Gue Menemukan Esensi dari Sensasi Menuju Pernikahan, Yaitu; Sunat!

Gue Menemukan Esensi dari Sensasi Menuju Pernikahan, Yaitu; Sunat

Gue Menemukan Esensi dari Sensasi Menuju Pernikahan, Yaitu; Sunat!

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Selain buat kesehatan, sunat juga merupakan sebuah kewajiban di dalam sebuah agama.

Thexandria.com – Tulisan ini sebenarnya khusus buat cowok, tapi kalau ada cewek yang kebetulan juga baca, ya silahkan aja.

The first thing yang harus dipahamin adalah, bisa dibilang gue sebetulnya kurang legitimate buat nulis soal pernikahan. Karna apa? Gue gak punya pacar dan gue gak lagi kepingin nikah. Titik.

Therefore, disini yang gue bahas adalah perihal “sensasinya”, perasaan yang gue yakin banget dirasakan oleh cowok-cowok yang berusia 21 tahun ke atas. Soal tekanan dan hasrat untuk menikah, kolaborasi dari keduanya.

Tulisan ini menitikberatkan pada pra-nikah, bukan pada saat sudah menikah. Dan kalau lo mengartikan judul gue secara polos dan harfiah? Gue saranin mending lo cabut ke situs porno dengan bermodalkan VPN, karna disini gak bakal bahas per-titit-an dewasa ataupun selangkangan.

Baca Juga Budak Cinta, Nasibmu Kini

Oke lets we start.

Sebelumnya, kita musti tarik latar belakang waktu jauh ke belakang. Ke masa-masa bocil (red:bocah kecil). Lebih tepatnya ke era putih merah (SD), waktu dimana segalanya dipenuhi oleh bermain bareng teman, musuh-musuhan, suka-sukaan karna di cie-cie-in, dan bersama-sama takut sama matematika.

Dan ketika sudah memasuki periode kelas 4, 5, 6. Maka akan ada suatu fenomena baru dalam hidup lo, ketika diantara temen-temen lo ada yang sudah sunat. Sunat yang kita tau adalah, dipotongnya “belalai” titit. Dari pengertian sunat dan lo masih bocil, bisa dibayangkan gimana otak anak SD mencerna perihal sunat, yaitu sebuah kiamat.

Akan ada saatnya pikiran lo berkecamuk, memikirkan apakah lo harus sunat, atau gak. Lalu dikemudian hari, lo mendapatkan jawaban kalau gak ada pilihan buat gak sunat. Yang ada hanyalah, lo harus sunat. Titik.

Selain buat kesehatan, sunat juga merupakan sebuah kewajiban di dalam sebuah agama.

Di luar sekolah, lo bakal mendapat tekanan dan rayuan. Tekanan mulai dari, kalau lo gak sunat? Titit lo nanti bakal alot, dan nanti ketika lo mau sunat, lo bakal di sunat pakai kapak.

Sampai rayuan-rayuan seperti kalau lo mau sunat? Nanti bakal dibelikan handphone, playstation, sampai di ajak liburan keluar kota.

Ada juga yang merayu dengan rayuan klasik, “sunat itu gak sakit, rasanya cuma kayak digigit semut.”

Ini yang sampai sekarang menimbulkan keresahan buat gue, oke, di gigit semut itu gak terlalu sakit. Tapi masalahnya, gak ada yang bilang, “sunat itu gak sakit kok, rasanya cuma kayak digigit SATU semut.”, gak ada yang bilang soal jumlah semut yang gigit!

Bayangin kalau ternyata, maksud sebenarnya dari rayuan sialan itu, yang berupa analogi digigit semut. Ternyata dalam prakteknya, rasa sakit sunat seperti digigit satu koloni semut merah, titit lo, digigit ribuan semut! Mampus.

Baca Juga Di ‘Pluto’, Gue Sirna Sebelum Sempurna

Gue saranin dari sekarang, di era ini, bocil pun mampu menggunakan daya kritis nya dalam menyerap kalimat.

Jadi, kalau lo berencana menggunakan rayuan analogi digigit semut, buat membujuk anak lo ataupun keponakan lo, jangan lupa menyertakan keterangan jumlah semut yang gigit.

Di lingkungan sekolahpun, tekanan dan stigma bergulir seperti bola liar.

Satu sampai dua temen lo, mulai pamer kalau dia sudah sunat. Dan berdongeng kalau sunat itu beneran sakit banget. Dan hanya para jagoan atau superhero yang bisa melewati itu semua.

Tak jarang, ada yang sampai rela berbohong demi gak jadi bahan ejekan. Masalahnya, tekanan dari teman sebaya, “daya pukul” nya jauh lebih kuat dari lingkungan di rumah.

Ada temen gue, yang dulu waktu ke kantin bareng gue, mengelak kalau dia belum sunat. Di bersumpah kalau dia sudah sunat ketika liburan semester.

Gue yang yakin banget kalau dia bohong, ketika jam pulang sekolah, gue tanya, “cuy, liburan semester kemarin kan lo main sama gue mulu. Kapan lo sunatnya?”.

“Gue belum sunat, tadi gue bohong. Kalau gue ngaku gue sebenarnya belum disunat? Gue gak bakal diajakin main jadi power rangers lagi. Gue gak bisa jadi rangers biru lagi.”

“Kenapa gitu?”

“Power rangers kan pahlawan. Ngelawan monster-monster, dan power rangers pasti sudah pada sunat.”

Gue waktu itu mengangguk dan bergumam, ‘iya, ya, bener juga. Yang bisa jadi power rangers, cuma yang sudah disunat’.

Baca Juga Dilematika Ngomong ‘Lo-gue’ di Luar Jakarta

Tak sampai disitu, besoknya gue melihat temen gue, di jam istirahat, mengejar temen gue yang lain. Dia tetap jadi rangers biru, dan waktu itu sedang mengejar temen-temen gue yang jadi monsternya.

Gue juga menemukan fakta yang mencenangkan, bahwa, yang menjadi monster, adalah mereka yang belum sunat.

Temen-temen gue yang belum sunat, harus rela dan mau menjadi monster yang diperangi oleh power rangers (mereka yang sudah disunat).

Lo bisa bayangin, gimana stigma dan tekanan soal sudah atau belumnya elo disunat, berjalan secara sistematis!

Selain itu, gue juga punya temen, yang tiba-tiba mau disunat gara-gara ditolak cewek.

Dia kala itu, mengatakan cinta monyetnya melalu secarik kertas yang ia titip kepada teman dekat si cewek.

Keesokan harinya, dia mendapat balasan dari si cewek yang juga melalui secarik kertas.

‘Sorry, gue gak bisa jadi pacar lo. Karna kata anak-anak yang lain, lo bisa berubah jadi monster karna belum sunat’

Mampus! Fenomena cowok yang sudah disunat dengan yang belum, seakan seperti kebaikan melawan kejahatan.

Banyak alasan kenapa teman-teman gue akhirnya pada berani disunat. Mulai dari tekanan, ejekan, rayuan, rasa malu, atau karna emang berani aja.

Gue sendiri, sunat saat lulus dari SD. Gue lupa kenapa waktu itu, akhirnya gue berani dan mau disunat.

Baca Juga Sisi-Sisi Pengguna Aplikasi Kencan; Menyenangkan Yang Kadang Disalahartikan

Yang jelas, saat itu, kita semua menyadari, cepat atau lambat, cowok-cowok akan menghadapi suatu fase baru dalam hidup. Sunat adalah perihal wajib, yang pasti akan kita lalui, berbagai perasaan, stigma, hingga latar belakang alasan, menjadi kisah sendiri yang gak akan bisa dilupakan.

Sama halnya dengan sunat, menikah adalah suatu fase baru yang cepat atau lambat akan kita lalui.

Perasaan yang dirasakan, kurang lebih sama. Tekanan, rayuan, hasrat, ketidaksiapan, hingga perintah ajaran agama, acapkali menjadi gerbang dari pernikahan.

Realitas Menyebalkan dan Kesimpulan

Umur gue sekarang 23 tahun, banyak teman sebaya atau teman tongkrongan gue yang sudah pada menikah. Banyak juga yang belum, berbagai alasan mulai dari belum menemukan pasangan yang pas, finansial, hingga hasrat untuk berkomitmen urung timbul ke permukaan.

Terlepas dari semuanya, gue yakin, sama halnya dengan sunat, kita semua (khususnya cowok) sadar secara penuh. Sooner or later, we will get married. Tentu dengan catatan, Izrail belum bersilahturami menjemput jiwa kita pulang.

Namun lagi-lagi, ada kalanya, stigma menjadi sebuah pembenaran untuk hal-hal yang menurut gue, bodoh buat dilakukan.

Contohnya, banyak banget temen-temen gue, yang enggan datang ke nikahan teman, hanya karna belum memiliki pasangan yang serius yang bisa diajak pergi ke kondangan.

Oke, mungkin itu tendensius. Gue coba menelusuri dimana akar stigma negatif ini berawal. Dan gue menemukan, bahwa semuanya berasal dari seluruh elemen yang berkaitan dengan kita.

Ketika lo, sudah lulus kuliah dan sudah bekerja. Timbulah pertanyaan-pertanyaan yang bisa jadi serius bisa juga tidak.

‘Sudah nikah? Kapan nikah? Cepetanlah nikah! Nikah itu gak ribet kok! Sayang, aku telat 3 bulan, kamu harus nikahin aku’

Yang terakhir itu kewajiban.

Baca Juga Tumbang Bersama Kelam di Penghujung Malam

Sadar atau tidak, pertanyaan-pertanyaan seperti itu, sesungguhnya dapat menjadi sebuah tekanan psikologis.

Artinya, akan muncul sebuah gap. Sama halnya dengan contoh kasus power rangers vs monster era SD yang sudah gue ceritain di awal.

Timbulnya tekanan-tekanan sosial, sampai stigma yang diada-adakan, menimbulkan alasan bodoh yang tadi gue bilang, mengurungkan niat menghadiri acara pernikahan hanya karna belum memiliki pasangan.

Di Indonesia, khususnya dikalangan masyarakat urban. Pernikahan bukan lagi soal sekedar cinta belaka. Cinta tanpa logistik itu taik!

Komitmen tanpa saling trust itu fiktif belaka!

Lingkungan yang hectic dan berbagai sudut pandang mengenai pernikahan, dapat pula dijadikan pembenaran untuk wait and see.

Dan itu sah-sah saja.

Baca Juga Dialog Tertulis: Mengkalkulasi Gaya Hidup Dari Fisik yang Intens Pergi Ke Diskotek

Gue berkesimpulan, ketika telah dewasa, kita bakal dihadapkan dengan “sunat jilid II”. Yang sedikit membedakan adalah, di fase ini, akan ada sebuah penundaan-penundaan berdasarkan rasionalitas dan keadaan. Berkontemplasi adalah menu wajib di fase ini.

Selebihnya, tekanan dan stigma tak ubahnya menerbangkan kita kembali ke masa-masa “sunat jilid pertama”.

Kalau lo sebagai cowok berpikir, kita hanya “sunat” sekali seumur hidup? Lo salah besar, sensasi dan kepelikanya sesungguhnya akan datang kembali di usia dewasa.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.