Gue Menemukan Klasifikasi di Twitter yang Menganggap Pengguna Instagram “Terbelakang”

Gue Menemukan Klasifikasi di Twitter yang Menganggap Pengguna Instagram Terbelakang

Gue Menemukan Klasifikasi di Twitter yang Menganggap Pengguna Instagram “Terbelakang”

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

The thing is, apakah “mereka” salah? Well, to be fucking honest, “mereka” enggak sepenuhnya salah.

Thexandria.comBiar kuputuskan saja, ku takmau hatikku terluka, lebih baik kuputuskan saja, cari janda pacar lagi~

First of all, lagu pembuka dari abang-abang ST12 itu enggak ada hubunganya sama isi tulisan. Kedua, gue enggak tau kenapa opening tulisan ini pake lagu itu. Terakhir, gue fansnya Peterpan, bukan ST12.

Tulisan kali ini masuk dalam kategori Kultur Pop, walaupun sebenarnya, isi tulisan ini penuh dengan subjektifitas, alias opini, alias ke-aku-an, alias sak karepku, alias wis menengo djancuk!

Baca Juga Teriak-teriak Soal Feminisme Biar Keliatan Edgy: Sebuah Logical Fallacy

Jadi ya jadi, lo boleh enggak setuju. Lo boleh marah, tapi lo enggak boleh dendam, karna “Tak akan masuk surga seorang hamba yang memiliki dendam walau sebesar debu.”, nah! Karna kita semua pengen masuk surga? Jadi yowis yo, dibaca aja.

Alkisah ada seorang remaja yang masih bersekolah, tepatnya, baru kelas 2 SMA. Beberapa tahun terakhir, ia baru saja dikejutkan dengan gelombang teknologi yang berkembang pesat, waktu SMP, ia dikenalkan dengan sebuah jejaring media sosial yang bernama Friendster.

Tak lama kemudian, munculah Facebook–yang kala SMP, remaja tersebut gemar meng-add orang yang enggak dia kenal sebanyak mungkin, demi bersaing dengan teman-temannya, siapa yang paling banyak jumlah teman di profilnya. Enggak penting memang, ya namanya bocah SMP, hah? Kenapa enggak tawuran aja? Wis menengooooo!

Facebook pun menjadi satu hal yang sulit lepas dari kehidupan remaja kala itu. Segala hal, dituangkan dengan alay baik di postingan pribadi, “P444nnnaaasssSs555 bGgGttttT NiiiEeeccHhhhh”

Remaja tersebut adalah; gue…

Iya. Gue pernah se-menjijikan itu waktu main Facebook dulu, nama gue juga enggak kalah nyeremin, RiiEeeZaaLLDi D0LLy c0K3r–najis!

Namun seiring waktu berjalan, tiba-tiba ada sebuah platform baru (buat gue) yang dikenalkan oleh seorang teman. Namanya, twitter. Gambarnya burung warna biru, bukan taxi, ya! Dan tagline nya adalah, “cuitan”.

Baca Juga Deactivate Instagram untuk Kesehatan Mental, Bukan Melulu Karena Galau

Sebagai remaja yang up to the date, (medio 2013) gue mulai mencoba Twitter. Kesan pertama yang selalu gue ingat, “anjeeeng ini gimana cara mainnya?! Ribet amat, mana kalo nge-posting tulisannya dibatesin!”

Dahi gue seringkali mengernyit, mata gue seringkali menyipit tiap kali buka akun twitter sendiri. Ada yang namanya, retweet, ada yang namanya, retweet sambil berkomentar, dan timeline gue isinya bacotan semua! Enggak ada, tuh, gue liat gambar-gambar atau video berhamburan di timeline (kalau enggak salah, fitur twitter dulu belum se-wah sekarang, dimana lo bisa post gift, foto, dan video CMIIW)

Tapi lambat laun, gue menemukan korelasi antara timeline gue yang isinya bacotan semua, dengan tagline Twitter sendiri, wich is kita disuruh untuk ‘bercuit’, iyee bener, lo tau cuitan burung, kan? “Ciiuuiittt”–itumah catcalling! Peace para penganut feminisme garis keras, hehehe~

Jadi ya, memang, Twitter dibuat untuk kita nge-bacot, doang. Tumpahin apa yang lo pengen tulis, bercuit-ria lah.

Dan wah–berita baiknya, gue mulai nikmatin yang namanya main Twitter. Gue mulai nikmatin yang namanya baca tweetnya Raditya Dika, Arief Muhaammad, Shitlicious, dan gue pernah gedeg banget sama orang-orang (followers gue/temen-temen gue) yang hobi banget nge-retweet tweetnya Dwitasaridwita… itu, ya, sumpah ngeselin pake banget!

Gue juga jadi tau, kenapa Twitter limits the words, karna Twitter secara intelektualisasi berbeda, i mean, Twitter nge-“demand” kita untuk berfikir sebelum mencuit, Twitter membuat batasan kata untuk penggunanya, nge-“force” kita supaya benar-benar bisa mengolah kata dalam batasan.

Baca Juga The Other Side; Masuk List Close Friend Instagram Ukhti yang Melepas Hijab dan Hanya Memakai Tanktop

Zaman pun berubah, banyak pengguna Facebook yang notabene-nya anak-anak muda, melakukan “eksodus” ke Twitter. Paradigma kultur populer bergerak secara teratur, enggak sporadis, seperti halnya kalau kita flashback ke belakang, mungkin kurang lebih urutannya bakal begini, Yahoo Messenger>Friendster>Facebook>Twitter

Balik Lagi ke Twitter

Gue pernah hiatus di medio 2016 secara kaffah, secara total. Bukan karna alasan, tapi temen-temen gue juga sudah mulai menghilang satu per satu. Di waktu itu, twitter sudah enggak asik lagi buat gue.

Tapi gue juga pernah mutusin buat balik ke twitter, gue buat banyak akun, masing-masing tahun, gue buat satu. Tapi gue cuman singgah, karna ya gitu, kesepian di timeline masih menjadi pertimbangan besar buat gue enggak balik ke Twitter.

Besides, ada juga temen-temen gue yang stay di Twitter, they are standing alone! Gue sering nanya, gimana Twitter? Jawab mereka, “udah sepi, enggak se-rame, dulu.” Lalu kita berdua membagi kesedihan bersama.

Di sela-sela waktu yang berselang. Kehadiran platform media sosial baru terus bermunculan dimana-mana. Udah macem-macem bentuknya. Dan mungkin yang paling mencuri perhatian adalah Instagram.

Gue kebetulan juga main instagram, dan gue enggak bakal banyak cerita banyak soal ini platform. Walaupun, makin kesini, instagram memang kerap “menghajar” mental, instagram makin kesini, kerap menghadirkan narasi komparatif di kepala kita masing-masing. Tapi ya sudah, semua kembali pada masing-masing insan.

Baca Juga Mengenai Déjà Vu dan Saya Membencinya

Nah, finally, tahun ini, temen-temen gue, sudah pada balik lagi ke Twitter, (ini gue enggak tau gue yang telat apa gimana), tapi, gue juga ngeliat ada geliat baru yang hidup didalam sana. Geliat yang gue maksud adalah, generasi baru para pengguna twitter.

Anak-anak sekolah yang kayak gue dulu, mereka membanjiri Twitter dengan khazanah baru yang sesuai zaman mereka sendiri. Generasi yang sering dicibir sebagai generasi instan. Generasi millenial!

Gue sempet keluyuran ngeliat gimana dinamika perkembangan mereka. Dan gue menemukan sesuatu. Sesuatu yang buat gue penting.

Apakah itu? Apakah itu harta karun One Piece?–goblok!

Jadi gue menemukan sebuah klasifikasi tertentu. Sebuah komparasi antara, “mereka” yang bermain Twitter dan “mereka” yang main Instagram. Gue sempat ngeliat, ada sebuah retweet-an yang muncul di timeline gue. Jadi gue menemukan sebuah klasifikasi tertentu.

Ada seorang anak SMA yang menganggap pengguna instagram sebagai orang-orang yang enggak cozy, norak, dan enggak cerdas.

Gue yang main instagram agak kesindir juga sebenarnya.

Terus gue ngeliat lagi, gimana “mereka” menganggap pengguna instagram yang coba buat akun Twitter, enggak akan bertahan lama, karna “kedangkalan” dan “keterbelakangan”  pengetahuannya guna memahami essensi dari Twitter sendiri.

Baca Juga: Thread Samparrrrr Si Predator Seksual dan #MalangDaruratPredator: Betul, Buka Saja Identitas Para Penjahat Kelamin ke Publik!

The thing is, apakah “mereka” salah? Well, to be fucking honest, “mereka” enggak sepenuhnya salah.

Karna apa? Karna ini cuman perkara paradigma yang berjalan. Sama halnya ketika dulu, gue dan banyak orang, pengguna Twitter menganggap masa lalu kita sebagai pengguna Facebook adalah “aib” karna alay. Singkat kata, klasifikasi tertentu, memang akan selalu ada seiring masuknya “gerbong” generasi baru yang bermunculan.

Oh–dan terakhir. Twitter, sejauh ini memang tempat yang terbaik untuk banyak hal, satu contoh konkret adalah; MENJAGA HUMOR.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.