Maret 2019. Kemudian berlanjut pada Juni lalu, Turki menyelenggarakan festival Islam mengenang penaklukan Istanbul oleh Sultan Mehmed II di Hagia Sophia dengan pembacaan Alquran surat ke-48 Al Fath yang berarti kemenangan.

Tak lama kemudian, Pengadilan administrasi utama, Dewan Negara, Turki menganulir dekrit pemerintahan pada 1935 yang secara sah atas nama hukum pemerintahan Turki menjadikan Hagia Sophia kembali menjadi masjid, pada Jumat (10/7/2020). Esoknya, polisi mulai membangun penghalang di sekitar bangunan yang memicu kekhawatiran situs bersejarah tertutup selain muslim. Namun, pemerintah Turki cepat mengklarifikasi bahwa; tidak akan ada pembatasan untuk non-muslim yang ingin memasuki Hagia Sophia.

Sebagai simbol ‘kemenangan’ Turki atas perubahan status dari museum ke masjid, Turki akan menggelar Sholat Jumat pertama pada 24 Juli mendatang.

Dalam keputusannya, Dewan Negara Turki menyebut “Keputusan kabinet tahun 1934 yang mendefinisikannya sebagai museum tidak mematuhi hukum”. Beberapa jam setelah putusan pengadilan, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berbicara kepada publik dengan mengabaikan kritik dari komunitas global.

“Dengan putusan pengadilan ini, dan dengan langkah-langkah yang kami ambil sejalan dengan keputusan itu, Hagia Sophia menjadi masjid lagi, setelah 86 tahun, seperti yang diinginkan Fatih, penakluk Istanbul,” kata Erdogan.

Yang tak kalah menarik, Erdogan dalam keterangan resminya yang kami kutip dari laman web Kepresidenan Turki, secara terang-terangan mengatakan, bahwa “Kebangkitan Hagia Sophia Menandai Pembebasan Masjidil Al-Aqsa”.

Masjidil Al-Aqsa

“Kebangkitan Hagia Sophia adalah kehendak umat Islam dari seluruh dunia untuk keluar dari masa-masa kehampaan. Kebangkitan Hagia Sophia adalah kobaran harapan tak hanya untuk umat Islam tetapi juga dari semua masyarakat yang tertindas, korban perang dan penjajahan.”

“Kebangkitan Hagia Sophia adalah seruan baru kami sebagai bangsa Turki dan Muslim kepada seluruh umat manusia,” ujar Erdogan.

Memicu Resistensi Dunia

Dewan Gereja Dunia langsung meminta Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menganulir keputusannya mengubah Hagia Sophia sebagai masjid. Dewan meminta Erdogan mengubah kembali Hagia Sophia sebagai museum. 

Dilansir dari BBC, Minggu (12/7), dalam sepucuk surat kepada Erdogan, Dewan Gereja Dunia yang memiliki 350 gereja sebagai anggota, mengatakan langkah pemimpin Turki itu menabur perpecahan. Situs Warisan Dunia UNESCO di Istanbul menyatakan Hagia Sophia telah menjadi museum sejak 1934. 

Dewan Gereja Dunia yang berbasis di Jenewa itu mengatakan, surat yang dilayangkan kepada Erdogan mewakili lebih dari 500 juta suara orang Kristen. Surat itu dari Sekretaris Jenderal sementara Sauca, yang mengatakan Dewan merasa sedih dan kecewa atas keputusan Erdogan.

Baca Juga Menhan Sebagai Leading Sector Food Estate dari Perspektif Strategis dan Politis

Dewan Gereja menulis, keputusan Turki pasti akan menciptakan ketidakpastian, kecurigaan, dan ketidakpercayaan. Ia bakal merongrong semua upaya untuk menyatukan orang-orang dari agama yang berbeda di meja dialog dan kerja sama. 

“Demi mempromosikan saling pengertian, rasa hormat, dialog dan kerja sama, dan menghindari menumbuhkan permusuhan dan perpecahan lama, kami mendesak Anda (Erdogan) untuk mempertimbangkan kembali dan membalikkan keputusan Anda,” kata Dewan Gereja Dunia sebagaimana dalam surat itu. 

Tak hanya dari Dewan Gereja Dunia, kecaman juga datang dari banyak pihak, di antaranya Amerika Serikat, Yunani, Prancis dan Rusia. yang diketahui menjalin hubungan dekat dengan Turki dalam beberapa tahun terakhir.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Alexander Grushko menyesali keputusan tersebut melalui sebuah pernyataan di Moskow pada Sabtu (11/7). “Katedral itu berada di wilayah Turki. Tapi, tanpa pertanyaan lagi, itu (Hagia Sophia) adalah warisan semua orang,” ujarnya.

Yunani juga dengan cepat mengutuk keputusan tersebut sebagai tindakan provokasi, diikuti dengan kekecewaan yang diungkapkan oleh Prancis.

Sementara itu, Amerika Serikat, melalui pernyataan juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Morgan Ortagus, pada Jumat (10/7), dilansir dari World News, AS menyatakan kecewa dan sekaligus berharap rencana Turki untuk tetap membiarkan Hagia Sophia dapat diakses tanpa hambatan bagi semua kalangan dapat terwujud nantinya.

Sebelum adanya dekrit dari Erdogan terkait status Hagia Sophia, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan bahwa pengubahan itu akan mengancam kemampuan Hagia Sophia untuk melayani umat manusia. 

Apa yang dilakukan oleh Turki, bagai pisau bermata dua. Disatu sisi, pengembalian status Hagia Sophia menjadi masjid, adalah hak konstitusional internal yang juga menjadi spirit baru bagi dunia islam. Disisi yang lain, Hagia Sophia jelas menimbulkan resistensi yang nyata bagi dunia. Belum lagi ditambah adanya sentimen agama yang merupakan konsekuensi mutlak.

Kita telah melihat bahwa Turki memiliki banyak kejutan bagi dunia. Hagia Sophia, bisa dikatakan hanya persoalan kecil. Karena ‘bom waktu’ yang sesungguhnya, adalah ambisi politik Turki yang ingin menjadi leading dalam pembebasan Masjidil Aqsa—yang erat kaitannya dengan spiritualitas umat Islam di seluruh dunia.

Yang jelas, tensi politik di kawasan Timur Tengah akan menemui ‘babak baru’ dari peralihan status Hagia Sophia. Dimana, puncaknya akan tertuju di Palestina, dan benturan politik luar negeri yang keras dengan Israel serta Amerika Serikat.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.